My Real Espresso

Kandil Sukma Ayu
Chapter #10

Anak Yang Lain

Aku menggeliat bangun dari acara malas-malasanku. Sebenarnya mataku sudah terbuka sejak tadi, tapi aku memilih rebahan sambil bertukar pesan dengan Nana daripada keluar untuk sarapan. Aku keluar kamar setelah puas merayu Nana dan membuatnya menyumpahiku akan benar-benar jatuh cinta padanya. Dia tidak rahu saja aku memang sudah benar-benar jatuh cinta padanya.

Hari ini minggu. Ayah dan mama seharusnya tidak bekerja. Tetapi ayah biasanya pergi bermain golf dan mama pergi ke salon atau arisan. Karena bukan urusan pekerjaan, jadi mereka biasanya berangkat lebih santai.

Setelah mandi dan makan aku berjalan ke kamar ayah dan mama, bermaksud memberitahu mereka tentang kejuaraan Olimpiade yang aku ikuti. Karena waktu bangun tadi mama masih pergi jogging dan ayah mengurung diri di ruang kerjanya dengan segelas kopi dan roti.

"Jadi, wanita ja**ng itu kembali membawa anak gadisnya. Apa anak itu sudah menjadi pel***r seperti dirinya?" suara sinis mama terdengar dari balik pintu tepat saat aku mendekatinya. Aku membeku di depan pintu.

"Jangan menyebutnya seperti itu, Ma. Bagaimanapun dia tidak pernah mengganggu kehidupan kita," jawab ayah dengan suara tegang.

"Ya. Dia memang tidak mengganggu kehidupan kita. Tetapi dia membawa benih yang kau tanam di rahimnya. Apa yang dia inginkan sekarang? Menuntut pembiayaan sekolah anaknya lagi?" kata-kata mama semakin tajam.

"Sama sekali tidak. Dia bahkan tidak pernah ingin kembali ke kota ini, Ma." Ayah menjawab pelan. "Maria meninggal dunia. Dan Rosa adalah putri Maria satu-satunya. Rosa anak tunggal, Ma. Itu saja," lanjut ayah, masih dengan berbisik tegang.

Perlahan aku bergerak meninggalkan kamar ayah dan mama, kembali ke kamarku. Aku termenung di dalam kamar. Suara mama yang penuh amarah terngiang-ngiang di telingaku.

"Mas...." Bibi mengetuk pintu kamar.

Aku menghela nafas, berbalik dan membukanya.

"Boleh bibi masuk?" tanya bi Marni. Aku menatapnya heran, mengangguk lalu membuka pintu lebih lebar.

"Mas dengar pertengkaran mama sama ayah, ya?" tanya Bibi, menatapku iba.

"Maaf ya mas. Bukannya bibi mau ikut campur. Tapi lihat wajah mas ditekuk begitu, bibi kasihan." Bibi duduk di tepi ranjang, menepuk kasur di sebelahnya, memberi isyarat padku untuk duduk.

Aku menutup pintu, lalu duduk di sampingnya.

"Mas. Rumah tangga itu berat. Pasti ada ujian dan godaannya. Mama sama ayah itu sudah lama menikah. Sudah mampu melewati semua godaan-godaan yang ada. Jadi itu sudah biasa, Mas. Apalagi mama sama ayah itu orang kaya. Godaannya pasti jauh lebih besar di luar sana. Jadi mas kudu sabar ngadepinya. Jangan dimasukkan ke dalam hati. Biar orang tua yang akan mengatasi sendiri masalah mereka. Anak-anak tugasnya belajar dan jadikan pengalaman orang tua itu sebagai pelajaran juga biar di kedepannya nanti tidak salah berbuat." Bibi menasehatiku panjang, sembari tangannya mengelus-elus punggungku.

Aku hanya menunduk. Aku tahu setiap manusia pasti diberi cobaan untuk menjadikan orang itu lebih kuat. Tapi tetap saja aku penasaran dengan apa yang mama teriakkan.

"Sudah. Keluar sana. Main sama teman-temannya. Jangan terlalu dipikirkan."

Aku mendongak, menatap bi Marni. "Bi... Bibi kan ikut mama sudah sejak aku bayi, kan. Apa bibi tahu siapa anak itu?" tanyaku, tidak dapat menahan diri.

Bibi tersenyum. "Apa itu penting?"

Aku menggeleng pelan. "Aku hanya ingin tahu, Bi. Apa benar ayah punya anak lagi di luar sana?"

"Terus mau di apain?" tanya bibi.

Aku menggeleng. "Nggak diapa-apain, Bi. Cuma pingin tahu aja."

"Bener?"

Aku mengangguk lagi.

Bibi mendesah, lalu menggeleng. "Bibi nggak tahu, Mas."

Aku mengerutkan kening.

"Ayolah, Bi. Masa Al tidak boleh tahu kisah orang tua Al sendiri."

"Tidak ada baiknya buat mas tahu."

"Tentu saja baik. Bukankah anak yang dikatakan mama itu perempuan. Bagaimana kalau Al tanpa sengaja bertemu dia dan pacaran sama dia. Kan berarti Al sama dia saudara, Bi."

Bibi Marni melongo, kedua tangannya menutup mulutnya yang terbuka.

"Astaghfirulloh... Jangan lah mas."

"Ya makanya kasih tahu Al, Bi."

"Tapi bibi bener enggak tahu, Mas."

"Terus yang bibi tahunya apa?" tanyaku memaksa.

Bibi menarik nafas panjang sekali lagi, berpikir sebentar.

"Ya sudah. Tapi janji jangan diapa-apain. Berdosa, Mas."

"Enggak, Bi. Siapa sih yang mau apa-apain. Al kecewa, iya. Tapi Al tahu itu bukan urusan Al. Masa Bibi gak percaya sih sama Al."

Sekali lagi bi Marni menghela nafas panjang. "Tapi Bibi benar-benar nggak tahu yang sebenarnya ya." Bibi memperingatkan. "Yang Bibi tahu, dulu waktu mas baru masuk SD, ayah pernah membawa pulang wanita yang menggandeng anak perempuan kecil hampir seumuran Lucy. Bibi gak tahu itu siapa. Waktu itu mas lagi pergi sama mama ke mall. Mas minta beli sepatu yang bisa nyala buat sekolah. Yang ada di rumah waktu itu nenek Bella. Lalu Nenek Bella marah besar, ayah sama wanita itu di usir dari rumah."

"Jadi saat itu mama gak tahu siapa wanita itu?"

"Tahu."

Aku kembali mengerutkan kening.

"Sepertinya papa menyusul mama sama mas Al ke mall. Waktu itu mama pulang dengan menangis dan berteriak-teriak murka. Lalu papa mengejar dibelakang mama."

Lihat selengkapnya