My Tantrum Mommy

Sukma Maddi
Chapter #9

Saat-Saat Krusial Ibu dan Anak

Setelah ucapan Wisnu, Nara jadi tahu. Sepertinya, mulai besok Maia akan lebih menjadi tebal telinga. Reaksi Nara dan Lusi akan tambah menyebalkan dari hari sebelumnya.

Maia adalah sosok yang bebal dan tidak ambil pusing gunjingan orang, dan ternyata sikap masa bodoh bermanfaat untuknya. Oleh karena itu, ia tidak terpengaruh pandangan orang lain. Jika tidak, atau ia mengambil hati ucapan orang, mungkin Maia telah menjambak Nara berkali-kali.

Karena hari ini gajian, Maia singgah ke ATM, lalu ke swalayan membeli keperluan rumah. Ibu rumah tangga sepertinya, dan mungkin juga ibu-ibu lain; padatnya aktivitas, kurangnya waktu untuk diri sendiri, dan keuangan terbatas—jangankan liburan mancanegara atau domestik, ke swalayan saja, merasakan sejuknya pendingin ruangan serta barang lengkap yang tersusun rapi, itu sudah jadi hiburan.

Maia berada di konter kosmetik. Ia mengambil beberapa, tapi ia letakkan kembali dalam rak setelah membaca harga tertera pada kemasan. Pengeluaran untuk kebutuhan dapur dan susu jauh lebih penting.

Ia masih betah di swalayan, tapi setelah melihat jam, ia harus buru-buru. Anaknya menunggu.


Sebelum tiba di unitnya, suara tangis anaknya sudah terdengar. Meski naik tangga dan menenteng belanjaan, suara tangis Dylan memaksa Maia mengerahkan tenaga untuk memacu langkah lebih cepat agar segera sampai.

Setelah masuk, benar saja, Dylan menangis. Mukanya merah dan berkeringat, tandanya bayi itu telah menangis hebat dan lama. Botol susunya berserakan di lantai; botol dan tutupnya terpisah, popoknya basah karena pipis dan jamban.

Ke mana Dinda hingga membiarkan adiknya seperti itu?

Dinda tak jauh, hanya saja membelakangi adiknya tanpa peduli. Ia sedang belajar. Gadis itu teramat tenang terlihat karena di telinganya terpasang headphone.

Maia yang lelah malah naik pitam. Ia mencengkeram lengan anaknya dan menghentakkannya.

“Kenapa kau tidak peduli pada adikmu?!” hardik Maia pada putrinya.

Sejenak Dinda hanya menatap ibunya, lalu kembali beralih pada bukunya, membuat Maia semakin geram.

Akhirnya, Maia menarik headphone Dinda, lalu membantingnya.

“Dinda nggak mau lagi urus Dylan. Dinda butuh belajar!” Dinda juga berteriak melawan ibunya.

Maia hampir hilang kendali. Sebelah tangannya sudah terangkat untuk menampar Dinda. Untungnya, itu tidak terjadi. Maia tidak melakukan hal yang nantinya akan ia sesali.

“Dinda jadi bodoh, Bunda. Dinda mau belajar. Kenapa Dinda terus yang harus menjaga Adek?” ucapnya sambil terisak.

“Apa Dinda nggak sayang lagi sama Adek? Dinda nggak sayang lagi sama Bunda?”

Ketika Maia terisak, muncul rasa sesal di hati gadis kecil itu. Ia meraih tangan Maia, tapi Maia menghempaskannya. Ia berlalu mengambil Dylan untuk membersihkan tubuh bayi itu.

Maia menangis sambil memandikan putranya. Rasa bersalah dan tak berdaya menghantui.

Usai memandikan, Maia memberi makan dan susu lalu menidurkan. Ia menjadi cemas ketika suhu badan anaknya terasa panas.

Lihat selengkapnya