Dalam gelas yang cukup besar terisi penuh cokelat panas. Maia hendak membayar ketidakberdayaannya ketika putrinya menangis meminta segelas cokelat panas yang tidak mampu ia kabulkan kemarin.
Maia juga membuat sarapan sekaligus makan siang untuk Dinda dengan menu kesukaan: sup krim jamur dan udang asam manis. Usai memasak, ia menyuapi Dinda.
“Tadi malam Bunda periksa buku Dinda. Nilai Dinda semuanya bagus.”
“Tapi kemarin nilai Dinda cuma tujuh, Bunda.”
“Bukan berarti dapat nilai tujuh itu Dinda bodoh. Nilai tujuh itu cukup, delapan itu bagus, sembilan itu istimewa, dan sepuluh itu sempurna,” tuturnya sambil terus menyuapi.
“Kalau Dinda sudah belajar maksimal, tapi hasilnya cuma nilai tujuh, ya nggak apa-apa. Kan Dinda sudah berusaha.”
“Tapi Dinda harus dapat nilai sepuluh, Bunda.”
“Bunda juga senang banget kalau Dinda dapat nilai sepuluh. Tapi kalau nilai Dinda cuma tujuh, jangan menyalahkan diri sendiri, apalagi menyalahkan Bunda sama Dylan, ya, Nak.”
“Iya, Bunda.”
“Bisa nggak Dinda jagain Dylan lagi? Kasihan adik banyak nangis sampai sakit. Bunda janji Bunda nggak akan marah-marah lagi, bantuin Dinda kerjain PR, Bunda juga akan masak makanan kesukaan Dinda dan buat cokelat panas.”
“Iya, Bunda. Dinda bisa jagain Adek.”
“Anak baik, anak cantik, anak Bunda paling keren.”
Maia mencium pipi dan memeluk Dinda.
Seharusnya memang seperti ini—dibicarakan dengan tenang, bukan dengan amarah hingga timbul perselisihan yang menguras emosi.
Usai mengurus Dinda hingga berangkat ke sekolah, sekarang giliran Dylan. Ada kekhawatiran yang terus mengusik karena putranya masih demam.
Di atas meja, Maia dihadapkan pada dua pilihan untuk anaknya. Ada dua botol obat: satu paracetamol untuk pereda demam, satunya lagi obat tidur yang biasa ia berikan pada putranya.
Maia dilema.
Ia mengambil paracetamol, sejenak mengamati kandungan obat, lalu menghela napas. Perlahan ia meletakkan kembali paracetamol dan memilih mengambil botol obat tidur.
Namun, obat tidur itu ia simpan kembali di kotak obat.
Paracetamol lebih dibutuhkan anaknya. Dalam obat itu ada kandungan yang membuat mengantuk. Dylan akan tetap tertidur meski efeknya tidak seperti obat tidur.
Dylan hanya sendirian sekitar sejam sebelum Dinda pulang.
Setiap kali harus memberikan obat pada anaknya, hati Maia selalu dipenuhi rasa takut bercampur nekat.
---
“Siang, Mai,” sapa Wisnu ketika melintas di depan kubikel Maia.
“Siang, Wisnu,” sambut Maia.
Setelah Wisnu berlalu, giliran Nara menyambanginya dengan raut muka menyebalkan seperti biasanya.
“Lo nggak bisa, ya, panggil lebih formal ke Pak Wisnu?” ucapnya sambil melipat tangan.
“Wisnu nggak keberatan,” jawab Maia acuh tanpa menoleh. Ia tetap sibuk dengan laptop di depannya.
“Lo itu cuma mantan. Sekarang nggak ada apa-apanya.”
“Tahu, nggak usah diperjelas, sayang. Wisnu juga, sih, dari sekian banyak gadis di sini yang jauh lebih baik dari aku dan berpotensi jadi pacar, malah aku, sang mantan, yang keseringan ia sapa. Padahal siapalah aku,” selanya sambil memasang wajah polos.
“Bisa jadi ada rayuan maut dari mantan,” sindir Nara tak mau kalah.
“Rayuan maut? Kayaknya seseorang bisa belajar sama aku gimana cara merayu daripada nyinyir. Siapa tahu dengan merayu bisa jadi beruntung.”
Telak.
Semua ucapan Nara selalu ada balasan menyebalkan dari Maia.
Akhirnya Nara kembali ke kubikelnya sambil menggerutu.