My Tantrum Mommy

Sukma Maddi
Chapter #5

Bertemu Mantan

Lelaki itu memberikan sebotol air. Kebetulan, Maia memang tidak mengambil air sebelum makan.

“Terima kasih,” ucap Maia sopan.

Sejak tadi, lelaki itu diam-diam tersenyum memperhatikan Maia yang makan dengan lahap tanpa terusik apa pun di sekitarnya.

“Kamu nggak berubah, Mai,” ucap lelaki yang duduk di depannya, yang baru saja memberikan sebotol air.

Baru beberapa teguk, Maia menghentikan minumnya saat mendengar ucapan lelaki asing di hadapannya.

“Aku senang lihat kamu makan banyak dan masih selahap dulu.”

Maia menatap lelaki itu beberapa saat, berusaha mengingat. Tak lama, mulutnya sedikit ternganga saat akhirnya mengenali sosok itu.

“Wisnu?”

Lelaki yang baru saja disebut namanya itu tersenyum.

“Aku senang lihat cara kamu makan masih seperti dulu.”

“Wisnu? Ngapain kamu di sini?”

“Aku penasihat hukum baru di perusahaan ini.”

Maia menutup mulutnya. Di antara banyaknya bidang pekerjaan, tempat bekerja, dan luasnya bumi ini, mengapa Wisnu harus bekerja di kantor yang sama?

“Maaf, Wis. Aku nggak sadar itu kamu,” ucap Maia mendadak canggung.

Setelah sekian tahun tidak bertemu, momen pertama yang terjadi justru dirinya makan serakus itu tanpa peduli siapa yang melihat.

“Kalau tadi aku sapa kamu, mungkin kamu jadi nggak enak makan.”

Maia hanya tersenyum lalu menunduk. Ia menggaruk tengkuknya. Andai tahu akan berhadapan dengan Wisnu, mungkin ia lebih memilih duduk bersama julid Nara.

Wisnu sendiri merasa gemas. Dari tadi ia memperhatikan cara Maia makan, lalu sekarang melihat wajah perempuan itu memerah karena malu. Entah kenapa, terlihat lucu.

“Santai, Mai. Kan dulu aku juga sering lihat kamu makan.”

Maia kembali tertawa pelan. Candaan Wisnu berhasil mengusir rasa canggung di antara mereka.

“Apa kabar kamu, Mai?”

Sejenak Maia terdiam.

Pertanyaan sederhana seperti “apa kabar” dari seseorang ternyata patut disyukuri. Di antara banyak kemalangan dalam hidupnya, perhatian kecil seperti itu membuat dirinya merasa sedikit lebih berharga.

“Seperti yang kamu lihat… terimakasih telah menanyakanku.”

“Kalau suami dan anak-anakmu?”

“Anakku sudah dua. Yang sulung usia sembilan tahun dan si bungsu delapan bulan.”

“Ehm… aku jadi iri, Mai. Kamu sukses membangun keluarga, sedangkan aku masih sendiri.”

Maia hampir tidak percaya dengan pengakuan itu.

Seorang Wisnu. Sendiri?

Usia yang nyaris lewat dari masa muda, mapan, paras rupawan, karier baik.

Apa yang salah?

“Kenapa, Mai? Kenapa menatapku seperti itu?”

“Aku cuma heran. Orang sepertimu seharusnya nggak sulit menemukan seseorang.”

“Menemukan seseorang itu mudah. Yang sulit adalah kesepakatan untuk bersanding, lalu hidup berdampingan. Mungkin itu yang bikin aku terlambat.”

Maia tersenyum tipis.

“Benar. Terlambat menikah jauh lebih baik daripada salah menjatuhkan pilihan.”

Obrolan mereka berlanjut.

Lihat selengkapnya