My Sweet Enemy

Yuli Yastri
Chapter #3

Bab 3

Tidak tunggu lama, Salwa langsung mengambil kunci mobilnya dan bergegas pergi ke rumah sakit, yang dimaksud oleh temannya.

‎Sesampainya di sana, ia menangis saat melihat kondisi adik sepupunya yang sudah lama menghilang. Sang teman kemudian mencoba menenangkannya.

‎Salma lalu dengan cepat menyuruh dokter untuk melakukan tindakan medis kepada adik sepupunya yang memiliki kelainan jantung sejak lahir.

‎Setelah hampir tiga jam, akhirnya proses pemasangan ring jantung selesai. Neully masih terbaring lemas tidak sadarkan diri karena pengaruh obat bius.

‎Namun, setelah beberapa menit berlalu, matanya perlahan terbuka, lalu ia tiba-tiba tersentak kaget karena melihat Bella yang merupakan teman dekat dari kakak sepupunya.

‎"Astaghfirullah. Apa aku sudah meninggal? Kenapa ada di malaikat maut di sini?" cetusnya datar.

‎Bella yang tadinya senang karena Neully sudah sadar pun mendadak kesal. "Ya ampun, ternyata elu masih sama kayak dulu, ngeselin!"

‎Neully terkekeh. "Maaf, aku cuma bercanda. Ngomong-ngomong, Mbak Bella kenapa ada di sini? Siapa yang membawaku ke sini? Lalu Mbak Salwa mana? Apa dia di sini juga? Bagaimana kabarnya?"

‎Perempuan berlesung pipi itu berbicara seraya berusaha untuk duduk, tetapi langsung dicegah oleh Bella, "Jangan banyak gerak dulu, minimal tunggu jam. Salwa lagi ngobrol sama suami lu di luar."

‎Neully langsung menurut. Ia kembali berbaring dengan dibantu teman kakak sepupunya. Bantalnya pun ditata agar merasa nyaman.

‎***

‎Sementara itu, setelah Salwa berbicara kepada suami adik sepupunya, ia lalu mendekati kedua anak dari adik sepupunya tersebut yaitu Azkiya dan Azfar.

‎Kedua anak itu sedang menangis karena takut terjadi sesuatu terhadap ibu mereka. Kemudian, Salwa mendengar ucapan Azkiya

‎"Aku ingin sekali menjadi dokter spesialis jantung, agar bisa merawat Ibu dan siapapun yang punya penyakit sama seperti Ibu."

‎Ucapan gadis remaja itu membuat Salwa seketika tersenyum bangga, karena keponakannya tersebut memiliki cita-cita yang sangat mulia.

‎Perempuan yang berprofesi sebagai fashion designer tersebut lalu mendekati Azkiya dan berdiri di hadapannya. Gadis itu pun seketika menengadahkan kepala.

‎"Tante siapa? Apa Tante yang sudah membiayai semua pengobatan Ibu saya?" tanya gadis remaja berhijab itu.

‎Salwa mengangguk. "Iya, benar."

‎Azkiya langsung memegang tangan perempuan itu. "Terima kasih banyak, Tante, saya janji setelah saya menjadi dokter spesialis jantung dan punya gaji, saya akan mengganti uang Tante."

Lihat selengkapnya