My Real Espresso

Kandil Sukma Ayu
Chapter #27

Nana Vs Lucy

"Nak Alex, kau baik?"

Aku membuka mata, Ibu Nana berdiri di depanku, menatap cemas.

Aku memaksakan seulas senyum.

"Ya, bu. Saya baik," jawabku, segera merubah ekspresiku menjadi baik-baik saja.

"Jangan di paksakan kalau itu terlalu berat untukmu, Nak. Tak perlu mengkhawatirkan Nana. Ibu bisa mengatasinya." Wanita itu berjalan mendekat, menggenggam lenganku dengan lembut.

"Ini memang berat. Sangat berat, Bu. Tetapi yakinlah bahwa saya mampu. Saya akan berusaha mengatasinya," jelasku meyakinkan.

"Ibu tidak ingin kau tersiksa. Ibu tahu betul yang kau rasakan. Mencintai orang yang salah merupakan sebuah penyiksaan, dan itu sama sekali tidak mudah."

"Tidak, Bu. Cinta itu indah. Hanya saja, semua ini tergantung bagaimana cara kita mengemasnya. Saya akan mengemas cinta saya pada wadah yang pas untuk Nana, sehingga akan terlihat manis dan indah." Aku tidak tahu apa yang aku katakan. Kalimat bodoh itu muncul begitu saja dari bibirku.

Ibu Nana tersenyum, mengangguk. "Benar-benar pantas menjadi putra pemilik Balada Party Even," katanya, tersenyum tulus. Kali ini senyumnya benar-benar tulus dan terpancar sebuah kenyamanan dan cinta dari kedalaman matanya.

"Baiklah Nak Alex, aku harus melihat toko. Sudah lama tokoku tutup, sejak Nana terjatuh. Besok mungkin aku akan buka lagi, karena kasihan karyawanku. Bisa aku menitipkan Nana padamu kan?" Dia melanjutkan. Aku mengangguk yakin. Ingin berterima kasih padanya, tetapi lidahku serasa kelu.

"Kenapa ibu menutup toko?" Justru kalimat itu yang menggantikan deretan kalimat terima kasih yang sudah terbentuk di otakku.

"Tidak apa-apa. Tapi, mungkin kau perlu tahu. Sebenarnya ibumu mendatangiku dan mengatakan bahwa ini adalah peringatan pertama bagiku, kalau aku masih nekat mendekati ayahmu. Setelah dia pergi, Abe memberi kabar padaku Nana kecelakaan. Entah itu suatu kebetulan, atau bagaimana, aku tidak tahu."

Aku membelalak kaget. "Itu pasti Mama," gumamku.

Ibu Nana menggeleng. "Jangan membuat keputusan pada sesuatu yang belum jelas. Mungkin saja ibumu datang mengancam di waktu yang tidak tepat."

"Bu, kenapa ibu begitu naif. Sudah pasti mama yang menyerang Nana, sama seperti saat dia meminta orang untuk menyerang toko ibu dulu."

"Dari mana kau tahu?" tanya Ibu Nana, mengerutkan kening.

"Saya mengenal mama sejak bayi dan saya tahu mama orang seperti apa."

Ibu Nana menggeleng. "Jangan menarik kesimpulan tanpa bukti. Aku, tidak pernah berpikir mama mu senekat itu. Dan ingatlah satu hal, bahwa seburuk apa pun dia, ibu tetaplah ibu. Jangan pernah menuduhnya tanpa bukti."

Suaranya begitu tegas dan terkesan tidak mau di debat. Aku tidak ingin mempertaruhkan keberuntunganku berada di sini, jadi aku mengangguk.

"Boleh aku menelepon adikku agar kesini? Mungkin dia bisa membantu Nana jika Nana perlu ke kamar mandi." Alih-alih membantah, yang keluar dari bibirku justru pertanyaan konyol. Mengajak Lucy kesini, Itu petaka kedua bagiku hari ini. Oh, sial!

"Apakah adikmu tahu?" Ibu Nana berbisik. Aku segera menggeleng.

"Aku ingin membuat ikatan cinta di antara mereka dulu, sebelum mereka berdua mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Itu akan mengurangi shock diantara mereka." Aku balas berbisik, berusaha membuat alibi agar dia lebih mempercayaiku. Ibu Nana tersenyum lega dan mengangguk.

"Baiklah. Terima kasih," katanya, mengelus lenganku dengan sabar.

Aku melangkah ke dapur, sementara ibu Nana masuk ke kamar Nana untuk berpamitan. Saat aku keluar dari dapur setelah mencuci piring dan gelas Nana, ibu Nana melangkah keluar.

"Mobilnya dimasukkan saja setelah mobil ibu keluar, nak Alex," katanya. Aku mengangguk dan mengikutinya.

"Terima kasih tidak membenci kami. Aku tahu aku telah mengacau, tetapi ayahmu sepertimu. Dia penakluk."

Aku mengangkat alis.

"Tetapi itu dulu, sekarang dia sudah tua." Ibu Nana cepat-cepat menambahkan sambil tertawa lirih. Aku ikut tertawa.

"Jangan pernah menyalahkan dirimu, Bu. Seharusnya ayah bisa menjaga miliknya tetap di tempatnya." Aku membalas candanya.

"Haha... Ya. Dan ku harap kau juga bisa menjaga milikmu tetap di tempatnya, jangan sampai menyerang putriku, atau aku akan membunuhmu," pesannya dengan nada mengancam, walau wajahnya tersenyum.

"Aku berjanji. Percayakan saja itu padaku, bu." Aku balas tersenyum dan mengangguk meyakinkannya.

"Bagaimana aku bisa percaya dengan mudah setelah mendengar semua yang kau ceritakan padaku. Kalian remaja labil yang sangat berbahaya jika ditinggalkan berdua," gerutunya.

"Aku berjanji tidak akan membuat kesalahan kedua. Aku benar-benar kacau saat itu, Bu. Memaksa membunuh rasa cintaku sendiri saja sudah berat, apalagi di tambah Nana mengatakan perasaannya padaku. Itu menghancurkanku. Ku harap ibu bisa mengerti." Aku merasa sangat malu dan bersalah.

Ibu Nana kembali mengelus lenganku. "Ibu harap kau mampu bertahan. Ibu tahu. Sangat tahu dan sangat bisa merasakan apa yang kau rasakan. Tetapi kau masih mempunyai pilihan. Bangkit dengan tegar atau jatuh terpuruk oleh kubangan lukamu sendiri. Ibu harap kau mengambil pilihan yang pertama. Tidak mudah tentu saja, nak Alex. Ibu sangat memahami itu. Ibu bahkan akan sangat memaklumi jika kau justru memilih untuk pergi." Dia menatapku lembut, lebih ke arah kasihan dari pada memahami.

"Terima kasih, Bu. Aku yakin aku akan sanggup melaluinya. Aku sudah terbiasa tumbuh tanpa kasih sayang dan cinta. Jadi jangan khawatirkan aku."

Wanita itu menatapku sayu, matanya berkaca-kaca. Kemudian dia memelukku erat dan mengecup keningku. "Jaga adikmu," pesannya sebelum dia melangkah memasuki mobilnya.

Lihat selengkapnya