My Judgemental Sisters

Hana Firya Putri Arimbi
Chapter #16

BAB 15

“Hai-hai. Ini nggak pa-pa gue jadi orang ketiga gini?”

Ilham dan Anggun yang posisinya duduk bersebelahan langsung melihat Bimo di depan mereka. Laki-laki itu tersenyum bingung sambil menyuapkan nasi goreng yang dia pesan. “Lo bukan orang ketiga. Lo satpam,” balas Ilham.

“Satpam-satpan. Emangnya kalian mau ada rencana macem-macem?”

Ilham langsung menendang kaki Bimo, membuat temannya mengaduh kesakitan. “A-awh! Sakit, Ham,” keluh Bimo sambil melihat Ilham dengan ekspresi kesal.

“Makanya kalo ngomong dipikir dulu.”

Bimo malah memutar bola mata malas sembari melanjutkan makannya. Anggun tidak bisa menahan senyum geli dan beralih melihat Ilham. “Gimana, Ham?”

Ilham langsung teringat dengan tujuan mereka bertemu. “A-ah, ya. Aku udah ngomong sama bunda … dan bunda mau bantuin ngomong juga ke adek-adek,” kata Ilham yang terlihat sangat senang. Anggun pun juga merasakan hal yang sama.

Bimo hanya melihat Ilham dan Anggun secara bergantian, tapi tidak bicara apa-apa.

“Aku seneng banget … aku harap dengan bantuan bunda kamu, Dewi sama Sinta bisa mulai menerima kemungkinan kalo kamu deket sama seseorang, ya,” ucap Anggun diikuti senyuman yang sangat manis, membuat Ilham menutup wajahnya karena salah tingkah.

“Ya elah, Ham. Kayak anak SMA baru jatuh cinta aja, lo.”

“Emang. Kenapa?” balas Ilham sambil memandang Bimo dengan sorot mata sebal.

“Hm. Gue doain semuanya lancar buat kalian—biar bisa go public dan gue dapet pajak jadian yang resmi,” ucap Ilham, kembali menyendokkan nasi goreng ke mulutnya.

“Oooh, berarti sekarang lo bayar sendiri, ya? Oke.”

Bimo langsung tersedak. “Uhuk-uhuk—Ham!”

Ilham menjulurkan lidah yang langsung dibalas senggolan oleh Anggun. “Ham … kamu iseng banget, sih,” katanya, “udah, Bim. Kamu makan aja yang tenang. Kita yang bayarin.”

“Nah, kayak cewek lo, dong. Baik hati dan tidak sombong—”

“Terus? Mau diterusin? Dan, Gun. Nggak usah. Biar aku aja yang bayar. Kan aku yang ngajak dia ke sini,” lanjtu Ilham sambil memegang tangan Anggun, membuat Bimo yang duduk di depan mereka kembali memutar bola mata malas.

“Gini banget nasib jomlo.”

><><><

Ratna baru menyelesaikan urusan di dapur, kemudian melihat ke pintu kamar Sinta yang tertutup. Putrinya belakangan ini jarang keluar—katanya sedang banyak tugas sekolah. Setelah sampai di rumah, Sinta belum keluar lagi sampai sekarang.

“Mungkin ini waktu yang pas juga. Mumpung Ilham belom pulang,” ucap Ratna sambil melipat celemek yang tadi dia pakai dan menyampirkannya di kursi.

Saat sudah berada di depan pintu kamar Sinta, Ratna mengetuk pelan. “Sinta? Bunda boleh masuk?” tanyanya.

Iya, Bun. Masuk aja.

Lihat selengkapnya