Sepulang kantor, Maia mampir di warteg pinggir jalan. Ia membuka dompetnya. Sisa uang yang ia miliki hanya cukup untuk membeli seporsi nasi goreng. Maia mengeluarkan uang itu dan meremas lembar terakhir yang menjadi penyangga hidupnya hari ini.
Usai mendapatkan nasi goreng pesanannya, ia segera pulang menerobos hujan. Hujan memang kerap turun di sore hari dan entah kapan reda. Maia enggan berlama-lama terjebak di bawah langit yang terus menumpahkan air.
Dalam perjalanan pulang, ia menitikkan air mata.
Hal sederhana yang ia inginkan saat hujan hanyalah bersantai di bawah selimut hangat sambil memegang segelas cokelat panas. Namun, realitasnya berbeda—hanya ada seporsi nasi goreng yang harus ia bagi dengan anaknya. Itulah satu-satunya yang mampu ia beli hari ini. Tubuhnya menggigil kedinginan karena terpaksa berkendara di bawah hujan.
Maia baru saja masuk ke gedung apartemennya ketika ia berpapasan dengan polisi.
Firasatnya mendadak buruk.
Ia mempercepat langkah agar segera sampai di unitnya.
Benar saja.
Di depan unitnya, beberapa tetangga berkumpul. Mereka masih ramai meski polisi sudah pergi.
“Apa yang terjadi?” tanya Maia kepada salah satu warga.
“Polisi melakukan penyelidikan. Mereka memeriksa apartemenmu dan CCTV di sekitar sini,” jawab salah satu warga.
Maia teringat bahwa tadi pagi ia sudah memperingatkan Dinda agar tidak membuka pintu untuk orang asing. Lalu, bagaimana polisi bisa masuk jika Dinda tidak membuka pintu?
Ia bergegas masuk, khawatir Dinda ketakutan.
Begitu masuk, rumahnya tampak cukup berantakan. Ada gelas pecah dan beling berserakan.
“Dinda!” teriak Maia sambil mencari.
“Bunda...” jawab Dinda dari dalam kamar.
Dinda tersenyum ke arahnya. Ia sedang memberi susu kepada adiknya.
Melihat itu, Maia mengembuskan napas lega.
“Dinda di mana saat uncle polisi masuk?” tanya Maia, menuntaskan rasa ingin tahunya.
“Dinda di kamar ini. Maaf, Bunda. Dinda terpaksa bukain pintu untuk uncle polisi.”
“Tidak apa-apa, Nak.”
Maia mendengar penjelasan Dinda. Rupanya, Dinda membuka pintu ketika para tetangga membujuknya. Saat polisi yang berjumlah empat orang masuk, mereka menghibur Dinda agar tidak takut. Ia diberi lolipop dan cokelat, lalu disuruh belajar sambil memasang headphone di telinganya. Sementara itu, Dylan masih pulas tertidur.
“Tolong buatin susu cokelat panas, Bunda.”
“Bunda buatin teh saja, ya. Cokelatnya habis.”
“Bunda kan bisa beli di minimarket bawah.”
“Bunda nggak ada uang.”
Tiba-tiba, Dinda melempar botol susu yang isinya telah habis. Ia menjadi marah.
“Pokoknya Dinda mau cokelat panas!”
“Apa-apaan kamu, Dinda?” tegur Maia dengan suara tinggi.
Beberapa menit lalu, Dinda adalah anak dengan tingkah manis. Sekarang, ia tantrum hanya karena keinginannya tidak terpenuhi.
“Dinda mau cokelat, Bunda...” pintanya sambil terisak.
“Lihat, pakaian Bunda basah. Dinda nggak kasihan sama Bunda? Bunda pulang kantor hujan-hujanan.”
Dinda semakin menangis histeris.