My Tantrum Mommy

Sukma Maddi
Chapter #11

Wanti-Wanti

Pukul sepuluh malam, kegelisahannya sedikit teratasi melihat Dinda mulai pulih. Bahkan, ia sempat bermain dengan adiknya sebelum tidur.

Maia membujuk putrinya seharian dan berusaha menciptakan rasa aman serta nyaman.Patut disyukuri, ia datang tepat waktu sehingga Marten tidak sempat melakukan hal yang lebih jauh pada putrinya. Namun, Maia sendiri belum sepenuhnya tenang mengingat ucapan Marten. Atau jangan-jangan ancaman bahwa ia akan dilaporkan hanyalah gertakan semata? Buktinya, malam semakin larut dan Marten tak kunjung datang membawa polisi.

Maia tidak menunggu, tetapi menyiapkan diri jika sewaktu-waktu polisi benar-benar datang. Ia telah merangkai kata-kata pembelaan.

Maia juga menelepon Wisnu, meminta tolong sekaligus nasihat, seolah sedang memperkuat pertahanannya sendiri. Seberani itu Maia ingin melawan Marten. Baginya, menghajar hingga babak belur adalah balasan yang pantas diterima laki-laki itu.

Ibu mana yang tidak pasang badan jika menyangkut keselamatan anak-anaknya? Ia jadi sulit tidur malam ini.

Beruntung besok hari Minggu dan ia libur. Apalagi suhu tubuh Dylan sudah normal, putranya perlahan sembuh. Maia akan menghabiskan waktu liburnya bersama anak-anak esok.

Belakangan begitu banyak yang terjadi. Semua itu lebih banyak meninggalkan hal-hal yang tidak mengenakkan dan bisa menjadi guncangan mental bagi putrinya.

Hilangnya Dante, nyaris dilecehkan, serta kekerasan yang ia lihat tepat di depan matanya.

Hari ini Maia hendak membawa anak-anaknya bermain di playzone. Mereka butuh sedikit hiburan.

Sejak pagi Maia sudah mempersiapkan anak-anaknya, memandikan mereka, dan menyiapkan sarapan.

“Bunda, Dinda kangen sama Dante. Biasanya main di playzone bareng Dante.”

“Dante belum ketemu, Sayang. Kita doakan Dante, ya.”

Dinda diam sesaat, lalu berkata polos, “Bunda, apa Om Marten jahat, ya? Om Marten juga suka cium Dante. Om Marten juga suka pegang-pegang pantat Dante. Dante pernah menangis karena pantatnya sakit diremas Om Marten.”

“Astagfirullah…”Maia benar-benar kaget atas pengakuan putrinya. Ia bersandar pada dinding. Dadanya sesak, pikirannya kosong sesaat.

Marten… Manusia macam apa dia? Pedofil yang tinggal di apartemen yang sama… dan apakah penghuni apartemen ini ada yang menyadari? Apakah Marten ada hubungannya dengan hilangnya Dante? Apakah itu alasan Marten tidak jadi melaporkan dirinya? Berbagai pertanyaan mendadak muncul di benak Maia.

*

Wisnu melambaikan tangan ketika melihat Maia dari kejauhan. Maia membalas lambaian itu tanpa beranjak dari duduknya. Ia tetap mengawasi anak-anaknya yang sedang bermain di zona bermain.

“Sudah lama, Mai?”

“Nggak juga.”

Lihat selengkapnya