My Tantrum Mommy

Sukma Maddi
Chapter #1

Heal Yourself

Waktu menunjukkan pukul 22.38 malam. Selarut ini, Maia baru saja selesai mencuci dua keranjang pakaian. Wanita itu menyeka peluh di dahinya lalu melempar keranjang agar tersusun rapi. Setelah itu, ia melepaskan kutang. Seketika rasa lega dan nyaman menjalari tubuhnya setelah terbebas dari benda pembungkus sekaligus penopang itu.

Ah, hanya perempuan yang tahu rasa nyamannya ketika tali-tali yang melilit tubuh itu akhirnya dilepas.

Maia melempar begitu saja bra ke dalam keranjang.

Ia menuju dapur, membuka kulkas, mengambil sekaleng coke, lalu meraih sebungkus rokok di atas nakas. Setelah itu Maia berjalan menuju tempat favoritnya—tempat di mana ia bisa menemukan sedikit ketenangan.

Balkon apartemen kecilnya.

Maia duduk berselonjor.

Me time, ya... waktu seperti sekarang adalah waktu untuk diri sendiri.

Ia tertawa getir.

Heal yourself, deep talk di malam yang larut.

Namun beberapa malam terakhir anaknya sakit. Ia terpaksa begadang merawat putrinya yang baru berusia delapan bulan. Waktu tenangnya tersita.

Maia membakar sebatang rokok. Sejenak ia menatap langit Jakarta di kejauhan.

Ia berpikir dirinya mungkin lebih beruntung daripada Jakarta.

Jakarta tidak pernah punya waktu tenang.

Dari pagi hingga pagi lagi: berisik, hiruk pikuk, polusi, macet, dan segala intrik menyebalkan tentang hidup di kota besar.

Maia meraih ponselnya dan membuka dompet digital. Ia memicing ketika melihat saldo yang hampir kering, padahal seluruh uang yang ia miliki ada di sana.

Gajian masih lebih dari sepekan lagi.

Artinya, setelah ia berhemat, ia harus lebih hemat lagi.

Ia menarik napas panjang mengingat stok susu formula bayinya hampir habis, isi kulkas juga mulai menipis.

Maia berpindah dari dompet digital ke daftar kontak telepon. Ia terdiam di satu nama.

“Makhluk Astral.”

Siapa dia?

Mengapa Maia menamai kontak itu seaneh itu?

Dia adalah ayahnya.

Lalu mengapa Maia tega menamai ayahnya dengan sebutan makhluk astral?

Karena makhluk astral nyata adanya, tetapi keberadaannya tidak pernah dirasakan.

Sama seperti ayahnya.

Masih hidup. Masih sehat. Masih berpenghasilan.

Tetapi sebagai putri, Maia telah lama kehilangan sosok itu.

“Apa mungkin...?”

Ia menekan tombol panggil.

Sekali.

Dua kali.

Tidak ada jawaban.

Maia mengembuskan napas.

Sudah ratusan kali ia mencoba menghubungi sejak mendapatkan nomor itu. Namun ayahnya yang tanpa perasaan, ketika tahu yang menelepon adalah putrinya sendiri, selalu memilih mengabaikan.

Maia beralih ke kontak berikutnya.

Nama yang tak kalah aneh.

“Simpanse.”

Itu ternyata nomor telepon suaminya.

Mengapa simpanse?

Karena suaminya tukang selingkuh dan melepas tanggung jawab terhadap anak-anaknya.

Namun sama saja. Tidak ada jawaban.

Dua lelaki yang seharusnya menjadi tempat pulang justru mencampakkannya.

Lihat selengkapnya