My Tantrum Mommy

Sukma Maddi
Chapter #2

Nara si Julid

Maia tergesa-gesa ke kantor. Ia telat imbas berhentinya pengasuh. Maia harus menunggu Dinda pulang sekolah untuk menjaga Dylan, si bungsu, padahal Dinda pulang pukul 12.45, sementara Maia sudah harus masuk kantor pukul 10. Maia telat lebih dari satu jam.

Beruntung, setelah izin ke manager dengan alasan apa adanya, manager memberi izin.

Meski khawatir menitipkan bayi kepada si sulung yang baru berusia sembilan tahun untuk pertama kali, dan waktunya juga hingga sore, Maia hanya bisa nekat.

Mau bagaimana lagi? Kalau ia tidak kerja, mereka makan apa?

Maia bertekad akan menelepon sesempat mungkin.

*

Maia menyeka peluh sesaat setelah sampai di kubikelnya. Nara, rekan kantornya, menghampiri.

"Kok telat, Mai?"

"Iya, ada sedikit kendala. Tapi aku sudah izin kok ke Pak Manager."

"Kenapa sih?"

Maia menatap Nara. Wanita itu mungkin belum merasa mendapat penjelasan lengkap. Nara tetap berdiri di samping kubikelnya.

"Pengasuh anakku tiba-tiba berhenti, jadi aku harus tunggu kakaknya pulang sekolah biar ada yang jagain adiknya."

Nara mengangguk pelan lalu berkata blak-blakan,

"Sangat sulit ya rupanya jadi janda. Kenapa sih kamu harus bercerai?"

Maia tercengang. Matanya melebar, alisnya sedikit terangkat.

"Jadi janda itu nggak sulit. Janda itu hanya status yang mudah kuabaikan. Yang sulit itu menjaga dan menafkahi dua anak sendirian."

Maia berhenti sejenak lalu tersenyum.

"Dan oh, ya, aku sarankan kamu jangan menikah biar nggak bercerai dan jadi janda."

Menyerang balik.

Maia cukup puas melihat ekspresi wajah Nara yang tampak kesal sebelum akhirnya pergi begitu saja.

Maia mencoba kembali fokus pada file yang dikerjakan, meski pikirannya kerap pecah antara pekerjaan dan anak-anaknya di rumah.

*

Akhirnya, jam istirahat tiba.

Maia berkesempatan melakukan panggilan video.

Agak lega melihat Dinda telaten mengasuh adiknya. Dalam video call mereka, Dinda terlihat memberi susu kepada adiknya dan Dylan sangat anteng dalam pengawasan sang kakak.

"Dinda, jagain adek baik-baik, ya. Jangan keluar rumah, tunggu Bunda pulang."

"Baik, Bunda."

Yang menjadi kekhawatirannya, Dinda akan terlalu sibuk belajar dan tidak memperhatikan adiknya.

Namun, kekhawatiran itu sedikit sirna melihat Dinda cukup mengerti kondisi bundanya hingga ia berusaha sebaik mungkin menjaga Dylan.

Video call berakhir.

Maia bergegas ke dining room untuk makan siang.

Ia mengambil piring sekat dan mengecek menu lunch.

Ia teringat putrinya dan insiden sarapan pagi tadi. Makan siang yang ia siapkan untuk Dinda hanya nasi, telur dadar, dan sisa sup tadi malam.

Akhirnya, giliran Maia mengambil jatah makan.

Hari ini porsinya lebih banyak dari biasanya.

Lihat selengkapnya