My Tantrum Mommy

Sukma Maddi
Chapter #8

Kekhawatiran Maia

Siapa yang akan merangkul dengan penuh senyum? Siapa yang akan kau hubungi pertama kali saat keadaanmu tidak baik-baik saja? Siapa yang sudi menjadi sandaran ketika kau lelah?

Maia tidak punya semua itu.

Ia merasakan hidup kian sulit dari hari ke hari.

Ia berusaha menjaga kewarasannya dengan keyakinan bahwa tidak ada kehidupan yang benar-benar ideal bagi siapa pun. Semua manusia diuji dengan takaran masing-masing, termasuk dirinya. Jika bahagia tidak datang hari ini, mungkin esok akan berkunjung. Dan jika bukan esok, akan ada hari di mana bahagia itu akhirnya menghampiri.

“Bunda, kenapa Adek tidurnya selalu lama banget?” tanya Dinda saat melihat ibunya menggendong sambil memberi susu adiknya.

“Bayi memang begitu, banyak tidur,” jawab Maia.

“Bunda, apa Dante belum ditemukan?”

“Belum. Dante belum ketemu. Makanya, kalau pulang sekolah, Dinda di rumah saja, jaga Adek, jangan keluar. Kita nggak tahu, di luar banyak orang jahat.”

“Baik, Bunda. Dinda kangen sama Dante.”

“Bunda juga kangen. Kita doakan saja semoga Dante baik-baik saja dan lekas kembali.”

“Iya, Bunda.”

Mengingat Dante, masih ada kecemasan yang menggantung di hati Maia. Apalagi, bukti dari CCTV belum juga keluar.

Usai bersiap ke sekolah, Maia menggendong Dylan dan menggenggam tangan Dinda. Mereka turun bersama untuk mengantar Dinda ke sekolah.

Biasanya, saat Dante masih ada, mereka berangkat bersama dan Reva yang mengantar mereka turun untuk menunggu bus sekolah. Kali ini tugas Maia bertambah. Setiap hari ia harus mengantar Dinda turun, dan saat pulang, Maia biasa meminta tolong pada petugas keamanan di apartemen ini untuk mengantar Dinda naik ke unitnya di lantai tiga.

Saat berjalan di lorong apartemen, Maia berpapasan dengan dua orang kurir yang membawa freezer box berukuran besar. Para kurir berhenti di depan unit Marten, lalu mengetuk pintu.

Tak lama kemudian, pintu dibuka.

Marten muncul dan sempat melempar senyum ke arah Maia.

Maia berlalu dengan tanda tanya.

Untuk apa freezer box sebesar itu, sedangkan Marten tinggal sendirian?

Marten seorang bujang berusia di atas empat puluh tahun. Ia bekerja di perusahaan garmen. Selama ini Marten dikenal ramah, selalu tersenyum tiap kali bertemu, dan menyukai anak kecil. Ia sering memberi cokelat dan permen kepada anak-anak.

---

Wisnu melintas ketika Maia sedang menyusun berkas.

Jam makan siang. Maia teringat kemarin ia pergi begitu saja setelah mengiyakan ajakan Wisnu.

“Wisnu,” panggil Maia.

Wisnu menghampiri.

“Ada apa, Mai?”

“Aku lihat kamu sering di kantor.”

“Emang kamu bosan ya lihat aku keliaran di kantor ini?”

“Nggak, bukan gitu, Wis. Oh ya, maaf kemarin ada urusan mendadak, jadi kita nggak jadi lunch bareng.”

“Tidak apa-apa, Mai.”

“Bagaimana kalau sekarang kita makan? Sekalian ada yang mau aku omongin.”

“Oh, oke.”

“Tapi nggak di sini ya, Wis.”

Wisnu mengangguk menuruti keinginan Maia.

Maia meraih tas dan ponselnya. Mereka berlalu, diikuti tatapan penasaran Nara.

Lihat selengkapnya