My Man is SUPRAMAN

TUDI NURYANTO
Chapter #1

BAB 1: KOS SULTAN



BAB 1: KOS SULTAN

Ada satu jenis kesalahan yang tidak bisa kamu tarik kembali. Bukan jenis kesalahan remeh macam salah kirim pesan memalukan ke grup keluarga, yang hanya akan membuatmu menanggung malu selama lima menit sebelum tertimbun stiker. Bukan juga kesalahan tingkat menengah seperti nekat jatuh cinta pada orang yang salah, atau memutuskan resign dari pekerjaan di saat tabungan di rekening hanya cukup untuk menyambung napas sebulan.

Ini adalah jenis kesalahan yang jauh berbeda. Kesalahan yang memiliki skala destruktif begitu epik, di mana satu kali saja kamu melakukannya, seluruh semesta seolah ikut mendengarnya dan seketika memutuskan untuk tidak akan pernah memaafkanmu.

Namun, sebelum semesta menjatuhkan hukuman telaknya, mari kita mundur sedikit ke beberapa jam yang lalu.

Jakarta hari ini terasa lebih gelap. Awan hitam pekat mulai berkumpul dilangit mengepung kota ini. Entah kejadian apa yang akan terjadi. Mungkin saja fenomena ini adalah pertanda untuk memperingatkan Maman tentang sesuatu yang akan terjadi. Atau—memberitahu Maman kalau ada sesuatu yang akan mengubah hidupnya hari ini. Mungkin.

Di tengah hiruk-pikuk klakson yang memekakkan telinga dan lautan kendaraan yang merayap lambat bak siput, seorang pria berdiri dengan napas tersengal-sengal di depan sebuah pagar besi hitam yang menjulang tinggi. Keringat sebesar biji jagung meluncur bebas dari pelipisnya, membasahi kerah kemeja kerjanya yang sudah lecek tak karuan.

Di sampingnya, terparkir sebuah motor Supra keluaran lama berwarna merah dan biru. Motor kesayangannya itu kini tampak begitu merana. Jok belakangnya amblas oleh beban dua koper besar berbahan kain kanvas yang ritsletingnya hampir jebol, ditambah satu kardus mi instan yang diikat kencang. Tumpukan barang rongsokan itu menjadi saksi bisu perpindahan hidupnya yang mendadak, tragis, dan menyedihkan.

"Jadi ini tempatnya? Wah gila, rumah sultan nih, gede bener," gumam pria itu pada dirinya sendiri, menyeka keringat di dahi dengan punggung tangannya.

Pria itu bernama Maman Suparman. Usianya dua puluh tujuh tahun, dengan perawakan sedang dan wajah yang sebenarnya cukup enak dipandang. Hanya saja, ketampanan standar itu sering kali teranulir oleh bingkai kacamata minusnya dan ekspresi wajahnya yang permanen terlihat lelah digilas rutinitas ibukota. Sejak kecil Maman selalu bangga dengan namanya karena mirip pahlawan komik, bahkan ia sengaja mengoleksi barang berwarna merah biru termasuk motornya. Namun hari ini, ia sama sekali tidak merasa seperti pahlawan. Ia baru saja mengalami nasib sial.

Kos lamanya di daerah Mampang yang sempit bak kotak sepatu, digusur paksa begitu saja karena sang pemilik tanah tiba-tiba ingin mengubah lahan tersebut menjadi supermarket waralaba. Pemberitahuannya sangat tidak manusiawi: hanya satu minggu untuk berkemas dan angkat kaki.

Dalam kondisi panik, kurang tidur, dan dikejar tenggat waktu pekerjaan kantor yang menumpuk, Maman berselancar di internet dan menemukan iklan kos yang ditawarkan oleh seorang agen bernama Ibu Siska. Harganya masuk akal, meski lokasinya agak menjorok ke dalam perumahan elit yang sepi dan lumayan jauh dari kantornya di kawasan Sudirman. Namun, foto-foto interiornya yang kelewat mewah membuat logika Maman tumpul sesaat. Tanpa survei, ia langsung mentransfer uang sewa untuk enam bulan di muka demi mendapatkan diskon yang dijanjikan, menguras hampir seluruh isi tabungannya.

Maman mendekat ke dinding pagar, mencari bel interkom, lalu menekannya. Suara dengungan elektronik terdengar samar dari dalam, tapi tidak ada jawaban. Rumah sebesar ini tidak memiliki satpam? Ia membaca kembali pesan dari sang agen: ‘Mas Maman kalau mau pindahan sekarang, nanti kuncinya saya kirimkan via kurir ya. Saya belum sempat ke sana hari ini.’.

Dengan sisa tenaga di lengannya, Maman memarkirkan motornya di halaman. Halaman rumah itu luar biasa luas, ditumbuhi rumput jepang yang rapi namun sedikit liar di sudut-sudutnya, menandakan tukang kebun mungkin sudah lama tidak datang. Bangunan utama di hadapannya adalah sebuah rumah dua lantai bergaya minimalis modern dengan dominasi warna putih dan abu-abu. Terlalu besar, terlalu megah, dan terlalu angkuh untuk disebut kos-kosan.

Lihat selengkapnya