"Iya, sama-sama. Kakak juga beruntung banget punya adik kayak kamu, meskipun agak manja sedikit. Ya udah, cepet sana siap-siap, entar telat!" titah Hanisa kepada adiknya.
"Oke, Kak!" Mesya langsung menurut.
Ia mengambil handuk dan bergegas pergi ke kamar mandi. Sementara itu, Hanisa membantu ibunya memasak, sedangkan sang ayah sedang membaca koran di ruang tengah.
Setelah sarapan, Mesya berpamitan kepada orang tuanya dan kepada para tetangga yang rumahnya berdekatan dengan rumahnya.
"Semangat ya, Neng Mesya, semoga menjadi dokter yang sukses." Para tetangga mendoakan gadis itu dengan tulus.
"Aamiin. Terima kasih atas doanya. Oh, iya, jangan lupa doakan supaya saya bisa membuka klinik di kampung ini, biar warga sini bisa mudah berobat tanpa biaya yang mahal," ucap Mesya dengan senyum manisnya.
"Tentu saja, pokoknya kami pasti akan selalu mendoakan Neng Mesya." Mereka berbicara seraya menyentuh bahu gadis yang rambutnya dibiarkan terurai itu.
"Alhamdulillah. Saya seneng banget. Terima kasih." Mesya memeluk satu per satu ibu-ibu yang mendoakannya itu.
Kemudian, dengan dibekali doa dari kedua orang tua, keluarga besar, sahabat, serta para tetangga, gadis itu pun berangkat bersama sang kakak.
Mesya sangat antusias dan tidak sabar ingin segera mulai bekerja di salah satu rumah sakit yang sangat diidamkannya. Sepanjang perjalanan, ia tersenyum sambil melihat pemandangan dari balik jendela mobil.
Sang kakak pun ikut tersenyum melihat adiknya yang bersemangat memulai karirnya menjadi dokter. Namun, tiba-tiba adiknya itu menjadi murung.
"Loh, ada apa? Kok, jadi murung gitu? Perasaan tadi semangat banget." Hanisa bertanya sambil fokus menyetir.
Mesya seketika menggeleng. "Enggak apa-apa, kok, aku cuma sedih aja, karena nanti aku akan tinggal jauh dari keluarga."
"Ya ampun, kirain kenapa." Hanisa tersenyum kecil. "Kamu jangan khawatir, nanti Kakak, Mama, sama Papa, pasti akan sering-sering jenguk kamu."
Mesya akhirnya kembali tersenyum, setelah mendengar ucapan dari kakaknya. Akan tetapi, ia lagi-lagi memikirkan Azfar.
Gadis tersebut benar-benar merasa bersalah kepada pemuda tersebut atas perlakuannya dulu. Niat ingin meminta maaf pun semakin besar.
Namun, sayangnya Mesya tidak tahu harus menemui pemuda itu di mana, karena sekarang dia pindah rumah. Terakhir mereka bertemu yaitu ketika perpisahan kelas 9 di SMP.