Besok lusanya...
Di sudut kota lain, tepatnya Jakarta. Nala tengah bersiap-siap, ia akan ke Jogja hari ini juga. Tak sendirian, melainkan diantar oleh kedua orang tua dan adiknya.
Dugaan Reynand salah, dia mengira Nala belum ke Jogja dan kemungkinan masih lama.
"Nala... kamu apa lagi yang kurang? Kenapa bolak-balik terus dari tadi? Bukannya kemarin semuanya udah dipastiin kalau gak ada lagi yang ketinggalan?" tanya Mamanya-Aleeya.
"Gapapa, Ma. Ada yang ketinggalan dikit hehe," kata Nala meringis karena Mamanya barusan menegurnya.
"Udah tau kamu punya anak cewek, Le. Ya gitu, kenapa sih? Gapapa lah," sahut Papanya-Haruvi.
"Ck, kalau kamu kan, sukanya manjain anak!" kata Aleeya pada suaminya.
"Udah belum, Kak? Aku udah siap, gak sabar mau ke Jogja," ucap Adiknya-Nasha dengan senang hati dan mata berbinar, tampak sudah siap untuk ikut mengantar sang kakak ke kota perantauannya nanti.
"Udah, Nash. Ayo kita berangkat! Kakak gak jadi ikut?" Nala menoleh sebelum melangkahkan kakinya-menatap kakaknya yang sejak tadi anteng duduk di ruang keluarga mereka dengan santainya.
"Gak, kakak kamu kan juga lagi sibuk kuliah. Nanti kapan-kapan aja Kakak ikut ke Jogja kalau Papa sama Mama ke sana jengukin kamu," kata Papanya.
"Di sana jangan pacaran," ucap Kakaknya-memperingati. Namun, tampak santai dan pelan.
"Iya-iya, pasti gak mau kesaing. Mentang-mentang baru putus sama Kak Charlize," ujar Nala.
"Sok tau," balas Nalev-Kakak Nala.
"Loh, sejak kapan kamu gak sama Charlize lagi, Lev?" Papanya terlihat heran.
"Papa malah gak tau," Nala sedikit mencibir.
"Iya, padahal Charlize udah lama gak main ke sini. Malah gak ngeuh. Udah yuk ah, kita berangkat," kata Aleeya pada suaminya.
"Nalev, Mama Papa sama adik-adik pergi dulu ya. Kamu baik-baik di rumah, gak usah ngelayab gak jelas sampai larut malem," ucap Aleeya pada anak pertamanya sebelum ia melangkah keluar rumahnya.
***
Sementara Reynand sendiri, sudah tengah sibuk mempersiapkan usaha budidaya ikan akuariumnya semenjak hari kemarin.
Selain menyukai masak-memasak perikanan dan bercita-cita menjadi chef yang terkenal, Reynand juga sangat senang memelihara berbagai jenis ikan. Terutama, ikan hias yang hidupnya di akuarium.
"Bang, yakin nih akuariumnya langsung segini di saat kita yang baru mau nyoba buat bangun usaha di sini?" tanya salah satu karyawan Reynand.
Reynand tampak memicingkan mata kala mendengarnya. "Lo pernah ikut gue pas di Jakarta, kan? Protes aja," ujarnya.
"Bukan gitu maksudnya Seno pasti, Rey. Maksudnya ini kita kan baru mulai yang di sini, takutnya nanti lo malah memperoleh kerugian gara-gara masih awal bulan usaha, udah langsung berasanya gede-gedean gini," ujar karyawan yang satunya.
Reynand memiliki dua karyawan di sini, laki-laki dan perempuan-Seno dan Resa yang dari semenjak hari kemarin juga telah membantunya mempersiapkan ini semua.
"Gue tau, gue udah pikirin itu. Kalau gak laku, ya udah. Gue bikin usaha gini, ya karena gue suka juga, bukan buat ngasilin duit semata, gak usah khawatir," kata Reynand.
"Oke lah, yang pecinta ikan," kata Seno yang lalu kembali fokus memperhatikan beberapa akuarium-takut masih ada kekurangan yang tidak mereka sadari.
"Gimana lo berdua juga, pulkam enak? Atau, enak di Jakarta?" tanya Reynand.
"Kalau gue sih, selama beberapa bulan kemarin kerja di restoran ortu lo, ya lumayan sih betah. Cuma kayaknya, gue lebih suka aja kerja yang ini, melihat ikan-ikan yang cantik," kata Resa.
"Yah, benar. Kalau di sini kerja capek gak kerasa karena lihat ikan-ikan cantik ini, beda sama jadi pelayan, Bang," sahut Seno.
Reynand mengangkat satu alisnya. "Jadi, kalian lebih betah sama gue, kan?" ujarnya.