
BAB 2: FLASHDISK TERLARANG
Hanya butuh satu ketukan ganda jari telunjuk di atas touchpad laptop untuk mengubah takdir seseorang secara permanen.
Layar laptop Maman berkedip, mendeteksi perangkat baru. Maman, yang masih duduk bersila di atas lantai marmer ruang tamu yang dingin, menaruh laptopnya di atas salah satu koper besarnya yang belum dibongkar. Cahaya kebiruan dari layar memantul di kacamata tebalnya, menyoroti flashdisk perak dengan gantungan kelinci kusam yang kini tertancap pasrah di port USB. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ada sensasi mendebarkan—campuran antara rasa bersalah karena melanggar privasi, dan rasa penasaran yang teramat sangat.
Maman segera membuka file explorer.
Alisnya bertaut. Isinya kosong. Tidak ada deretan folder lagu bajakan, tidak ada draf skripsi, apalagi laporan keuangan perusahaan. Hanya ada satu folder tunggal tanpa nama, yang hanya ditandai dengan sebuah titik.
Sesuatu di dalam benak Maman berteriak agar ia mencabut flashdisk itu sekarang juga. Sesuatu yang disembunyikan serapat ini, tanpa nama, biasanya bukan hal yang pantas dilihat orang luar. Namun, jari telunjuknya mengkhianati nuraninya. Ia mengklik folder itu. Di dalamnya, terpampang satu buah file dokumen berekstensi .docx.
Judul file-nya: Cermin Pecah.
"Novel?" alis Maman terangkat, menggumam pada kesunyian ruangan. "Apa penghuni sebelumnya seorang penulis?"
Rasa penasaran akhirnya menendang telak sisa-sisa sopan santunnya. Maman berpikir, jika ini memang sebuah naskah novel, membacanya sedikit tidak akan menyakiti siapa pun. Justru ia sedang mengapresiasi karya orang tersebut. Tanpa ragu lagi, ia mengklik dua kali file itu.
Dokumen itu terbuka lebar di layarnya. Maman membetulkan letak kacamatanya, menyamankan posisi duduknya, dan mulai membaca paragraf pertama.
'Hari itu, hujan turun bukan untuk membasuh bumi, tapi untuk menyamarkan air mata Ibu. Aku melihatnya dari celah pintu yang sedikit terbuka. Ayah—pria yang selama ini kuanggap pahlawan, pria yang menggendongku saat kakiku lecet—sedang mengemasi kopernya. Di lehernya ada bekas lipstik yang bukan warna favorit Ibu. Merah menyala, warna pengkhianatan.'
>
Maman tertegun. Ia menarik napas pelan. Gaya bahasanya sangat sederhana, tidak mendayu-dayu dengan majas rumit, namun kalimatnya menusuk tepat ke ulu hati.
Maman mengira dia sedang menikmati sebuah mahakarya fiksi yang brilian. Dia membiarkan dirinya terhanyut. Padahal, jika saja ia lebih peka, ia akan sadar bahwa fiksi yang terlalu detail biasanya lahir dari darah dan air mata yang nyata. Sayangnya, empati Maman tertutup oleh rasa penasarannya sendiri.