My New Addiction

Steffi Adelin
Chapter #1

1

"Stop playing around and start a family!"

"Mi," ucapnya lemah. "Kenapa ke situ lagi, sih?"

Dia yakin apa yang dibilang maminya barusan adalah kalimat perintah terselubung setelah hampir 15 menit penuh merongrong kebiasaan malamnya yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Ternyata ini dia tujuan utama mengapa Arisa mengundang Tobi minum teh di sore hari yang damai ini. Setidaknya tadi damai, sebelum Arisa menyuruhnya menikah.

Ck! Menikah. Kata itu sudah dihapus dalam KBBHT, alias Kamus Besar Bahasa Hidup Tobias setelah dia dikecewakan, dikhianati, dan ditinggalkan. Menikah happily ever after itu hanya mitos. Siapa yang bahagia setelah menikah? Coba katakan padanya. Sahabatnya Indra memang sudah menikah dengan Wanda dan dikaruniai seorang bayi laki-laki montok ganteng menggemaskan, tapi setahun dua belum bisa dijadikan patokan kelanggengan dan kebahagiaan! Bisa saja di tahun ke tiga, ke empat, ke lima, atau kesekian prahara rumah tangga mendera dan akhirnya terjadi perpisahan.

Astaga, Tobi bukannya bermaksud mendoakan keburukan untuk sahabatnya, tapi masa depan siapa yang tahu?

Lalu satu orang lagi sahabatnya, Ares, sepertinya akan melepas masa lajang mengikuti jejak Indra dan menikah dengan gadis yang benar-benar bukan selera Ares. Man! Dita seperti anak baru menetas kemarin sore dan Ares jatuh cinta padanya. Sungguh, Tobi benar-benar bingung bagaimana ceritanya chef pastri itu berubah 180 derajat.

Sedangkan pernikahan papi dan maminya ... terlalu banyak disusupi agenda politik dan dinasti perusahaan. Tidak ada cinta di sana. Tobi tahu benar itu.

"Kamu pikir hati Mami tenang setiap mendapatkan laporan kamu di bar ini, di pub itu, lalu menghabiskan malam dengan perempuan murahan mana saja? Penerus Tiga Farma, perusahaan multinasional, masa kelakuannya sangat tidak mencerminkan seorang pemimpin? Kamu itu lebih mirip kucing garong, Bi!"

Tautan alis Arisa yang hampir menyatu serta napasnya yang terengah-engah setelah memuntahkan isi kepalanya membuat Tobi sedikit menyesal telah menunjukkan keberatannya. Seharusnya dia diam saja. Maminya bisa tidak sadar mengomeli dirinya sampai berjam-jam kalau tidak segera dihentikan.

"Mi," ucapnya lembut. Tobi bahkan mengambil tangan maminya yang lembut karena perawatan mahal di Korea Selatan dan meremasnya lembut. Biasanya dengan begini, hati Arisa mudah luluh setelahnya. "Mas yakin Mami hanya khawatirin Mas Bi. I'm trying, okay? Mungkin bukan dalam waktu dekat ini, tapi suatu saat Mas akan memenuhi permintaan Mami soal menikah. I promise you, Mi."

Lihat, raut wajah maminya mulai melunak. Tobi menahan diri untuk tidak tersenyum.

"Mami pegang kata-kata kamu, Mas."

Hati kecil Tobi langsung bersorak protes. Hei! Siapa yang lo tipu? Mami atau diri lo sendiri, Tobi?

***

Seteguk tequilla menyiram tenggorokannya dan menghasilkan sensasi hangat, kemudian sedikit terbakar. Tobi menunggu minuman itu bereaksi dan mengacaukan kesadarannya agar pembicaraan tadi di rumah maminya menguap, dan juga bayangan wanita yang bertahan di kepalanya dan memanggil namanya dengan suaranya yang mendayu juga ikut pergi. Untuk sementara.

"Nggak biasanya lo minum dengan wajah tertekuk. Ada masalah?"

Suara itu membuat Tobi mengalihkan pandangannya dari gelas kosong ke Nanda, bartender Barong Bar Hotel Kempinski.

"Biasa, masalah kantor," kilahnya sembarang. Tobi memberi kode Nanda untuk menambah satu shot lagi.

Nanda sedikit tidak setuju dengan perintah Tobi, sebab raut wajahnya mengatakan sebaliknya.

Lihat selengkapnya