“Wah! Gue ikut seneng dengernya, Ham!”
Ilham sontak membulatkan matanya seraya menginjak kaki Bimo karena reaksi laki-laki itu sangat berlebihan. “Bim. Masih di kampus, astaga ….”
Bimo yang baru menyadari perbuatannya hanya bisa tersenyum malu. “Sorry-sorry. Namanya orang seneng, Ham,” kata laki-laki itu.
Namun, Ilham tidak bisa menyembunyikan senyumnya setelah itu. Karena jujur, dia juga sangat merasa senang. “Ya masih ada satu permasalahan lagi yang lagi gue pikirin, Bim … nyari waktu yang pas buat nemuin Anggun sama ketiga adek gue,” ucap Ilham.
“Nah, itu. Lo harus bener-bener ngerasa ‘sekarang waktu yang pas, nih’. Soalnya gue ngerasa banget kalo kalian udah ibaratnya, ya … dikasih lampu kuning alias harus hati-hati,” kata Bimo diakhiri tawa geli sembari memakan burgernya.
Ilham tertawa. “Hahaha … lampu kuning, nggak tuh.”
Pandangan Ilham kemudian turun ke meja ketika melihat ponselnya menyala. Laki-laki itu mengambilnya. Ternyata ada pesan masuk dari Anggun. Senyum di wajah Ilham kembali terukir.
Anggun
Haiii
Lagi apa, kamu?
Me
Lagi di kantin
Kamu?
Anggun
Udah di rumah, nih
Tadi diajak anak-anak nongkrong
Tapi males, hehehe
Me
Berarti lagi nyatai aja, dong
Anggun
*emoji ngangguk
Ilham langsung tertawa pelan setelah membaca balasan Anggun. Bimo sampai melihat ke tempat laki-laki itu, tapi Ilham tidak sadar kalau reaksinya berhasil mengundang perhatian.
Tau, deh yang lagi bucin, batin Ilham sambil geleng-geleng kepala.
Anggun
Makin ke sini aku makin degdegan, deh
Tiba-tiba jadi takut pas nanti akhirnya ketemu langsung sama keluarga kamu
Gimana, dong Haaam
Me
Aku juga lagi bingung
Enaknya kapan, ya?
Menurut kamu kapan?