My Tantrum Mommy

Sukma Maddi
Chapter #4

Meracik Obat Tidur

Maia benar-benar bingung memilih pakaian yang harus ia kenakan. Rata-rata pakaiannya sudah kuno dan lusuh. Ia teringat Nara, si gadis nyinyir yang tidak pernah kehabisan cara untuk membuat Maia tampak buruk di mata orang lain.

Pilihan Maia akhirnya jatuh pada blazer biru yang dibelinya dua tahun lalu.

Waktu menunjukkan pukul sembilan tepat. Ia harus sudah berada di kantor setengah jam lagi, tetapi ia bingung siapa yang akan menjaga Dylan. Sementara itu, Dinda baru akan pulang kurang lebih dua jam lagi.

Maia mondar-mandir di hadapan anaknya. Bayi lucu itu tampak anteng sambil menjilati mainan yang berada dalam genggamannya.

Di tengah kegelisahannya, mata Maia tertuju pada botol obat tidur yang ia konsumsi tadi malam.

Maia meraih botol itu, lalu menatap putranya.

Apa bisa?

Maia berjalan ke dapur dengan gugup dan penuh keraguan. Ia mengambil satu tablet obat, lalu membaginya menjadi dua. Sebelah ia masukkan kembali ke dalam botol, sedangkan sisanya ia haluskan menggunakan sendok. Tangannya gemetar saat melakukan semua itu.

Obat yang telah menjadi bubuk itu kemudian ia masukkan ke dalam botol susu yang sudah terisi penuh.

Susu untuk anaknya.

Jantung Maia berdebar hebat. Ia sangat cemas. Namun, cara ini mungkin bisa menolongnya.

Maia menggendong Dylan, lalu memberinya susu yang telah dicampur obat tidur.

“Maafkan Bunda, Nak.”

Tangannya masih gemetar ketika memegang botol susu itu. Maia terus menggendong Dylan sambil memberinya susu selama kurang lebih sepuluh menit.

Perlahan, bayinya mulai terlena.

Seperti yang ia harapkan, putranya akhirnya terlelap pulas.

Maia menidurkan Dylan di dalam boks bayi.

Harapannya sederhana—bayinya akan tidur dan baru bangun ketika Dinda sudah pulang. Dengan begitu, tidak akan ada masalah jika ia berangkat kerja sekarang.

Maia berusaha meredam gejolak di dalam hatinya.

*

Maia akhirnya sampai di halaman kantor.

Banyak kiriman bunga ucapan selamat atas ulang tahun perusahaan. Karena hari ini merupakan hari spesial, para karyawan tampil lebih rapi dan menarik.

Berbeda dengan dirinya.

Bahkan pulasan bedak di wajahnya sudah luntur karena ia sempat menangis tadi saat memberikan susu yang telah dicampur obat tidur kepada Dylan.

Maia berhenti di samping mobil yang ia tahu milik Lusi. Ia bercermin melalui kaca mobil untuk memoles kembali bedak dan lipstik agar wajahnya terlihat sedikit lebih segar.

Namun, dari dalam mobil, dua wanita cekikikan melihat Maia berdandan di luar.

“Aku mau videoin!” seru Nara.

“Jangan,” cegah Lusi.

“Lucu, tahu.”

“Lo itu usil, Ra. Habis lo videoin, pasti lo bagikan.”

Baru saja Nara hendak merekam, Lusi buru-buru membuka kaca jendela.

Nara kesal.

Maia terkejut dan gugup. Ia mengira tidak ada orang di dalam mobil.

Ia buru-buru memasukkan lipstik dan bedak ke dalam tas, padahal riasannya belum selesai.

“Masuk aja, Mai, kalau mau dandan,” ucap Lusi mempersilakan.

“Nggak perlu,” balas Maia ketus, lalu pergi.

Maia berada di tengah keramaian.

Lihat selengkapnya