Tidak tunggu lama, Salwa langsung mengambil kunci mobilnya dan bergegas pergi ke rumah sakit, yang dimaksud oleh temannya.
Sesampainya di sana, ia menangis saat melihat kondisi adik sepupunya yang sudah lama menghilang. Sang teman kemudian mencoba menenangkannya.
Salma lalu dengan cepat menyuruh dokter untuk melakukan tindakan medis kepada adik sepupunya yang memiliki kelainan jantung sejak lahir.
Setelah hampir tiga jam, akhirnya proses pemasangan ring jantung selesai. Neully masih terbaring lemas tidak sadarkan diri karena pengaruh obat bius.
Namun, setelah beberapa menit berlalu, matanya perlahan terbuka, lalu ia tiba-tiba tersentak kaget karena melihat Bella yang merupakan teman dekat dari kakak sepupunya.
"Astaghfirullah. Apa aku sudah meninggal? Kenapa ada di malaikat maut di sini?" cetusnya datar.
Bella yang tadinya senang karena Neully sudah sadar pun mendadak kesal. "Ya ampun, ternyata elu masih sama kayak dulu, ngeselin!"
Neully terkekeh. "Maaf, aku cuma bercanda. Ngomong-ngomong, Mbak Bella kenapa ada di sini? Siapa yang membawaku ke sini? Lalu Mbak Salwa mana? Apa dia di sini juga? Bagaimana kabarnya?"
Perempuan berlesung pipi itu berbicara seraya berusaha untuk duduk, tetapi langsung dicegah oleh Bella, "Jangan banyak gerak dulu, minimal tunggu jam. Salwa lagi ngobrol sama suami lu di luar."
Neully langsung menurut. Ia kembali berbaring dengan dibantu teman kakak sepupunya. Bantalnya pun ditata agar merasa nyaman.
***
Sementara itu, setelah Salwa berbicara kepada suami adik sepupunya, ia lalu mendekati kedua anak dari adik sepupunya tersebut yaitu Azkiya dan Azfar.
Kedua anak itu sedang menangis karena takut terjadi sesuatu terhadap ibu mereka. Kemudian, Salwa mendengar ucapan Azkiya
"Aku ingin sekali menjadi dokter spesialis jantung, agar bisa merawat Ibu dan siapapun yang punya penyakit sama seperti Ibu."
Ucapan gadis remaja itu membuat Salwa seketika tersenyum bangga, karena keponakannya tersebut memiliki cita-cita yang sangat mulia.
Perempuan yang berprofesi sebagai fashion designer tersebut lalu mendekati Azkiya dan berdiri di hadapannya. Gadis itu pun seketika menengadahkan kepala.
"Tante siapa? Apa Tante yang sudah membiayai semua pengobatan Ibu saya?" tanya gadis remaja berhijab itu.
Salwa mengangguk. "Iya, benar."
Azkiya langsung memegang tangan perempuan itu. "Terima kasih banyak, Tante, saya janji setelah saya menjadi dokter spesialis jantung dan punya gaji, saya akan mengganti uang Tante."