Hilmi spontan melihat ke arah remaja putra yang dimaksud oleh sang teman. Matanya lalu menyipit. Ia kaget karena remaja itu adalah temannya semasa duduk di bangku sekolah menengah pertama.
Dia adalah remaja putra sederhana yang terus mengejarnya, meskipun sudah berkali-kali ditolak. Sepintas, pandangan mereka pun bertemu. Namun, gadis itu dengan cepat menunduk dan langsung pamit pergi kepada kedua temannya.
"Aku permisi dulu, ya, mau ke rumah Kakek sebentar." Gadis berkulit putih itu berdiri dari tempat duduknya, lalu mengayunkan kaki menuju ke rumah sang kakek.
Sementara itu, Azfar yang tadi tersenyum seketika melengkungkan garis bibirnya ke bawah. Gadis yang ia sukai masih sama seperti dulu. Dingin. Tidak pernah meresponnya, apalagi membalas perasaannya.
Tidak lama berselang, Azkiya menghampiri adiknya. "Azfar, kalau kamu tidak mau mondok, tidak apa-apa—"
"Aku mau, kok, kapan mulai mondoknya? Sekarang atau besok?" Azfar memotong ucapan kakaknya.
Sang kakak spontan mengangkat sebelah alisnya. Ia merasa heran melihat perubahan sikap adiknya yang awalnya tidak mau mondok, tetapi kini justru tiba-tiba begitu bersemangat ingin mondok di pesantren tersebut.
Alasan utamanya karena di sana ada gadis idamannya. Ia tahu untuk mendapatkan hati gadis itu tidak semudah membuat bumbu cilok, tetapi satu hal yang pasti, selama ada tekad, pasti ada jalan. Itulah prinsip yang dipegang anak remaja berusia lima belas tahun tersebut.
Namun, sampai ia lulus dari pesantren modern itu, gadis yang disukainya masih tetap tidak membuka hati untuknya. Meskipun begitu, perasaannya tidak berubah sedikit pun, bahkan setelah empat tahun berlalu semenjak keluar dari pondok, Azfar masih tetap menyukainya.
Tak peduli berapa banyak wajah gadis cantik yang ia lihat setiap hari, hanya satu wajah yang tetap melekat dalam ingatannya—Hilmi.
Kini, anak remaja itu sudah tumbuh dewasa dan gagah. Ia resmi menjadi anggota TNI AD dengan prestasi yang cukup cemerlang.
Azfar tidak pernah berpacaran karena ia memang tipe laki-laki yang sulit jatuh cinta, tetapi jika sudah mencintai seseorang, ia pasti akan susah move on.
Saat ini, pemuda tersebut masih tidak bisa melupakan perasaannya kepada Hilmi. Ia berharap suatu hari gadis itu bisa membuka hati untuknya.
***
Di tempat lain, Mesya masih berusaha mencari informasi kontak Azfar. Rasa bersalahnya terhadap pemuda itu sangat besar, sehingga ia sangat ingin meminta maaf.
Sebulan sudah Mesya bekerja menjadi dokter kandungan di rumah sakit Azsyira Medical Center. Gaji pertamanya ia belikan motor matic bekas, agar tidak naik ojek online lagi.
Mesya juga memberikan sebagian gajinya kepada orang tua serta kepada sang kakak, tetapi mereka menolak. "Tabungkan saja uangnya, bukankah kamu ingin membuka klinik di kampung kelahiranmu."
Gadis itu pun tersenyum dan menuruti perkataan keluarganya. Hari ini ia berangkat kerja dengan menaiki motor yang dibeli dari hasil gaji pertamanya.