Hal sederhana yang dilakukan Maia hari ini membuat anak-anaknya tampak bahagia. Selanjutnya, Maia ingin lebih sering mengajak mereka bermain. Untuk itu, Maia mulai memikirkan cara memperoleh pendapatan selain gaji dari kantor.
Marketing affiliate dan dropshipper mungkin harus dicoba Maia. Ia membuka laptop dan menelusuri cara kerjanya. Namun, perhatian Maia tertarik pada lowongan freelance writer, sebab ia punya kemampuan menulis yang cukup mumpuni. Dari teenlit, novela, novel, hingga cerpen sudah ia terbitkan secara online. Sedangkan menulis artikel sesuai kebutuhan pengiklan sepertinya tidak terlalu sulit bagi Maia.
Maia tersenyum. Sepertinya ia harus mengembangkan bakatnya dan menantang diri lebih jauh.
*
Semangat Maia seperti telanjur membara untuk mendapatkan pekerjaan tambahan. Hari ini ia mengerjakan langkah demi langkah untuk membangun portofolio dan menulis artikel. Ia mulai mengerjakannya saat jam istirahat siang—makan sambil terus menatap layar komputer.
“Serius amat, Mai. Ini jam istirahat, loh!” tegur Wisnu.
Ia meletakkan sekotak stroberi di meja Maia. Hanya itu, lalu Wisnu pergi tanpa berbincang lebih lama.
“Thank you, Wisnu.”
Maia girang mendapatkan buah kesukaannya. Betapa senangnya ia, Wisnu masih ingat buah favoritnya itu. Cara Wisnu memperlakukannya masih sama, meski hubungan mereka saat ini sudah berubah. Kekasih ataupun teman, Wisnu selalu menjadi sosok yang peduli padanya.
Maia bekerja santai, tetapi tetap serius hingga tanpa terasa sore menjelang. Selain pekerjaan yang diselesaikan dengan semangat, Maia juga tidak sabar ingin bertemu anak-anaknya. Entah mengapa, rasa rindunya membuncah.
Ia berada di parkiran ketika Nara dan Lusi tiba-tiba muncul di hadapannya.
“Ada apa?” tanya Maia melihat kedua rekannya datang dengan wajah kecut dan tidak bersahabat.
“Minggu kemarin lo ke mana?” tanya Lusi sambil melipat tangan.
“Bawa anak-anak aku bermain di playzone.”
“Sambil nge-date sama Pak Wisnu,” sahut Nara.
“Apaan sih kalian?” Lagi dan lagi masih saja tentang Wisnu. Maia mulai jengah dengan tuduhan mereka.
“Kita lihat, kok. Kita juga ke mal kemarin,” tambah Nara.
“Terus kenapa kalau aku ketemuan sama Wisnu? Kita memang temenan dari dulu.”
“Nggak yakin kalau lo sama Pak Wisnu cuma sekadar teman,” bantah Lusi.
“Terus aku harus gimana kalau kalian nggak percaya?”
Pertanyaan Maia membuat Nara dan Lusi saling diam.
“Kalian suka, ya, sama Wisnu?”
Nara dan Lusi hanya bertukar pandang.
“Harusnya kalian baik-baik sama aku. Aku temannya Wisnu, siapa tahu kalian butuh bantuanku nanti.”
Kedua gadis itu tetap diam. Sikap mereka seolah membenarkan ucapan Maia. Masuk akal—mereka tidak ingin mengganggu teman dari orang yang mereka sukai.
Ponsel Maia berdering. Nama Wisnu tertera.
Panjang umur. Baru saja lelaki itu menjadi objek pembicaraan.
Maia menerima panggilan di depan kedua gadis itu. Bukan bermaksud membuat mereka panas, tetapi berharap mereka percaya bahwa Wisnu benar-benar hanya teman.
“Halo, Wisnu.”
Beberapa detik kemudian, wajah Maia berubah.