“Silakan duduk, Gun.”
Anggun mengangguk pelan saat Ilham menarik kursi dan mempersilakannya duduk. Perempuan itu sebelumnya sudah menyalami tangan Ratna lebih dulu. Ibu Ilham jelas terlihat sangat menyambut kedatangan Anggun.
Namun, sepertinya Anggun masih harus menghadapi tatapan bingung, kaget, serta penuh penilaian dari kedua adik Ilham—Dewi dan Sinta. Karena Bunga justru terlihat masih menyunggingkan senyum gembiranya sambil sesekali melihat Anggun.
Padahal sebelumnya Dewi sedang menikmati makanannya. Sinta juga beberapa kali sibuk memainkan ponsel. Namun, sekarang keduanya benar-benar fokus melihat Anggun yang sampai belum berani menyentuh makanan di depannya.
Ilham tersenyum geli. Untung saja ibunya lebih dulu menyadari situasi di meja itu dan bertindak cepat untuk mencairkan suasana. Ratna menoleh ke tempat Anggun duduk setelah menyuapi Bunga.
Ratna tersenyum penuh arti. “Jadi … gimana awalnya kalian bisa saling kenal? Karena yang bunda tau, Ilham ini emang banyak yang naksir, sih—”
“B-bunda ….” Ilham memotong cepat sambil membulatkan mata.
Namun, Anggun malah tertawa geli sambil menutupi mulutnya. Gerakan singkat itu berhasil tertangkap oleh Dewi dan Sinta yang tiba-tiba terpaku saat melihatnya. Dewi sendiri langsung teringat dengan saat pertama bertemu dengan Anggun.
“—namanya Kak Anggun. Orangnya bener-bener baik dan cantik kayak namanya—”
Anggun akhirnya memberanikan diri untuk melihat Dewi dan Sinta. “Euhm … kali ini kita ulang perkenalannya, ya? Namaku Anggun … salam kenal,” kata perempuan itu sambil tersenyum kepada keduanya.
Setelah itu Anggun beralih melihat Ratna. “Aku sama Ilham ketemu pas acara kampus, tante. Nggak sengaja juga, sih … kenal gitu aja, terus lama-lama … deket kayak sekarang,” ucap Anggun malu-malu, sedangkan Ilham hanya tersenyum geli sambil menggaruk tengkuknya.
“Tapi kamu tau kalo Ilham itu terkenal banyak yang naksir dan punya adek-adek yang ….” Ratna sengaja menggantung kalimatnya, tapi berhasil memunculkan reaksi dari Dewi dan Sinta, sedangkan Ilham yang bisa menutupi wajahnya karena malu.
“Bunda … kenapa itu terus yang dibahas, sih?? Anggun juga nggak kalah terkenal … cantik gini, pasti banyak yang su—” Ucapan Ilham terhenti karena Anggun tiba-tiba mencubit lengannya.
Ilham langsung melihat Anggun memelototinya. “Mau dilanjutin?”
“A-ampun ….”
Dewi dan Sinta langsung saling pandang saat melihatnya. Berbeda dengan Bunga yang tiba-tiba tertawa. “Kak Ilham lucu bangeeet!” katanya.
Ratna juga tidak bisa menahan senyum gelinya melihat mereka berdua. Cocok.
Anggun segera menyadari perbuatannya segera menjauhkan tangannya dan melihat keempat anggota keluarga Ilham. Pandangannya lagi-lagi terhenti di tempat Dewi dan Sinta. Anggun tiba-tiba melakukan sesuatu yang berhasil mengejutkan kelima orang di meja itu.
Anggun menundukkan kepalanya, meminta maaf. “Dew, Sin. Aku bener-bener minta maaf sama kalian,” kata perempuan itu, “karena pertemuan kita waktu itu … semuanya terjadi bukan sepenuhnya kebetulan. Itu … emang direncanakan.”
Dewi dan Sinta kembali menunjukkan keterkejutannya. Anggun sendiri langsung tidak berani mengangkat wajah karena takut melihat reaksi kedua adik Ilham. Namun, perempuan itu masih melanjutkan ucapannya.
“Aku ngelakuin itu semua karena aku bener-bener mau kenal sama kalian. Aku sadar kalo hubungan ini nggak bisa terus-terusan berjalan sembunyi-sembunyi, makanya aku mau coba kenal sama kalian walau jujur … mungkin caranya salah atau kalian nganggep ini semua permainan.