My Judgemental Sisters

Hana Firya Putri Arimbi
Chapter #20

BAB 19

“Oke. Masih ada dua jam free, baru abis itu gue jemput Dewi sama Sinta.”

Kelas terakhir Ilham hari ini baru saja selesai dan laki-laki itu sudah terlihat berjalan cepat menuju ke area parkir. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar panggilan dari arah belakang.

“Ham!”

Ilham menoleh dan mendapati sosok Bimo yang sedang berlari menuju ke tempatnya. “Buru-buru banget, lo. Mau ke mana?” tanya laki-laki itu.

“Ketemu Anggun.”

“Wiiih, ikut, dong.”

Ilham mengerutkan kening. “Ngapain? Mau jadi nyamuk?”

“Enggak … emang lo mau ketemu berduaan aja? Ntar kalo ada yang liat, terus ngasih tau ke adek-adek lo, gimana?” tanya Bimo, “gimana, hayo??”

Ilham langsung terdiam. Bener juga, sih. Ya walau selama ini aman-aman aja karena gue juga ketemunya milih-milih tempat. Ilham kembali disadarkan karena Bimo menyenggol lengannya.

“Ck. Ya udah. Terus motor lo gimana?” tanya Ilham sambil melihat Bimo.

“Ya gak pa-pa di kampus. Gue juga nanti masih ada kelas, kok,” jawab Bimo yang sudah berjalan menuju ke pintu depan mobil Ilham.

Selama perjalann menuju ke tempat janjian dengan Anggun, Bimo mulai bicara. “Jadi … lo udah tau kapan mau nemuin Anggun ke keluarga lo secara langsung?”

“Makanya tujuan gue ketemu dia sekarang, mau ngebahas itu, Bim.”

“Emang harus cepet, Ham. Ntar adek lo keburu berubah pikiran.”

Ilham sontak menoleh. “Persis.”

“Hah?”

“Itu yang bikin gue bener-bener harus nentuin waktu. Karena Sinta udah ngancem kalo gue lama, dia bakal berubah pikiran,” kata Ilham, “lo tau sendiri kalo Sinta itu adek gue yang paling susah diluluhin.”

Bimo tertawa mendengarnya. “Masih lucu aja, lagi.”

“Nanti lo di sana pura-pura nggak ada aja, ya. Gue mau ngomong serius sama Anggun, soalnya,” ucap Ilham diikuti embusan napas berat.

“Selama ada makanan dan minuman di depan gue, bakalan anteng, kok,” balas Bimo yang langsung membuat Ilham memutar bola mata malas.

“Emang dasar, ya lo. Pinter banget nyari kesempatan minta ditraktir.”

><><><

Sinta sedang mengerjakan tugas kelompok bersama teman-temannya di ruang kelas. Mereka memutuskan mengerjakan di sana agar tidak perlu pergi ke rumah salah satu teman dan tugas bisa langsung diselesaikan juga.

“Oke. Pembagian tugasnya udah fix, ya.”

Sinta mengangguk sambil membereskan buku-bukunya. “Yang bawa laptop, dicek lagi. Ntar tiba-tiba nggak bisa dipake, lagi,” canda gadis itu.

“Yeee, aman, Sin.”

“Berarti ini udah boleh pulang??” tanya Sinta yang sudah berdiri.

“Iya. Udah, kok.”

Sinta melakukan high five kepada beberapa temannya sebelum keluar dari kelas. Di tangan kanannya, ponsel sudah menyala. Gadis itu memeriksa apakah ada pesan masuk dari Ilham, tapi ternyata belum.

Mungkin Kak Ilham masih di jalan, batinnya.

Sinta memutuskan untuk membeli jajanan di luar sekolah karena merasa lapar. Lagi pula mobil kakaknya memang belum terlihat di halaman sekolah. Terlihat ada beberapa murid sekolahnya yang juga sedang membeli jajan.

“Eh, Sin. Belom balik, lo?”

“Abis ngerjain tugas kelompok.”

Lihat selengkapnya