My Real Espresso

Kandil Sukma Ayu
Chapter #16

Olimpiade Provinsi

Aku bangun pagi-pagi sekali dan langsung bersiap. Aku melihat mama meluncur menuruni tangga dengan sepatu di tangannya saat aku keluar kamar.

"Mam...." Aku memanggilnya, ingin meminta restu padanya karena aku akan berangkat lomba.

"Ya sayang, kau sudah akan berangkat?" Mama menatapku yang sudah rapi, tersenyum lebar.

"Hari ini aku mewakili sekolah untuk lomba Olimpiade. Sebenarnya aku berharap mama bisa menemani, tetapi aku yakin mama sedang sibuk. Jadi, doakan saja aku supaya sukses dalam lomba," jelasku.

Mama membelalak senang, kemudian memelukku dan menciumi pipiku.

"Oh, mama benar-benar minta maaf, Sayang. Ada pemotretan dengan gaun dari butik mama pagi ini dan ya, kau benar. Mama hari ini sangat sibuk. Semoga kau sukses dengan lombanya. Anak mama pasti jadi yang terhebat." Mama melepas pelukannya, menatapku bangga.

"Bye, Sayang. Mama mencintaimu." Dia tersenyum lebar seperti biasa, mengecup pipiku sekali lagi dan berlari ke meja makan untuk memberikan kecupan sekilasnya pada Lucy.

Tak apa lah dia tak begitu peduli. Dengan melihat mama tersenyum lebar saja aku sudah sangat bahagia.

Aku berjalan ke arah meja makan ketika ku lihat mama dan ayah berjalan dengan saling tunjuk, keluar dari meja makan menuju garasi.

"Sudah kuperingatkan kau! Aku sudah terlambat, tetapi aku akan membuat perhitungan denganmu dan dia nanti. Aku akan membuat perhitungan dengannya!" Bentak mama sambil berlari keluar, ayah mengejarnya.

"Aku tidak pergi kesana, Mama. Aku tidak pernah menemuinya!" teriak ayah saat mesin mobil mama menderum.

"Ada apa?" tanyaku, melihat Lucy yang membeku di kursinya. Dia menggeleng.

"Tidak tahu. Mama tiba-tiba memelotot marah dan berteriak-teriak tidak jelas pada ayah. Kasihan ayah. Dia tadi baru akan mengambil brownis ini. Siapa yang membawa ini?" tanya Lucy bingung.

Oh, tidak. Mama mengenali kotak browniesnya dan dia tahu siapa pemilik tokonya. Dia pasti mengira ayah yang membelinya sekaligus menemui Nana dan ibunya. Sial!

"Aku yang membawanya," kataku singkat.

Nafsu makanku langsung hilang begitu mendengar mama dan ayah ribut. Padahal aku baru saja merasa senang melihat senyum lebar mama masih menghiasi wajahnya. Ini semua gara-gara aku.

"Aku harus cepat-cepat tiba di sekolah. Hari ini aku lomba Olimpiade dan bu Ranti tidak ingin kami terlambat. Kau diantar Mang Ujang tidak masalah kan?" kataku datar. Semangatku hilang seketika.

"Mau lomba kok lemes begitu? Mana semangatnya?" tanya Lucy.

"Dibawa pergi sama mama," jawabku pelan.

Lucy berdiri dan memelukku. "Kau akan berhasil, Kak Al. Aku mendukungmu. Aku akan selalu mendoakanmu," katanya.

Aku memeluknya dan mengelus rambut cepaknya yang halus.

"Terima kasih," bisikku.

"Apa aku perlu membolos untuk menontonmu?" tanya Lucy iseng.

"Sama sekali tidak. Sekolah saja yang rajin dan jadilah sehebat kakakmu ini." Aku memelotot memperingatkan. Dia terbahak.

"Oke. Berangkatlah dan berjuanglah untukku. Aku akan selalu bangga padamu, Kak. Dan kau juga tahu, meskipun sangat sibuk, mama dan ayah juga pasti bangga padamu," katanya, melepas pelukannya dariku dan berjinjit mencium pipiku.

"Kau berangkat diantar Mang Ujang, oke?" kataku mengulangi.

Dia mengangguk dan tersenyum.

"Mang, tolong antarkan Lucy pagi ini. Aku harus segera tiba di sekolah karena lomba akan dilaksanakan pagi ini." Aku berpesan pada Mang Ujang sebelum berangkat.

Mendengarku berbicara, Bi Marni tergopoh-gopoh menghampiriku dari arah dapur sambil melap tangannya yang basah menggunakan handuk kecil. Dia memelukku sambil menangis sesenggukan.

"Sudahlah, Bi. Ini kan hanya lomba. Bukan mau di kirim ke Palestina. Aku pasti pulang. Doakan saja aku pulang membawa piala, ya." Aku balas memeluk bi Marni dengan lembut. Wanita gemuk ini selalu berhasil menghangatkan hatiku yang dingin saat aku merindukan pelukan mama.

"Iya, Mas. Bibi yakin mas menang. Mas kan hebat. Pintar, rajin. Semangat ya mas. Semangat buat Bibi sama Non Lucy," katanya serak, di antara isak tangis. Tangannya menggenggam lenganku erat, matanya merah sembab.

Aku kembali memeluknya sejenak sambil menepuk-nepuk punggungnya.

"Percayakan pada Al, Bi." kataku bangga.

Bi Marni melepas pelukannya, mengangguk-angguk yakin. Dia mengikutiku sampai mobil, tersenyum dan melambai bersama Lucy dan Mang Ujang saat aku meluncur pergi.

Aku sengaja memilih jalan memutar, sedikit lebih jauh dari jalan yang seharusnya ku lewati, agar bisa melihat toko Nana. Entahlah, tapi perasaanku tidak enak. Ada sesuatu yang berbisik memaksa di dalam sana, agar aku melewati toko Nana.

Dan firasatku benar. Tepat aku melewati toko Nana, aku melihat mobil mama di sana.

Aku berhenti di ujung jauh, menelepon Anton.

"Ya, Al." jawabnya.

"Di mana, kau?"

"Di jalan," katanya, setengah berteriak. "Ada apa?" tanyanya.

"Pergilah ke toko Nana."

"Nana?"

Lihat selengkapnya