My Real Espresso

Kandil Sukma Ayu
Chapter #33

Lucy... Aku Tahu #32

Aku dan Lucy duduk berhadapan di sebuah cafe yang tidak terlalu ramai pengunjung. Aku menjemputnya sepulang dia berlatih basket dan langsung membawanya kemari.

"Ada apa sih Kak. Tumben-tumbenan kau mengajakku ke cafe tanpa aku memohon," desak Lucy.

"Aku ingin berbicara serius denganmu. Tetapi kuharap kau sudah mempersiapkan diri untuk yang terburuk," jelasku.

"Kau membuatku merinding." Dia menyeringai mengejek sambil mengaduk-aduk lattenya.

"Aku sedang tidak bermain-main, Lu. Aku harap kau benar-benar siap sebelum mendengar semua ini." Aku menatapnya serius.

Lucy mendengus kesal. "Baiklah baiklah." Dia menarik nafas panjang. "Aku siap untuk berita terburuknya," lanjutnya di buat-buat.

"Ini bukan soal aku, atau soal percintaan, atau apapun sinetron yang kau bayangkan. Ini soal rumah tangga orang tua kita. Soal masa lalu ayah." Aku memulai.

Bisa ku lihat tatapan mata Lucy berubah tegang.

"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanyanya. Aku mengangguk.

"Ku pikir seharusnya kau masih terlalu kecil untuk mengerti. Tetapi semoga kau bisa mengerti. Karena ini tidak bisa di simpan lebih lama lagi," jelasku.

"Aku akan mencobanya."

Aku mengambil nafas beberapa kali untuk memastikan aku yakin bahwa sudah saatnya Lucy tahu.

"Ku rasa aku benar-benar siap menerima kenyataan terburuk sekalipun," kata Lucy. Suaranya masih tetap tenang bahkan terkesan acuh, tetapi tatapannya tampak tegang.

"Baiklah. Kita awali dari saat kau masih balita. Aku masih berusia tujuh tahun waktu itu. Dan saat itu," aku menarik nafas panjang untuk meyakinkan diriku lagi. "Saat itu, seorang wanita datang menemui mama dan aku di sebuah mall, dengan membawa anak kecil." Aku menjelaskan perlahan, berharap Lucy bisa menangkap penjelasanku.

Lucy menahan nafas, menatapku, menunggu.

"Kau yakin ingin aku melanjutkannya?" tanyaku memastikan.

"Ya. Aku siap," jawabnya pelan.

"Dulu mama tidak seperti sekarang, Na. Mama sangat menyayangi kita. Tetapi karena wanita itu dan anaknya, mama berubah. Sejak pertemuan itu, mama tidak pernah lagi membawa kita jalan-jalan, hingga sekarang," jelasku.

Terlihat wajah shock Lucy, tapi dia mengangguk tenang. Lucy benar-benar gadis yang kuat.

"Aku tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi, kenapa mama berubah dan tidak peduli lagi pada segala hal kecuali pekerjaannya. Sampai beberapa hari sebelum Olimpiade lalu, waktu itu aku bermaksud mengetuk pintu kamar mama untuk mengabarkan bahwa aku kembali terpilih untuk mewakili sekolah. Dan aku mendengar ayah dan mama saling berteriak teredam, membicarakan seorang wanita yang membawa anak ayah. Anak ayah yang lain. Dan bahwa anak itu telah kembali ke kota ini bersama ibunya untuk mengusik kehidupan kita."

Lucy kembali mengangguk paham walau masih tetap diam dan memilih mendengarkan.

"Aku berusaha mencari-cari wanita yang mama maksud. Aku teringat kembali pada pertemuan di mall sepuluh tahun yang lalu, yang kemudian membawa perubahan besar pada mama. Gejolak kebencian membuncah di dadaku. Aku berniat mencarinya, dan mengusirnya dari sini kalau aku berhasil menemukannya." Aku melanjutkan.

Lucy tampak menghembuskan nafas panjang. Apa yang sebenarnya dia rasakan, aku tidka bisa membacanya dari raut wajahnya. Ekspresinya terlalu biasa. Aku menatapnya, menunggu adanya tanda-tanda lain melalui tatapan matanya.

"Sebenarnya aku sudah tahu tentang berita ini, Kak," jawab Lucy tenang setelah menyeruput lattenya.

Aku membelalak kaget mendengarnya. "Kau sudah tahu?" tanyaku.

Lucy mengangguk, menatapku.

"Kapan kau mengetahuinya?"

Dia masih diam, menatapku untuk waktu yang cukup lama. Aku tidak berani memaksanya. Mungkin Lucy sedang mengatur emosinya. Tetapi tatapan matanya padaku tampak tenang. Kemudian dia menarik nafas panjang sebelum berbicara.

"Aku tak sengaja mendengar ayah dan mama bertengkar waktu kau pergi menghilang untuk yang terakhir kali," jawabnya akhirnya.

"Kau tahu siapa wanita itu?" tanyaku cemas. Dia menggeleng. Mestinya aku tahu, Lucy tidak mungkin tahu siapa Nana. Karena sikap Lucy tampak biasa saja setiap kali bersama Nana.

"Apa kau berniat mencari wanita itu dan anak gadisnya?" tanyaku ragu-ragu.

Lucy mengangguk. "Aku ingin tahu," jawabnya singkat.

"Apa kau membenci mereka?" tanpa kusadari, ada nada khawatir di dalam suaraku.

"Tergantung. Tetapi untuk sementara ini aku tidak punya perasaan apapun tentang mereka selain penasaran. Tapi kenapa kau begitu peduli?" tanyanya.

"Tentu saja aku peduli. Kau adikku," desisku.

"Bukan. Kenapa kau begitu peduli aku membenci orang itu atau tidak," katanya. "Siapa orang itu sebenarnya? Kau sudah mengetahuinya kan?" lanjutnya.

Aku tidak bisa menjawab. Belum. Harus selangkah demi selangkah.

"Kau sudah menemukan orangnya, bukan?" tanya Lucy lagi.

Lihat selengkapnya