My Sweet Enemy

Yuli Yastri
Chapter #1

Bab 1

‎"Dulu membenci, sekarang ingin memiliki."

‎‎Suasana halaman sekolah menengah pertama itu seketika hening, ketika siswi bernama Mesya menampar pipi seorang siswa berperawakan tinggi dan tegap yang dikenal jarang berbicara.

‎"Anj*ng lu, ngapain nyentuh gue?!" bentak siswi itu. Wajah putihnya memerah karena amarah.

‎Ia marah karena ada anak laki-laki yang berani menyentuh area pribadi bagian belakangnya. Siswi berpipi tirus tersebut merasa sangat terhina.

‎Suci yang merupakan teman dekat Mesya dari zaman masih dalam kandungan; ingin memberitahu sang teman bahwa bukan siswa itu pelakunya.

‎Namun, Mesya tidak mau mendengar. Sementara itu, siswa bernama Azfar yang ditampar tadi hanya diam dengan mata menyorot tajam ke arahnya. Ia sama sekali tidak melawan.

‎Azfar mendadak menjadi pusat perhatian semua murid di sekolah tersebut, yang baru selesai melakukan upacara dalam rangka memperingati Hari Pramuka Nasional.

‎Tangan siswa tersebut mengepal erat. Rahangnya juga mengeras karena berusaha menahan emosi, tetapi ia memilih pergi ke kelas, dibanding melawan siswi yang sudah menuduhnya tanpa bukti.

‎Mesya juga langsung melengos pergi, setelah puas memarahi Azfar. Disusul oleh kedua temannya yang mengekor di belakang gadis itu.

‎"Sya, yang tadi nyentuh elu, tuh, bu—"

‎"Diam, gue enggak mau dengar apa-apa!" potong Mesya yang masih emosi.

‎"Ci, daripada elu dikunyah sama si Mesya, mending elu diam aja," cetus Mikaila kepada Suci yang berjalan di sampingnya.

‎"Dikunyah? Emangnya gue onde-onde?" Suci mendengus.

‎***

‎Dua belas tahun kemudian, Mesya tidak sengaja bertemu dengan kedua temannya. Ketika mereka sedang mengenang masa-masa di sekolah menengah pertama, ia baru mengetahui bahwa yang dulu menyentuh area pribadinya bukan Azfar.

‎"Ya ampun, jadi selama ini gue udah benci sama orang yang salah. Kenapa elu berdua enggak ngasih tau gue dari dulu, sih?" Mesya membuang napas berat. ia sangat kaget dan merasa bersalah. 

‎"Kita udah berusaha ngasih tahu, tapi elu enggak mau denger, karena keburu emosi!" kata Suci sembari melipat kedua tangannya di depan dada.

‎"Iya, elu itu emang gampang emosian." Mikaila menimpali.

‎Rasa bersalah Mesya semakin dalam. Ia pun langsung berusaha mencari informasi kontak Azfar yang katanya sudah pindah rumah ke luar kota.

‎Akan tetapi, gadis bernama lengkap Dinda Mesya tersebut tidak mendapatkan hasil apa-apa. Akhirnya ia hanya bisa menyesali perbuatannya.

Lihat selengkapnya