"Iya, dia adik kandung saya," jelas Azkiya sambil tersenyum.
"Oh, ma-maaf, Dok, sa-saya tidak tau kalau ternyata di-dia ini adalah adik kandung Dokter. Saya benar-benar minta maaf." Mesya mendadak berbicara terbata-bata karena panik sekaligus malu.
Wajahnya yang putih pun seketika memerah. Ia juga langsung menyatukan kedua telapak tangannya di hadapan dokter spesialis jantung tersebut sebagai tanda permintaan maaf.
"Tidak apa-apa. Santai aja. Kamu enggak usah merasa bersalah seperti itu." Azkiya menjawab ucapan gadis itu seraya memegang pundaknya.
"Iya, Dok, terima kasih. Kalau begitu saya pamit dulu. Permisi." Mesya menundukkan kepalanya sedikit, lalu bergegas pergi sambil mengigit bibir bawahnya.
"Argh ... sial banget. Baru aja gue minta maaf si Azfar, sekarang malah menggeplak kepalanya. Mana digeplaknya di depan kakaknya lagi. Aduh, malu-maluin." Mesya terus menggerutu menyesali perbuatannya.
Sementara itu, Azfar membuang napas berat sembari melirik tajam ke arah Mesya. "Sepertinya dia harus diruqiyah!"
"Sudahlah, lupakan saja. Lagi pula dia ada benernya. Kamu harus lebih sopan kalau ngomong sama orang yang lebih dewasa dari kamu. Bukannya di pondok sudah dipelajari tentang adab. Kenapa enggak dipake!" Azkiya berkacak pinggang.
"Iya, Kak, aku minta maaf." Azfar menunduk di hadapan sang kakak.
"Ya sudahlah, kamu temui dulu Tante Salwa, sebelum pulang ke rumah Ibu!" titah Azkiya kepada adik semata wayangnya itu.
"Baik, Kak, kalau gitu aku pamit. Assalamualaikum." Azfar mencium punggung kakaknya, sebelum pergi.
"Iya, waalaikumsalam. Hati-hati di jalan, nyetir mobilnya jangan sambil ngupil!" Azkiya mengangkat kedua ujung bibirnya ke atas.
Selang beberapa menit, teman sesama dokter—Syifa—datang menghampirinya dari belakang. "Selamat, ya, operasi yang elu lakuin berhasil. Keluarga pasien pasti seneng banget. Elu emang hebat. Sorry gue baru ngucapin selamat sekarang, soalnya hari ini pasien gue banyak banget!"
"Enggak apa-apa. Terima kasih, ya!" Perempuan berlesung pipi itu menggandeng sahabatnya.
"Dengan senang hati. Oh, ya, untuk merayakan keberhasilan lu, gimana kalau kita makan-makan di kay resto? Jangan lupa ajak si Hasan juga, mumpung lagi jam istirahat," kata Syifa antusias.
"Oke, ayok, tapi kita sholat Dzuhur dulu!" ajak Azkiya yang langsung disetujui oleh Syifa.
Setelah selesai melakukan kewajibannya sebagai umat Islam, mereka langsung pergi ke restoran yang ada di depan rumah sakit.
Chef utama yang bekerja di sana tidak lain adalah teman mereka. Ia menyambut kedua dokter tersebut dengan senang hati, lalu menyajikan makanan oleh dirinya sendiri.
"Gue denger-denger elu berhasil operasi cangkok jantung pasien lu, ya? Keren!" puji Kaila dengan bangga.