"Astoge, gue kira absurd kalian udah sembuh, ternyata malah makin parah!" Mesya berkacak pinggang.
"Maaf, Sya, kita susah membedakan antara elu sama pohon palm, soalnya sama-sama cungkring," cetus Mikaila yang hampir di-smack down oleh Mesya.
"Elu berdua emangnya enggak kangen, ya, sama gue? Baru aja ketemu udah ngajak ribut!" Mesya mendengus.
"Kangen, dong, gue kangen nyolong mangga bareng sama elu." Suci langsung memeluk gadis berkulit putih itu.
"Huh ... dasar!" Mesya tertawa. Namun, tiba-tiba wajahnya berubah serius. "Eh, iya, kalian tahu gak, sih, si Azfar pindah rumahnya ke mana?"
"Pindah rumah? Kata si Akmal dia enggak pindah, tapi dia tinggal di rumah tantenya." Suci langsung menjawab.
"Oh, gitu, ya. Terus elu berdua punya nomor kontak dia, gak?" Mesya kembali bertanya.
Suci dan Mikaila seketika menggelengkan kepala berjamaah. "Kita lupa enggak minta nomor kontaknya sama Si Akmal."
"Hmmm ... ya udah, deh, kirain tau." Mesya membuang napas berat.
"Elu kenapa? Kok, tiba-tiba pengen punya kontaknya si Azfar? Jangan-jangan—
"Jangan-jangan apa?" Mesya dengan cepat memotong ucapan temannya. "Gue cuma pengen minta maaf sama dia, karena dulu waktu SMP gue udah nuduh dia sampai menamparnya, padahal dia enggak salah apa-apa."
"Oh ...." Mikaila dan Suci manggut-manggut sambil saling pandang seolah tidak percaya dengan ucapan Mesya.
"Heh, gue serius, loh, cuma mau minta doang sama dia." Mesya menegaskan.
"Iya, iya, kita percaya." Kedua temannya kembali manggut-manggut sambil menahan tawa.
***
Sebenernya dulu Azfar bingung karena tiba-tiba muncul perempuan paruh baya yang mengaku sebagai tantenya dan membawa dirinya bersama sang kakak ke rumahnya untuk tinggal di sana.
Suatu hari ketika anak itu dan kakaknya sarapan bersama keluarga sang tante, ia memberanikan diri bertanya, "Maaf. Apa Tante Salwa itu benar-benar tante kami? Soalnya kami baru melihat Tante sekarang."