Siang itu, matahari yang terik menghiasi langit SMA Avendira Raya.
Hari ini merupakan hari-hari terakhir untuk para siswa dan siswi kelas XII sebelum mereka meninggalkan sekolah ini, karena sebentar lagi kelulusan akan tiba.
Reynand Elric Averleigh, cowok yang saat ini berusia 18 tahun. Kulitnya putih dengan visual wajah yang sangat tampan dan sedikit kebule-bulean menurut orang-orang, dan tinggi badan yang bisa dibilang semampai yaitu mencapai 180cm. Seorang yang pendiam tapi bukan berarti kalem, dan juga sedikit misterius.
Dari kejauhan, Reynand dapat melihat seorang gadis dari posisinya berdiri sekarang. Gadis itu tampak melangkah keluar dari kelasnya sambil tertawa bersama teman-temannya yang lain.
"Nala," gumam Reynand yang lalu berbalik badan, karena menyadari jika gadis yang barusan diperhatikannya tengah berjalan ke arahnya.
"Rey, gak balik lo?" tanya temannya dengan menepuk pundaknya, Arka.
Reynand menoleh mengetahui kedatangan dua temannya yang barusan mendekat padanya. "Gue mau ke perpus dulu tadinya," kata Reynand sedikit menyengir sembari menunjuk arah perpus di belakang tubuhnya.
"Lo ngapa si, semenjak ada anak baru itu setahun yang lalu. Perasaan lo jadi sering banget nongkrong di sini, padahal tadinya gue kira lo gak suka sama perpus karena terlalu asik sama dunia lo-ikan dan memasak," kata temannya yang satunya, Naufal.
"Terus lo berdua ngapain ada di sini?" Reynand bertanya balik.
"Yee, kambing. Nyari lo, lah! Dicariin, ngilang aja kerjaannya," kata Arka.
"Udah waktunya pulang, pulang aja kali sana," kata Reynand.
"Ya udah biarin aja, kita balik duluan. Dia masih mau lihatin cewek itu kali, padahal kalau suka mah tinggal gas maju, bukan diem di tempat," kata Naufal.
Kelas Reynand dan dua temannya itu berada di lantai dua dan lumayan jauh dari sini, kebetulan saja dua temannya itu tadi lewat ke sini dan memang sekalian mencari Reynand.
Setelah temannya yang berlalu lalang darinya, Reynand mengedarkan pandangannya. Ternyata gadis yang tadi dilihatnya telah menghilang.
"Yang penting aku udah tau, kamu mau kuliah di mana. Aku akan ikutin ke mana kamu pergi, Nala," ucapnya lirih sambil tersenyum.
"Cepat atau lambat, itu gak masalah. Bisa lihat kamu dari kejauhan juga udah cukup menghibur hati aku," gumamnya tersenyum sendiri sejak tadi, kali ini dengan malu-malu.
Setelahnya wajahnya menjadi datar. Ia tersadar jika ini masih di area sekolah, takut ada yang mengira dirinya gila karena senyum-senyum sendiri.
Reynand hendak melangkah. "Selamat tinggal, perpustakaan yang selama setahun ini menjadi saksi aku bisa memandangi Nala," batinnya seraya memandangi perpustakaan itu, setelahnya melangkah pergi meninggalkan untuk hendak pulang.
Kelas Nala, yang jaraknya paling dekat dengan perpustakaan ini daripada kelas-kelas lain dan bahkan hampir di depannya persis. Tentu memudahkan Reynand untuk sekedar melihat gadis itu walau hanya dari kejauhan semata.
***
Malam harinya, Reynand berada di rumahnya. Rumahnya yang biasanya hanya diisi dirinya dan kedua adiknya, Revan dan Kyla. Kini, ada kakaknya yaitu Keenan dan juga sang istri Livia yang saat ini tengah menginap.
Reynand tengah asik menatapi ponselnya untuk melihat instagram seseorang, yang tak lain adalah seorang gadis bernama Nala yang sering kali diperhatikannya kala di sekolah semenjak setahun lalu.
"Lo berarti, habis ini mau pindah ke Jogja, kan?" tanya Keenan pada Reynand.
Reynand yang merasa ditanya pun menoleh. "Iya, kan gue kuliah di sana. Gimana gue gak pindah?" katanya.
"Terus, gimana sama Kyla? Itu anak gak mau gue ajakin pindah ke Bandung," kata Keenan.
Reynand tampak berpikir. "Revan?"
"Yakali mau ninggalin dia di sini sama Revan doang dan Bibi juga lainnya, yang ada itu anak gak terawasi. Lagi pula kasihan, Kyla masih kecil," kata Keenan.
"Harusnya ikut lo, lo yang udah punya rumah di Bandung. Ada Kak Livia juga, bisa jadi temen dia dan jadi kakak yang bener," kata Reynand.
"Iya sih, tapi masalahnya belum mau aja si Kyla. Mommy sama Daddy juga udah bilang kalau gak mungkin dalam waktu dekat bisa menetap lagi di Indonesia, pulang aja jarang," kata Keenan.
"Gak mungkin kan, dia ngikut gue ke Jogja? Kalau Revan sih, terserah dia udah mulai gede, lagi pula cowok," kata Reynand.
"Tetep aja, Revan juga baru 14 tahun, masih butuh dibimbing. Anak baru puber gitu," kata Keenan.
"Pacarnya dia banyak," kata Reynand.
"Itu lah, lo kakaknya, kapan?" Keenan malah menjadi bertanya.
Reynand beringsut dari tempatnya semula. "Maksudnya?" tanyanya bingung.
"Lo jomblo aja dari dulu, emang gak ada yang memikat di hati dan gak ada yang mau apa gimana?" ujar Keenan.
Reynand terdiam, ia kembali ke posisinya tadi dan menyandarkan lengannya ke pegangan sofa seperti tengah berpikir keras.