"Dulu membenci, sekarang ingin memiliki."
Suasana halaman sekolah menengah pertama itu seketika hening, ketika siswi bernama Mesya menampar pipi seorang siswa berperawakan tinggi dan tegap yang dikenal jarang berbicara.
"Anj*ng lu, ngapain nyentuh gue?!" bentak siswi itu. Wajah putihnya memerah karena amarah.
Ia marah karena ada anak laki-laki yang berani menyentuh area pribadi bagian belakangnya. Siswi berpipi tirus tersebut merasa sangat terhina.
Suci yang merupakan teman dekat Mesya dari zaman masih dalam kandungan; ingin memberitahu sang teman bahwa bukan siswa itu pelakunya.
Namun, Mesya tidak mau mendengar. Sementara itu, siswa bernama Azfar yang ditampar tadi hanya diam dengan mata menyorot tajam ke arahnya. Ia sama sekali tidak melawan.
Azfar mendadak menjadi pusat perhatian semua murid di sekolah tersebut, yang baru selesai melakukan upacara dalam rangka memperingati Hari Pramuka Nasional.
Tangan siswa tersebut mengepal erat. Rahangnya juga mengeras karena berusaha menahan emosi, tetapi ia memilih pergi ke kelas, dibanding melawan siswi yang sudah menuduhnya tanpa bukti.
Mesya juga langsung melengos pergi, setelah puas memarahi Azfar. Disusul oleh kedua temannya yang mengekor di belakang gadis itu.
"Sya, yang tadi nyentuh elu, tuh, bu—"
"Diam, gue enggak mau dengar apa-apa!" potong Mesya yang masih emosi.
"Ci, daripada elu dikunyah sama si Mesya, mending elu diam aja," cetus Mikaila kepada Suci yang berjalan di sampingnya.
"Dikunyah? Emangnya gue onde-onde?" Suci mendengus.
***
Dua belas tahun kemudian, Mesya tidak sengaja bertemu dengan kedua temannya. Ketika mereka sedang mengenang masa-masa di sekolah menengah pertama, ia baru mengetahui bahwa yang dulu menyentuh area pribadinya bukan Azfar.
"Ya ampun, jadi selama ini gue udah benci sama orang yang salah. Kenapa elu berdua enggak ngasih tau gue dari dulu, sih?" Mesya membuang napas berat. ia sangat kaget dan merasa bersalah.
"Kita udah berusaha ngasih tahu, tapi elu enggak mau denger, karena keburu emosi!" kata Suci sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
"Iya, elu itu emang gampang emosian." Mikaila menimpali.
Rasa bersalah Mesya semakin dalam. Ia pun langsung berusaha mencari informasi kontak Azfar yang katanya sudah pindah rumah ke luar kota.
Akan tetapi, gadis bernama lengkap Dinda Mesya tersebut tidak mendapatkan hasil apa-apa. Akhirnya ia hanya bisa menyesali perbuatannya.