Setelah menyiapkan semua minuman dan pesanan, Naya melepas apron bermotif bunga mataharinya. Dia melipatnya rapi, lalu menggantungkannya di kait kayu dekat pintu dapur, tepat di samping celemek lama milik ibunya yang masih dibiarkan tergantung di sana.
Pandangannya berhenti beberapa detik pada celemek itu. Warnanya sudah memudar. Beberapa jahitannya bahkan mulai terlepas, dan kini motif bunga kecil hampir tidak terlihat lagi. Meski begitu, Pak Surya tidak pernah mengizinkannya dipindahkan, apalagi dibuang.
“Biar tetap di sana,” katanya suatu hari. “Toko ini masih menyisakan tempat untuk ibumu.”
Sejak hari itu, celemek tersebut tetap tergantung di sana.
Naya menghembuskan nafas pelan. Kemudian meraih tas sekolah yang sejak tadi tergeletak di bawah meja kasir.
Satu per satu isi tasnya diperiksa kembali. Buku kimia, buku matematika, buku novel yang belum selesai dibaca, dan kotak pensil.
Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, dia menutup resleting tas dan mematikan lampu di meja racik. Cahaya hangat yang sejak pagi menemani ruangan perlahan menghilang, berganti sinar matahari yang masuk melalui jendela depan.
Di sudut ruangan, dua puluh botol soda Silent Sky sudah tersusun rapi di dalam peti kayu kecil. Embun tipis masih menempel di permukaan botol-botol kaca itu.
Naya mengangkat peti tersebut. Botol-botol itu berdenting pelan mengikuti langkahnya menuju pintu depan.
Di luar, sepeda tuanya sudah menunggu. Cat biru muda pada rangkanya mulai pudar dimakan matahari dan udara laut, namun rak besi di bagian belakangnya masih cukup kokoh untuk mengangkut pesanan.
Dengan hati-hati, Naya meletakkan peti kayu itu di atas rak belakang, lalu mengikatnya menggunakan tali karet agar tidak bergeser selama perjalanan.
Sebelum berangkat, dia membalik papan kayu yang tergantung di pintu.
‘BUKA, jam 09.00’.
Angin laut kembali menyambut wajahnya. Udara pagi Teluk Amuk selalu memiliki aroma yang khas. Campuran asin laut, kayu perahu yang basah, dan embusan angin yang membawa kesejukan dari perairan terbuka. Aneh rasanya. Setiap kali menghirup aroma itu, dadanya selalu terasa sedikit lebih ringan.
Naya mulai mengayuh sepedanya perlahan. Jalan kecil di depan Bubbly membentang mengikuti garis pantai. Di sebelah kiri, laut memantulkan cahaya matahari seperti hamparan kaca yang bergoyang pelan. Beberapa nelayan baru saja kembali dari melaut. Mereka memanggul keranjang berisi ikan tongkol dan cakalang sambil bercanda satu sama lain.
Tak jauh dari dermaga, seorang anak kecil berlari mengejar layang-layang, yang sesekali terseret angin laut. Di teras sebuah warung kopi, beberapa wisatawan asing menikmati sarapan sambil memandangi laut.
Kota Amuk memang tidak pernah seramai Denpasar, justru ketenangan itulah yang membuat banyak orang betah tinggal.
Beberapa menit kemudian, Naya menghentikan sepedanya di depan sebuah toko minuman. Papan kayunya bertuliskan, Made Irawan Beverage Supply.
Belum sempat dia turun dari sepeda, seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun sudah melambaikan tangan dari dalam toko.
“Naya!”
“Pagi, Pak Made.”
“Lho? Sendiri? Ayahmu mana?”
“Masih di toko.”
Pak Made mengangguk sambil bantu menurunkan peti kayu dari rak belakang sepeda.
“Wah … berat juga.”
“Masih dua puluh botol, Pak.”
“Menu baru?”
“Iya.”
Pak Made mengambil salah satu botol, memutar-mutarnya ke arah cahaya.
“Silent Sky.” Dia membaca label botol yang ditempel rapi. Kemudian tersenyum.
“Nama minuman keluarga kalian memang selalu bikin penasaran.”
Naya terkekeh pelan.
“Katanya justru itu yang bikin orang ingin mencoba.”
“Betul juga.”
Pak made membuka salah satu botol.
Pssst …
Suara gelembung soda langsung keluar. Dia meneguknya sedikit, lalu sekali lagi. Alisnya perlahan terangkat.
“Leci … Vanila. Hmm …” Dia memejamkan mata beberapa detik. “Terus ada rasa asin yang tipis sekali. Garam laut.”
Naya tersenyum kecil.
Pak Made kembali meneguk.
“Kamu benar-benar anak Maia.”
Ucapan itu membuat senyum Naya mengecil. Pak Made baru menyadarinya beberapa detik kemudian. Dia berdehem pelan.
“Kalau Maia masih ada … dia pasti bangga melihat minuman ini.”
Naya tidak menjawab. Dia hanya mengangguk kecil.
Pak Made kemudian menepuk bahunya pelan.
“Minuman ini pasti cepat habis … kali ini lebih nendang daripada yang kemarin,” ucap Pak Made, diakhiri dengan tertawa.
“Kamu harus siap bikin stok lagi.”
“Siap, Pak.”
Setelah berpamitan, Naya kembali mengayuh sepedanya menuju sekolah.
Perjalanan dari toko Pak Made ke SMA Negeri Amuk hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit.
Bel pertama berbunyi tepat ketika gerbang sekolah mulai dipenuhi siswa.
Suasana seperti biasa. Ada yang masih mengerjakan pekerjaan rumah di atas sadel motor temannya. Di dekat kantin, aroma gorengan baru memenuhi udara pagi. Dan ada yang berlari karena takut terlambat.
“Naya!”
Suara itu membuatnya menoleh.
Seorang gadis berambut sebahu berlari kecil menghampirinya. Namanya Siska Pramudita. Teman sebangku Naya sejak kelas sepuluh.
“Apa kamu sudah ngerjain tugas kimia?”
Naya langsung menggeleng. “Belum, aku kerjakan.”
Siska memejamkan mata. “Waduh … kita bakal habis.”
Dia mengangkat bukunya, “aku juga lupa mengerjakannya.”
Mereka saling memandang beberapa detik, lalu tertawa bersamaan. Tawa itu langsung berhenti ketika seorang guru melintas di koridor.
“Cepat masuk ke kelas.”
“Iya, Bu.”
Mereka buru-buru menaiki tangga menuju lantai dua. Kelas XI IPA 1 sudah hampir penuh. Suara kipas angin tua bercampur dengan obrolan para siswa memenuhi ruangan. Beberapa teman melambaikan tangan kepada Naya, dan dia membalas dengan senyum kecil. Lalu memalingkan pandangan pada bangku dekat jendela yang masih kosong.
Tempat favoritnya.
Naya duduk sambil mengeluarkan buku pelajaran.
Bel kedua berbunyi.
Tak lama kemudian, Ibu Ratna, wali kelas mereka masuk sambil beberapa map berwarna biru. Kali ini dia tidak datang sendiri, di belakangnya ada seorang siswa laki-laki.
Seragam putih abu-abu masih tampak baru. Tas hitam menggantung di bahu kirinya. Rambutnya sedikit berantakan, tapi itu tidak menghalangi aura dingin, membuat semua orang sulit melepas pandangan mereka.
Ruangan yang semula riuh perlahan menjadi sunyi.
Naya yang sejak tadi sedang membaca buku kimia tanpa sadar mengangkat wajahnya. Tangannya membeku di atas meja.
Laki-laki itu. Orang yang tadi pagi datang ke Bubbly.
Bahkan sebelum Ibu Ratna berbicara, bisik-bisik mulai terdengar dari berbagai sudut kelas.
“Eh, mirip banget sama …”
“Bukan mirip lagi …”
Suara kursi tiba-tiba bergeser. Seorang siswa di barisan belakang berdiri tanpa sadar.
“Itu … Damar?” ucapnya sambil menunjuk.
Keheningan langsung menyelimuti kelas. Seorang siswi spontan menutup mulutnya. Di barisan depan, ada yang menoleh ke arah bangku yang dulu pernah ditempati Damar. Bahkan suara kipas angin tua di langit-langit terdengar jauh lebih jelas daripada nafas para siswa.
Di sudut kelas, seorang siswa bertubuh tinggi dengan bekas luka tipis di pelipis kirinya menggenggam pensil begitu erat hingga nyaris patah. Namanya Bima Adikara. Tatapannya tidak lepas dari wajah murid baru itu. Untuk pertama kalinya sejak setahun terakhir, wajahnya kehilangan seluruh warna.
Laki-laki itu tetap berdiri tenang, seakan tidak menyadari bahwa kehadirannya baru saja menghidupkan kembali kenangan yang selama ini dikubur oleh seluruh penghuni kelas.
Ibu Ratna menatap murid-muridnya satu per satu.
“Anak-anak?” Suara Ibu Ratna memecahkan keheningan. “Ada apa dengan kalian?”
Tidak ada seorang pun menjawab. Beliau menarik nafas pelan.
“Baiklah … mungkin kalian terkejut karena ada murid baru di awal semester.” Beliau menoleh ke samping. “Silahkan perkenalkan dirimu.”
“Perkenalkan … Nama saya Danar Pratama.”
Ruangan kembali dipenuhi bisikan pelan.
“Pratama?”
“Bukannya …”