My Real Espresso

Kandil Sukma Ayu
Chapter #34

Ayah #33

POV. AYAH

Sebuah ketukan di pintu membuat pikiranku teralih dari tumpukan berkas di meja, yang harus ku teliti sebelum di tandatangani. Aku mendongak tepat ketika kepala Al menyembul dari balik pintu.

"Halo, Al. Tumben kau ke kantor ayah tanpa memberi kabar?" Aku menyambutnya dengan senyum lebar.

"Hai, Yah. Maafkan Al, tapi ini mendadak. Apa Al mengganggu?" dia bertanya sopan.

Anak laki-lakiku ini, sopan sekali. Padahal kami tidak pernah mengajarkannya sopan santun. Jangankan mengajarkan sopan santun, mendidiknya saja kami hampir tak pernah. Sejak kecil, tanggung jawab akan anak-anak telah dilimpahkan kepada bi Marni dan mang Ujang. Sementara kami, hanya sibuk mengumpulkan harta.

Aku beranjak berdiri, berjalan ke sofa tamu.

"Tidak, Nak. Ayah sedang senggang. Ada urusan penting?" Aku bertanya.

"Sangat penting, Ayah. Maafkan aku, tapi mungkin ini akan menyita banyak waktu Ayah. Apakah Ayah memiliki pertemuan dalam waktu dekat ini?"

Aku menggeleng. "Tidak. Ayah sedang senggang. Hanya perlu memeriksa tumpukan dokumen, tetapi kau jauh lebih penting dari dokumen-dokumen ayah. Duduklah."

Aku menunjuk sofa tamu, memberi isyarat kepada Al untuk duduk.

"Baiklah. Begini, Ayah. Tentang lomba kemarin, kami yang masuk dalam tiga besar akan di kirim ke Jepang untuk mengikuti pertukaran pelajar. Tetapi diantara kami berdua, hanya satu peserta yang akan di biayai oleh sponsor. Sedangkan satu peserta lainnya boleh berangkat dengan biaya sendiri, di biayai sekolah, atau tidak berangkat," Al memulai penjelasannya.

"Hmm, jadi... Apa kau terpilih untuk kegiatan luar biasa itu?" tanyaku bangga. Seperti biasa, aku yakin anak ku pasti akan menjadi yang nomor satu.

"Kami mengikuti seleksi untuk menentukan siapa yang terpilih, satu di antara dua."

"Dan...?" Aku menunggu hasilnya.

"Seleksinya minggu lalu. Tetapi aku tidak mengikutinya," jawab Al tenang.

"Tidak?" Aku membelalak kaget. Apa maksudnya dia tidak mengikuti seleksinya. "Apakah ada sesuatu yang lain?" Aku bertanya. Aku yakin Al memiliki berita lain di balik ini, sampai-sampai dia menemuiku di kantor.

"Nana, pasangan olimpiade ku adalah anak pemilik toko roti RosaNa Bakery. Toko itu memang sangat ramai dan laris, tapi ibunya tidak akan mampu membiayai Nana untuk pergi ke Jepang selama 10 hari meski itu hanya setengahnya," jelas Al, menatapku penuh harap. Aku seketika paham apa yang dia maksud. Dia ingin pergi bersama gadis itu, dengan biaya pribadi.

Gadis itu, tapi gadis itu, anak pemilik RosaNa cake and bakery. Itu berarti dia... anak ku. Sebenarnya aku sudah lama tahu Al berjuang bersama Nana, putri Rosa, putriku. Tetapi aku tidak menyangka mereka akan sejauh ini. Dan cukup bijaksanakah membiarkan Alex terlalu dekat dengan putri kandungku yang notabene adalah saudaranya. Bagaimana kalau Al jatuh cinta padanya. Bagaimana kalau mereka saling mencintai dan mulai menjalin hubungan dan berlanjut ke langkah yang lebih serius. Jepang selama sepuluh hari, kurasa sangat cukup untuk menumbuhkan benih-benih cinta di antara mereka, jika sampai saat ini itu belum terjadi.

Tidak tidak. Mereka tidak boleh terlalu dekat. Ini berbahaya. Al dan Nana tidak boleh saling jatuh cinta. Mereka terlarang. Hubungan mereka terlarang.

"Berapa biaya yang kau butuhkan, Nak?" tanyaku ragu-ragu.

"Ayah mau membiayaiku?" tanya Al, membelalak senang.

"Kalau tidak terlalu tinggi. Keuangan perusahaan ayah sedang kurang stabil, maafkan ayah, Al."

Aku mulai menyusun strategi, untuk mencegahnya berangkat.

"Untuk tiket pulang pergi saja? Aku punya tabungan untuk uang sakuku selama di sana, Yah."

"Bagaimana kalau, kau menunggu keuangan perusahaan ayah stabil, kemudian ayah akan memberangkatkanmu kesana bersama Anton dan Abe. Mungkin juga Lucy. Kau bisa mengajak adikmu sekalian. Pasti seru kan." Aku mencoba penawaran yang lebih asik.

"Tapi Ayah, aku kesana kali ini bukan untuk liburan. Aku belajar," protesnya.

Aku menarik diri dan bersandar ke sofa empuk yang ku duduki, mencari cara lain yang lebih masuk akal untuk mencegah Alex bepergian ke negri tirai bambu itu bersama Nana, putriku. Bukan aku membenci hubungan mereka, tidak. Aku hanya khawatir jika mereka memiliki perasaan yang terlalu dalam kemudian menjalin sebuah hubungan yang terlarang. Terlarang hanya bagi mereka berdua.

"Ayah...." Al menyadarkanku dari lamunan. Aku menarik nafas panjang, mengatur isi kepalaku yang kacau.

"Tidak mengapa kalau ayah tidak bisa membiayaiku. Mungkin aku bisa meminta mama untuk menolongku," jawab Al.

"Tidak, tidak. Tidak, Al. Jangan mamamu. Jangan. Baik, baiklah. Ayah akan memberimu uang tiketnya," sergahku panik. Bodohnya aku, kepanikan akan reaksi mamanya terhadap berita ini, membuatku lupa menjaga ekspresiku di depan Al.

Kulihat Al mengerutkan kening menatapku curiga. Aku segera mengubah ekspresiku menjadi biasa saja.

"Ada apa, Yah?" tanya Al curiga.

"Tidak, Nak. Tidak apa-apa. Kasihan mama jika kau meminta uang padanya. Dia akan mengomel juga tentang aku yang tidak bertanggung jawab kepada anak. Ah, sudahlah. Berapa yang kau butuhkan? Ayah akan menuliskan cek untukmu," kataku, berusaha tampak biasa saja, walau jelas-jelas aku tidak berhasil menyembunyikan nada kepanikan di dalam suaraku.

"Ayah," Al memanggil saat aku akan beranjak mengambil cek di meja kerjaku. Aku menoleh.

"Duduklah. Aku belum selesai," lanjutnya.

Aku kembali duduk dan menatapnya, menunggu. Sekarang apa lagi.

"Ayah. Sebenarnya selain ini, masih ada yang lebih penting yang ingin ku sampaikan kepada Ayah," jelasnya.

"Oh, ya?" aku bertanya ingin tahu.

"Yah," Dia memulai, ragu-ragu. "Sebenarnya..." kalimatnya menggantung.

"Katakanlah, Al. Ayah siap membantu."

Lihat selengkapnya