Walaupun sudah seminggu berlalu, wajah baru itu masih belum menjadi pemandangan yang biasa. Setiap kali Danar Pratama berjalan melewati koridor, percakapan di sekitarnya langsung berhenti. Tawa yang semula terdengar lepas mendadak hilang, seolah semua orang tanpa sadar sedang menahan napas. Ada yang pura-pura sibuk membaca pengumuman di papan mading. Ada yang menunduk, menatap layar ponsel atau buku di tangan mereka. Dan ada pula yang memilih untuk memalingkan wajah sampai langkah kaki Danar menghilang.
Keberadaannya sudah cukup membuat orang gelisah. Sebab wajah itu … terlalu mirip dengan seseorang yang seharusnya sudah tidak ada lagi.
***
Koridor lantai dua mulai ramai ketika bel pertama belum berbunyi.
Udara pagi membawa aroma laut yang samar. Dari balkon sekolah, garis pantai Teluk Amuk terlihat memanjang di kejauhan. Matahari belum terlalu tinggi, sehingga cahaya keemasannya memantul lembut di permukaan air.
Di dekat ruang guru, empat siswa kelas sebelas sedang berkumpul mengelilingi mesin minuman otomatis yang sudah sering macet.
“Aku dengar dia saudara jauhnya Damar.”
“Kata siapa? Bohong banget.”
“Dari siapa dengarnya?”
“Anak kelas IPS.”
“Mereka tahu darimana?”
“Entahlah.”
Mereka saling berpandangan beberapa detik.
“Ya, terus kenapa kamu percaya?”
“Soalnya wajahnya …” Dia menggantung kalimatnya. “Sangat tidak masuk akal.”
Temannya menoleh ke arah tangga. “Aku malah dengar dia pindahan dari Jakarta.”
“Terus?”
“Ya …masa ada orang yang semirip itu?”
Seorang siswa lain yang sedari tadi diam tiba-tiba menimpali dengan suara pelan.
“Apa jangan-jangan dia …” Dia memastikan tidak ada guru di sekitar mereka. “ adalah Damar?”
Mereka tertawa kecil setelah mendengar ucapannya, walaupun tawa itu tidak pernah bertahan lama.
Sedang di kelas XI IPA 1 perlahan mulai terisi.
Suara kipas angin tua di langit-langit bercampur dengan bunyi kursi yang digeser dan obrolan yang saling bersahutan.
Di bangku dekat jendela, Nayara Maheswara sedang membuka buku kimianya. Setidaknya … begitu kelihatannya. Karena sejak lima menit lalu, halaman yang terbuka tidak pernah berpindah. Pandangannya justru sesekali meluncur ke arah bangku paling belakang, bangku yang kini ditempati Danar.
Laki-laki itu sedang menyalin catatan dari buku temannya. Kepalanya sedikit menunduk. Pulpen hitam bergerak cepat, tetapi tulisannya tetap rapi. Tidak ada gerakan yang sia-sia. Sesekali dia menghentikan ujung pulpennya selama beberapa detik, membaca ulang kalimat yang baru ditulis, lalu melanjutkannya lagi.
Iramanya tenang.
“Naya.”
Suara Siska dari meja sebelah mengalihkan lamunannya
“Hmm?”
“Kamu lagi ngapain?”
Naya buru-buru mengangkat buku kimianya sedikit lebih tinggi.
"Lagi pantau langit, apakah benar kalau hari ini akan turun hujan seperti yang dikatakan BMKG?”
Siska mengikuti arah pandang sahabatnya. Lalu tanpa bisa menahan senyum, dia menggeleng pelan.
"Sejak kapan kamu mulai tertarik sama ramalan cuaca?”
Naya pura-pura membalik halaman. “Aku memang peduli cuaca.”
“Oh, ya?”
“Iya.”
“Padahal setahuku …” Siska menopang dagunya dengan kedua tangan. “ Yang kamu pedulikan cuma dua hal.”
“Apa?”
“Soda.”
Naya tersenyum kecil. “Dan?”
“Orang yang sekarang lagi pura-pura tidak sadar kalau sedang diperhatikan.”
Naya langsung menoleh. “Apa?”
Siska mengangguk ke arah belakang. “Dia.”
Refleks Naya ikut melirik. Danar masih menulis, posturnya masih sama seperti dia lihat sebelumnya.
“Aku tidak melihat siapa-siapa.”
“Bohong.”
“Tidak.”
“Kamu tahu tidak …” Siska mengecilkan suaranya. “Seminggu ini kamu sering banget melamun sambil melihat ke belakang. Apa matamu tidak capek?”
“Ah! Kebetulan saja kamu lihat aku lagi melamun ke arah belakang.”
“Kebetulan, Naya? Setiap hari itu bukan sebuah kebetulan.”
“Itu namanya kebetulan yang rajin.”
Siska tertawa pelan. “Aku baru tahu kalau kebetulan itu bisa mendisiplinkan diri. Coba bohong yang lebih meyakinkan.”
Naya memukul pelan lengan sahabatnya, “Udah, ah! Kamu berisik.”
"Alasanmu makin hari makin aneh." Siska tertawa pelan, lalu menyandarkan dagunya ke tangan.
"Tapi serius deh ... sangking persisnya, aku pernah tidak sengaja memanggilnya dia, Damar." Suaranya mengecil di akhir kalimat.
Naya terdiam. “Terus?”
Siska menirukan suara datar.
"Maaf. Kamu salah orang.”
“Lalu?”
“Cuma itu …”
“Terus kamu gimana?”
“Ya, malulah …” Siska tertawa hambar. “Rasanya kayak dimarahin.”
Naya tidak ikut tertawa. Matanya kembali bergerak ke arah bangku belakang. Kini Danar sedang memandang ke luar jendela.
Cahaya matahari mengenai sisi wajahnya. Semakin lama diperhatikan … semakin sulit dipercaya bahwa dia bukan Damar. Namun Siska benar, kalau Damar masih hidup … Dia pasti sudah bosan duduk diam selama lima belas menit. Mungkin sekarang dia sedang mengganggu Bima, atau melemparkan penghapus ke Galang, atau pura-pura menjadi Guru. Sedangkan Danar tidak, dia hanya seperti dia yang sebenarnya.
"Dia memang beda," gumam Naya hampir tidak terdengar.
Siska langsung memotong. “Jangan diterusin.”
Naya menoleh.
“Aku tahu kamu belum selesai berdamai sama kehilangan.” Suara Siska kali ini jauh lebih lembut, “tapi jangan memaksa orang lain menjadi Damar.
Kalimat itu menggantung lama di antara mereka. Menjadikan Naya terdiam, karena sebagian dari dirinya tahu … Siska benar. Namun ada bagian lain dalam dirinya yang tetap ingin mencari jawaban.
Kenapa ada orang yang bisa begitu mirip?
Kenapa cara berdirinya … cara memegang pulpen … bahkan cara memandang keluar jendela … terasa begitu akrab? Layaknya ada seseorang yang diam-diam sedang meminjam wajah masa lalu.
Saat itulah, Danar mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu. Jantung Naya berdegup lebih cepat. Dia tidak sempat mengalihkan pandangan. Sebagai bentuk refleks, dia memberi senyum kecil. Bukannya dihargai, Danar hanya menatapnya sekitar dua detik, lalu memasang earphone dan memalingkan wajah dan kembali melihat ke luar jendela.
Seolah pertemuan mata itu tidak pernah terjadi. Senyum Naya perlahan memudar.
Siska menghela napas panjang. “Tuh, kan.”
Bel masuk berbunyi tepat saat Naya menundukkan kepalanya kembali ke buku kimia.
Untuk pertama kalinya sejak Damar pergi, dia mulai merasa … bukan wajah Danar yang membuatnya gelisah. Melainkan kenyataan bahwa semakin lama mengenalnya, semakin jelas perbedaan di antara mereka. Justru perbedaan itulah yang membuat rasa penasarannya semakin sulit dihentikan.
***
Bel istirahat pertama berbunyi panjang.
Suara kursi bergeser memenuhi ruang kelas. Sebagian besar siswa langsung berhamburan keluar menuju kantin, sementara beberapa yang lain tetap duduk, sibuk menyelesaikan tugas atau melanjutkan obrolan yang sempat terputus saat guru masih berada di kelas.
Naya menutup buku matematika perlahan.
Tanpa sadar, matanya kembali mencari bangku paling belakang.
Kali ini, Danar sudah tidak ada.
“Pergi lagi …” Gumamnya pelan.
Siska yang sedang memasukkan buku ke dalam tas, melirik ke bangku itu, lalu kembali menatap Naya dengan senyum penuh arti.
“Ayo tebak?”
“Nebak apa?”
“Menurutmu sekarang dia ada dimana?”
Naya mengangkat bahu, berusaha terdengar biasa. “Mana aku tahu … aku bukan CCTV.”
“Bukan itu.” Siska menahan tawa. “Tapi kamu ingatkan, kemana Damar biasanya pergi setiap jam istirahat?”
Nama itu membuat Naya terdiam.
Ingatannya langsung melayang ke satu tempat yang sudah lama tidak dia datangi. Perpustakaan.
Dulu, Damar sering bersembunyi di sana setiap jam istirahat. Alasannya sederhana. Menurutnya, perpustakaan adalah satu-satunya tempat di sekolah yang tidak memaksa orang untuk terus berbicara.
“Ketika setiap persoalan terdengar bising di pikiranku,” katanya pada suatu hari. “Aku jadi susah dengar pikiranku sendiri. Buku … membuatku tenang dan seperti sedang berada di duniaku sendiri. ”
Saat itu Naya hanya menertawakannya. Sekarang, kalimat itu justru terdengar jauh lebih berarti.
Siska melihat perubahan ekspresi sahabatnya, lalu tersenyum penuh arti.