Satu minggu setelah penjelasan bu Ranti, terpampang di papan pengumuman sesuatu yang membuat histeris hampir setengah warga sekolah.
Bagi siswa-siswi kelas XI yang berminat mengikuti Olimpiade MIPA tingkat Propinsi, mendampingi Alexandro Morgan untuk mewakili Sekolah. Silahkan mendaftarkan diri di sekretariat. Pendaftaran ditutup pada hari Sabtu, 7 Agustus 2021. Seleksi akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 14 Agustus 2021, jam 09.00 wib di Aula gedung serbaguna.
"Ini sungguh gila. Gadis-gadis liar itu pasti mendaftarkan diri bukan karena mereka yakin mereka mampu, tetapi karena siapa yang akan mereka dampingi." Anton bergumam di belakangku, Abe di sebelahku mengangguk setuju.
Aku berbalik, berjalan menjauh dari papan pengumuman. Tahu suasana hatiku sedang buruk, Abe dan Anton membiarkan aku pergi sendirian untuk menenangkan diri.
Aku berjalan ke GOR. Tempat itu adalah tempat favoritku saat aku butuh sendiri, karena tertutup dan sepi. Anak-anak biasanya lebih suka bermain di lapangan terbuka saat cuaca cerah, dari pada di gedung indoor.
Aku berjalan sendirian memasuki gedung olah raga yang terlihat kosong seperti biasa. Aku mengambil bola dan mulai bermain sendirian. Aku melampiaskan seluruh rasa kesalku pada lemparan-lemparan three point. Kubayangkan setiap bola yang ku lempar adalah kepala-kepala gadis-gadis genit yang suka berjajar di koridor sekolah, menungguku lewat. Aku bisa melambungkan mereka setinggi-tingginya, menghantamkannya pada papan pantul, sebelum membiarkan mereka meluncur jatuh melewati jaring hingga memantul-mantul di atas tanah sebelum menggelinding tak berguna.
Aku menggeram kesal di setiap lemparan. Suara tawa gadis-gadis manja di luar sana seolah membakar saraf-sarafku yang sudah sejak tadi tegang. Aku benar-benar tak habis pikir. Bisa-bisanya dewan guru memasang pengumuman seperti itu dengan mengumpankan namaku di dalamnya.
Sama seperti Anton dan Abe, aku pun tak yakin mereka yang mendaftarkan diri benar-benar mampu berada bawah tekanan dalam sebuah perlombaan. Lebih dari itu, aku sama sekali tidak yakin bisa bertahan lebih lama dari lima menit di ruangan lomba kalau harus menghadapi lawan bersama seorang gadis yang bisanya hanya bergelayut manja, atau berkedip-kedip genit saat melihat tampang oppa oppa di depannya. Hanya membayangkannya saja, aku sudah bergidik ngeri.
Aku melempar bola ke sembarang arah untuk meluapkan rasa kesalku. Bola berputar di udara, mengarah keluar lapangan, menyasar seseorang yang sama sekali bukan sasaranku.
Aku membelalak kaget. Sejak kapan gadis itu berada di sana, duduk manis dengan kepala menunduk membaca buku. Bola meluncur seperti peluru ke arah Nana yang sama sekali tidak menoleh.
"Naaaa..!" Aku berteriak, walau tahu aku terlambat. Nana mendongak, tepat saat bola siap menghantam kepalanya. Aku membelalak ngeri. Nafasku terhenti.
Seolah reflek, tangan Nana bergerak cepat menangkap bola dengan kedua tangannya sebelum kenghantam wajah. Buku di pangkuannya terjatuh.
Aku masih terpaku di tempatku, menatap antara lega dan heran. Lega karena bola sialan itu tidak mencelakai Nana, tetapi cukup heran dengan kecepatan yang dimilikinya.
Nana menurunkan bola dalam genggamannya. Dia menatapku yang memucat di tengah lapangan, masih terlalu bingung untuk bisa meminta maaf. Nana berdiri, mengabaikan bukunya yang tergeletak di ubin dingin. Kakinya melangkah menuruni dua anak tangga tribun dan berjalan ke arahku.
"Kenapa kau melemparku?" tanyanya datar.
Aku ingin meminta maaf, tapi tenggorokanku seolah tersumbat. Suaraku tidak bisa keluar. Sebagai gantinya, aku malah menatapnya seperti orang tolol.
"Kau sengaja ingin mencelakaiku..."