My Soda Pop

Ropha Locera
Chapter #1

1. Rasa yang pernah ada

Pagi selalu datang lebih dulu di Kota Amuk. Bahkan sebelum matahari benar-benar muncul dari balik laut, kehidupan di kota kecil yang terletak di pesisir timur Pulau Bali itu sudah bergerak perlahan. Perahu-perahu nelayan kembali ke dermaga dengan lambung yang masih basah oleh air laut, burung camar berterbangan rendah di atas permukaan air, sesekali menyambar ikan kecil yang melompat. Di sepanjang jalan menuju pelabuhan, beberapa pedagang mulai membuka jualan, menata hasil tangkapan semalam sambil bercanda dengan pelanggan pertama mereka.

Udara pagi membawa aroma asin yang khas, yang tidak pernah hilang dari kota ini.

Di tikungan jalan menuju pelabuhan kecil Teluk Amuk, berdirilah sebuah toko soda yang sudah menjadi bagian dari kehidupan warga sekitar selama bertahun-tahun. Namanya sederhana, ‘Bubbly’.

Papan nama kayu yang menggantung di atas pintu masih menggunakan tulisan tangan berwarna biru muda. Catnya sudah terkelupas di beberapa sudut, tetapi tidak pernah bisa diganti. Kata pemiliknya, kalau papan itu diganti, toko ini akan kehilangan wajahnya.

Bangunan itu diapit sebuah toko obat tua, dan bengkel sepeda yang sudah tutup sejak dua tahun yang lalu. Dindingnya yang berwarna putih gading, dan mulai memudar karena udara laut yang lembab. Di bawah jendela-jendela kayunya, pot-pot tanah liat berisi tanaman merambat tergantung rapi. Daun-daunnya melambai pelan setiap kali angin laut berhembus.

Begitu pintu dibuka, aroma lemon, vanilla, gula karamel, daun mint langsung menyambut siapapun yang masuk. Langit-langit toko terasa rendah, dihiasi dengan lampu gantung tua dari kaca berwarna hijau kebiruan. Ketika dinyalakan, pantulan cahaya menari lembut di atas lantai kayu coklat tua yang baru dipoles. 

Di depan meja bar kayu, lima bangku tinggi berjajar rapi. 

Lalu di dekat jendela menghadap laut, terdapat dua meja bundar dengan empat kursi rotan di masing-masing sisinya. Dari tempat itu, pelanggan bisa melihat kapal-kapal nelayan yang berlalu-lalang sambil menikmati segelas soda dingin.

Sementara itu, hampir seluruh dinding sebelah kiri dipenuhi rak-rak kaca. Di dalamnya tersusun puluhan botol soda berdasarkan warna. Merah stroberi, orange jeruk, kuning madu, hijau mint, biru bunga telang, dan ungu lavender. Saat sinar matahari pagi menembus jendela, botol-botol itu memantulkan cahaya seperti deretan kaca patri di sebuah bangunan tua.

Tak sedikit wisatawan yang sengaja datang hanya untuk memotret sudut itu.

Di sisi rak berdiri sebuah mesin soda tua berwarna merah marun. Mesin itu sudah jauh lebih tua daripada pemilik tokonya. Suara desis kecil selalu terdengar setiap kali mesin itu bekerja, kadang-kadang juga mogok tanpa alasan yang jelas. Meski begitu tidak pernah berniat untuk menggantikannya. 

Tepat di atas mesin itu, tergantung sebuah papan tulis. Dengan kapur putih, seseorang baru saja menuliskan menu soda hari itu.


Menu hari ini : Silent Sky Soda. Untuk orang yang terlalu banyak memikirkan sesuatu. Kalau hari ini terasa berat, semoga minuman ini bisa membuat sedikit lebih ringan.


Tulisan itu dibuat dengan huruf-huruf rapi yang sedikit melengkung. Di sudut kanan bawah papan, ada gambar awan kecil yang tersenyum.

“Masih miring sedikit.”

Suara itu tentu saja hanya terdengar di kepala Nayara Maheswara.

Refleks, dia memiringkan kepalanya, lalu terkekeh pelan.

“Itu juga yang pasti akan ibu bilang.”

Senyumnya berubah menjadi lembut ketika matanya beralih ke sebuah bingkai foto yang tergantung tepat di samping papan menu.

Di dalam foto itu ada tiga orang. Ayahnya, Surya Maheswara, dirinya, dan seorang perempuan berambut sebahu yang sedang tertawa lepas sambil memegang segelas soda berwarna keemasan, Maia Lestari, Ibu Naya. Pendiri Toko Soda Bubbly.

Orang pertama yang mengajarkan Naya bahwa soda bukan sekedar mencampur sirup dan air berkarbonasi.

“Kalau orang minum soda buatanmu sambil tersenyum, berarti kamu berhasil membuat harinya sedikit lebih baik.”

Kalimat itu masih diingat Naya sampai sekarang. Walaupun dulu dia menganggap ibunya terlalu berlebihan, sekarang dia justru takut melupakannya.

Naya menghela nafas pelan sebelum mulai memeriksa seluruh ruangan. Tak ada debu di atas meja, botol-botol tersusun rapi, kursi-kursi sudah kembali ke tempat semula. Bahkan dia merapikan sebuah sedotan yang sebenarnya hanya bergeser beberapa sentimeter.

Pak Surya sering menggodanya karena terlalu perfeksionis. Padahal kebiasaan itu diwarisi dari ibunya.

Setelah merasa sudah cukup rapi, Naya mengambil apron bermotif bunga matahari di balik meja kasir, mengikatnya di pinggang, lalu berjalan menuju ke meja peracikan.

Di sana, bahan-bahan sudah menunggunya. Jeruk nipis segar, leci, vanila, madu hutan, daun mint, es batu yang dibuat semalaman, serta sebotol sirup leci buatan sendiri yang baru selesai dia masak tadi dini hari.

Tangannya mulai bekerja dengan lincah, memeras jeruk, mengaduk madu, menimbang sirup, sesekali mencatat sesuatu di buku resep tua yang selalu terbuka di samping talenan kayu. Sampul buku itu mulai kusam, sudut-sudutnya terlipat, beberapa halaman bahkan terkena noda sirup yang mengering bertahun-tahun lalu.

Di halaman pertama tertulis satu nama, Maia Lestari. Tulisan tangan yang rapi. Naya mengusap nama itu perlahan menggunakan ujung jarinya, kemudian membuka halaman berikutnya. Di sana tersusun puluhan resep soda, sebagian diberi tanda centang, sebagian lagi dicoret. Ada pula komentar-komentar kecil yang membuatnya tersenyum setiap kali membacanya.

“Kurangi gula. Ayahmu bilang terlalu manis.”

“Kalau gagal, jangan dibuang. Pak Surya pasti tetap meminumnya.”

“Resep yang baik selalu dibuat dengan sabar.”

Naya menahan senyum. “Memang Ayah minum semuanya.”

Dia menutup buku itu perlahan, lalu mengambil gelas ukur.

Malam sebelumnya, dia hampir tidak tidur demi menyempurnakan resep baru yang akhirnya dia beri nama Silent Sky.

Tugas kimia bahkan belum sempat disentuh. Kalau nanti Ibu Rina bertanya, dia benar-benar belum tahu harus memberi alasan apa. Namun entah mengapa, membuat soda selalu terasa lebih mudah daripada menjelaskan perasaannya sendiri.

Di luar, matahari mulai keluar dari peraduannya. Cahayanya memantul di permukaan laut, membuat Teluk Amuk berkilau seperti hamparan kaca. Naya menatap pemandangan itu beberapa saat. Seperti kebiasaan yang diajarkan ibunya sejak kecil, dia mengetuk pelan bibir gelas dengan sendok kecil.

Ting …

Ting …

Dua bunyi memenuhi ruangan yang masih sepi.

Dulu Ibu Maia selalu berkata, “Kalau bunyinya terdengar melenting, gelembung sodanya masih hidup.”

Naya tersenyum tipis. “Semoga hari ini juga begitu.”

Saat itulah … Lonceng kecil di atas pintu berdenting tiga kali.

Ting …

Ting …

Ting …

Naya mengangkat kepalanya sekilas. Alisnya sedikit bertaut.

Bukan dua kali, melainkan tiga kali. Kalau berbunyi dua kali, berarti seseorang membuka pintu secukupnya lalu segera masuk. Tetapi tiga kali berarti orang itu sempat berhenti di ambang pintu, seolah sedang memastikan bahwa dia tidak salah masuk tempat.

Naya menghela nafas pendek. “Turis lagi, ya?”

“Permisi.” Suara laki-laki itu terdengar datar. Cukup untuk membuat Naya sadar bahwa benar ada seseorang yang masuk.

Tanpa membalikkan badan, Naya menuangkan madu ke dalam gelas ukur.

“Toko kami belum buka,” sahut Naya tanpa menoleh. “Silahkan datang lagi setelah jam buka.”

Dia memandangi punggung Naya. “Aku hanya ingin beli untuk dibawa pulang, apa tidak bisa?”

Lihat selengkapnya