Terdengar suara tangis Dylan membuat Maia mempercepat langkahnya. Suara Dylan sudah terdengar puluhan meter dari unitnya.
Begitu masuk dan mendapati bayinya sendirian di stroller, Maia segera menggendong putranya, lalu mematikan TV yang masih menyala dan menyalakan AC. Dylan tidak tenang meski siaran adalah animasi yang biasanya disukai anak kecil. Atau mungkin tayangan itu sudah diputar terlalu lama hingga Dylan bosan.
Sesaat setelah berada di gendongan ibunya, Dylan menjadi tenang.
“Dinda…” panggil Maia setengah berteriak, lalu mencari keberadaan putrinya.
Rupanya Dinda berada di dapur, tengah memunguti susu bubuk yang berserakan di lantai. Sepertinya Dinda hendak membuat susu, tetapi tanpa sengaja menjatuhkan kaleng susu.
“Dinda,” panggil Maia lagi.
Dinda menoleh. Wajah kecilnya tampak sedih saat melihat Bundanya menggendong Dylan.
“Maaf, Bunda. Dinda nggak sengaja jatuhin susunya Adek.”
Maia hanya menghela napas. Stok susu untuk beberapa hari ke depan terbuang sia-sia. Untungnya, di swalayan tadi Maia membeli sekaleng lagi.
“Ya sudah, biar Bunda yang beresin. Kamu bawa adik ke depan.”
Dinda menggendong adiknya. Maia memperhatikan putrinya yang sebenarnya masih kewalahan menopang bobot tubuh Dylan.
Maia membereskan susu yang berserakan, lalu membuat sebotol susu.
Hanya seperempat botol yang habis, Dylan sudah tampak mengantuk. Maia menggendong sebentar sambil menyuapi susu, kemudian bayi lucu itu akhirnya pulas.
Setelah menidurkan Dylan, tugas selanjutnya menanti Maia.
Kamar, ruang bermain, dan dapur laksana kapal pecah. Semua menunggu sentuhan tangannya.
“Bunda, Dinda lapar.”
Baru saja duduk bersandar, satu lagi anaknya menuntut agar perutnya terisi. Maia bangkit lalu mengeluarkan kotak makan dari dalam tas.
“Ini, makanlah.”
Dinda menerima kotak itu, membuka tutupnya, lalu mengamati isinya. Wajahnya berubah cemberut.
“Kenapa?” tanya Maia melihat ekspresi putrinya.
“Makanannya udah dingin, Bunda.”
“Makanannya cuma dingin, tapi nggak basi. Makan saja, Dinda. Setidaknya makanan ini lebih baik dari yang kamu makan tadi siang.”
Makanan tadi siang—jatah makan dari kantor yang sudah campur aduk—diberikan Maia untuk putrinya.
Tanpa protes lagi, Dinda membawa makanan itu ke meja makan lalu menyantapnya.
Maia menatap putrinya. Ada rasa sesal dan tidak berdaya memenuhi hatinya. Ia ingin anak-anaknya makan lebih baik, tetapi ia benar-benar tak berdaya karena tubuhnya yang lelah dan uang yang harus dihemat.
Usai makan, Dinda menghampiri Maia yang duduk menatap TV dengan volume sangat kecil.
Sebenarnya Maia tidak menikmati tontonan itu. Hanya pandangannya yang mengarah ke layar, sementara pikirannya kosong.
Perlahan Dinda duduk di sebelah ibunya.
“Bunda.”
“Hm?”
“Bunda capek, ya?”