Sore hari mulai gelap, karena jam sudah menunjukkan pukul 17.30.
Reynand tampak masih setia tiduran santai di atas tempat tidur dengan senyum lebar semenjak tadi-seolah tampak senang dan juga sesekali tersipu malu.
Dirinya sudah pulang ke rumah kontrakannya dari beberapa jam lalu, kebetulan hari ini iq hanya menyempatkan diri sebentar untuk ke outlet tempat usaha ikannya hingga jam istirahat siang tiba, setelah sqat pagi hari tadi dirinya mengantarkan pesanan ke kos Nala.
Kemudian di siang harinya, Reynand datang ke restoran milik orang tuanya untuk sebentar dirinya menambah pengalaman memasak bersama koki yang ada di sana.
Matanya sejak tadi sangat setia menatapi layar ponsel, dengan jemari yang tentu tengah mengetikkan sebuah pesan di sana.
Nala cantik: Aku free sih, lagi pula besok hari sabtu. Boleh-boleh aja.
Reynand tersenyum kala membacanya, ia lalu kembali mengetikkan pesan balasan.
"Akhirnya, gue berhasil ajakin Nala buat makan bareng malam ini," ucap Reynand senyum-senyum menatapi room chatnya dengan Nala di aplikasi whatsappnya.
"Gue gak pernah pacaran, gak pernah juga deket atau deketin cewek buat dijadiin pacar. Jadi gue gak jago dan gak ngerti gimana cara ngajakin cewek buat jalan?" Reynand bergumam. "Semoga gak aneh, karena baru ketemu tatap muka aja baru tadi."
***
Saat ini Reynand telah siap dengan dirinya yang sudah mandi tentunya-aroma harum sangat tercium dari tubuhnya, ia terlihat sudah sangat rapi dengan setelan khas anak muda. Kali ini ia akan pergi bersama Nala.
Reynand menatap cermin besar yang ada di hadapannya. "Baru tadi pagi ketemu, malam ini gue mau ketemu Nala lagi-dan... jemput dia? Pokoknya nanti, gue jangan sampai kelihatan aneh. Gue harus santai pas ketemu Nala. Jangan sampai grogi, bisa curiga nanti Nala kalau ternyata gue udah suka dia dari lama. Gak lucu kan, kalau misalnya gue dikira stalker dia selama ini? Atau obsesi, bisa-bisa dia ketakutan," ucapnya sembari memerhatikan dirinya sendiri.
"Udah ganteng kan gue? Ya kapan juga gue jelek," ucapnya sendiri dengan percaya diri.
Setelahnya, Reynand pun melangkah keluar dari kamarnya. Ia menuju pintu utama rumah, dengan sudah menggenggam kunci mobil.
***
Di kamar kosnya, Nala sudah hendak melangkah untuk keluar dari kamarnya itu.
Dirinya yang sudah siap untuk malam ini akan makan malam bersama Reynand, karena cowok itu yang mengajaknya.
"Gue gak boleh grogi pokoknya! Walaupun ini pertama kalinya gue jalan sama cowok. Jaga image, Nal! Kelihatan banget nanti kalau selama ini lo jomblo mulu. Ya gara-gara Papa sih!" ucap Nala pada dirinya sendiri.
"Oke. Tarik napass... buang," ucap Nala yang memperagakan tarik napas lalu membuangnya.
Ia kemudian mulai membuka kenop pintu kamarnya, melangkahkan dirinya untuk hendak turun ke lantai bawah.
"Sebelum itu, mari berdoa terlebih dahulu." Nala merapatnya kedua tangannya dan memejamkan matanya untuk berdoa sejenak.
Setelahnya, ia membuka mata dan membuang napas. Dirinya pun kembali melangkah untuk menuju ke area tangga setelah menutup pintu kamarnya tadi, kartu kamar itu sudah disimpannya di dalam tas kecil yang dibawanya tentunya.
"Kayaknya sih Reynand belum sampai. Baru kenal tadi, seriusan nih udah diajakin jalan? Walaupun cuma temen, tapi ini rada aneh gak sih?" gumam Nala sambil menuruni tangga kosnya untuk menuju ke lantai bawah.
Di luar gedung rumah kos ini, suara mesin mobil terdengar. Mobil yang pagi tadi juga datang ke sini. Siapa lagi? Mobil Reynand.
Reynand turun, ia sudah langsung dihadapkan dengan Nala yang keluar dari pintu gerbang.
"Astaga, dia ternyata udah sampai?" batin Nala yang lalu berjalan dengan cepat agar segera sampai ke depan sana-ke dekat Reynand.
Seorang satpam berjalan mengikuti Nala di belakangnya saat Nala hendak keluar dari area dalam. "Loh, ini bukannya Mas tukang paket yang tadi pagi, kan?" tanyanya melihat Reynand dan sebuah mobil yang tentu tadi pagi dilihatnya.
"Bapak kerja di sini 24 jam?" Reynand bertanya.
Satpam itu tampak sedikit melengos. "Ada shiftnya sih, cuma kebetulan aja ini seharian. Habis ini udah selesai kok, gantian sama teman tapi belum datang," jawabnya.
"Maaf, belum dijawab. Mba Nala, ini kan tukang paket yang tadi? Kok dateng lagi? Apa masih ada paket yang ketinggalan belum keikut dianterin pas tadi pagi?" satpam itu beralih bertanya pada Nala.
Nala menoleh ke satpam itu dan meringis. "Dia dulu satu SMA sama aku, Pak Dodi. Ini kita mau makan bareng aja kok, di restoran punya orang tuanya Reynand. Izin pergi dulu Pak, bilangin ke Pak Beben juga. Aku gak pulang malem-malem kok, Pak," katanya.
Reynand kembali menatap Nala. "Nala, udah?" tanyanya.
Nala mengangguk menatap Reynand. "Udah, kok," jawabnya.
"Ya udah, yuk. Masuk ke mobil aku," kata Reynand yang lalu kembali melangkah menuju ke arah pintu kanan mobil, sembari masih memerhatikan Nala untuk memastikan bahwa gadis itu mendengarkannya.
Dengan ragu, Nala pun membuka pintu sebelah kiri mobil bersamaan dengan Reynand yang juga membuka pintu sebelah kanan mobil.
Reynand menatap gadis itu yang kini sudah duduk di sampingnya, kemudian Nala pun memakai seat belt yang berada di sana. Sebenarnya, Reynand ingin sekali tadi membukakan pintu mobil untuk Nala. Namun, ia terlalu takut-takut jika akan aneh, takut Nala mengira yang tidak-tidak, masa iya baru kenal sudah begitu?
"Kita jalan, ya?" Reynand bertanya persetujuan Nala terlebih dahulu sebelum pada akhirnya melajukan mobilnya meninggalkan area rumah kos tempat tinggal Nala.
Sepanjang perjalanan, terasa sangat sunyi. Terdapat kecanggungan di antara mereka. Tentu saja itu tidak mengherankan, karena mereka saja bertemu dan saling mengenal baru tadi pagi. Bagaimana semua ini tidak terjadi?
"Duh, canggung banget ya? Gue gak pernah pdkt atau deket sama cewek, jadi bingung kan sekarang sama Nala," batin Reynand berbicara.
"Nala," panggil Reynand yang akhirnya mulai membuka suara, memecahkan keheningan di antara mereka.