Ia menyeka peluh di dahinya. Setelah memberi makan dan menidurkan anak-anaknya, Maia lanjut tempur—mencuci piring yang menumpuk di wastafel, mencuci sekeranjang pakaian, menyapu, dan mengepel; pekerjaan rutin sepulang dari kantor.
Pukul sepuluh lewat, seluruh sudut ruangan akhirnya bersih. Namun, tenaga Maia juga hampir habis. Ia duduk beristirahat. Sekitar sepuluh menit kemudian, bel rumahnya berbunyi.
“Maia, apa Dante ada di dalam?” ucap wanita seusia Maia itu dengan nada sangat panik.
“Dante sudah pulang dari tadi, loh, Rev.”
“Dante nggak ada, Mai!” ucapnya makin panik.
“Dante sudah pulang. Aku menyuruh Dante pulang bahkan sebelum hari gelap.”
“Ke mana Dante, Mai?”
“Reva, aku nggak tahu. Lagian, kamu kenapa baru nyariin jam segini? Ini sudah jam sepuluh lewat.”
“Aku nggak enak badan, Mai. Aku pusing dan mual tadi, jadi aku tidur. Tapi aku tidur sampai kelepasan.”
“Ya sudah, ayo kita cari Dante.”
“Nggak, Mai. Biar aku saja. Anak-anak kamu tidur, kan? Nanti kalau mereka bangun terus cari kamu. Biar aku yang cari. Mungkin Dante main sama anak-anak di unit lain.”
“Kamu cari sendirian nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa, Mai. Doakan saja supaya Dante segera ketemu.”
“Tentu, Rev.”
Reva, ibu Dante, tampak pucat. Kecemasan begitu jelas tergambar di wajahnya. Ia benar-benar sendirian mencari anaknya setelah menolak tawaran Maia. Unitnya bertetangga dengan Maia, sementara suaminya bekerja di kapal pesiar internasional.
Pikiran Maia langsung terfokus pada Dante. Di benaknya timbul firasat buruk, tetapi cepat-cepat ia usir dan memilih berharap Dante baik-baik saja.
---
Rehat sejenak, Maia berbaring di samping Dylan. Ia teringat pertemuannya kembali dengan Wisnu.
Maia bangun dan membuka laci meja di samping ranjang. Ada ponsel lama yang sudah jarang ia gunakan. Maia menyalakan ponsel itu lalu membuka galeri.
Di sana ia menemukan foto-foto kebersamaannya dengan Wisnu, lebih dari sepuluh tahun lalu.
Mereka pernah menjalin hubungan selama dua tahun. Namun, pada akhirnya Wisnu meminta mengakhiri hubungan karena harus melanjutkan pendidikan ke luar negeri dan ingin fokus.
Kepergian Wisnu saat itu menyisakan kesedihan bagi Maia.
Tak lama berselang, kemalangan seolah datang beruntun. Ibunya meninggal, dan pendidikannya hampir gagal, dan Papanya pun pergi menghilang tanpa kabar.
---
Menjelang pagi, pintu digedor keras ketika Maia sedang berada di dapur membuat sarapan.
Anak-anaknya masih tidur. Suara gedoran itu bisa membangunkan mereka.
Maia buru-buru menuju pintu. Ia panik—siapa yang datang dengan cara tidak sopan di pagi buta?
“Mai… anak aku nggak ada. Dante menghilang,” ucap Reva emosional. Wajahnya pucat dan matanya bengkak. Semalaman ia tidak tidur mencari anaknya.
“Astagfirullah… jadi Dante belum ketemu?” seru Maia panik.
Tiba-tiba Reva memaksa masuk, mendorong pintu dengan kuat hingga menimbulkan suara benturan keras.
“Anakku pasti ada di sini!”
“Dante nggak ada di sini, Rev,” cegah Maia.
“Dante! Dante! Mama di sini, Nak! Ayo kita pulang!”
Reva seperti kehilangan kendali. Ia berteriak sambil memeriksa setiap sudut ruangan.