My Tantrum Mommy

Sukma Maddi
Chapter #13

Balon Pelangi untuk Dante

Dua hari berlalu. Besok Maia akan kembali ke kantor. Sebelum itu, Maia hendak bertemu Reva untuk mengucapkan belasungkawa, permohonan maaf, dan penyesalannya.

Sayang, semenjak pemakaman Dante, Reva belum pulang ke apartemen.

Saat ini, Maia dan Dinda berada di atap gedung apartemen. Maia dan Dinda membawa puluhan balon gas berwarna pelangi. Itu untuk mengenang Dante.

“Dante, nanti kita main lagi, ya, di surga,” ucap Dinda sambil menahan tangis.

“Dinda bakal kangen sama Dante.”

Kali ini, tangis Dinda pecah dan tak lagi terbendung.

Maia jongkok, memosisikan tubuhnya sejajar dengan Dinda, lalu mengusap air mata putrinya.

“Kalau Dinda kangen Dante, Dinda berdoa, ya, Nak. Dante sekarang bahagia di sisi Allah. Suatu saat, kita akan berjumpa lagi.”

Maia kembali berdiri, menarik napas panjang.

“Dante, maafin Bunda, ya, Nak. Maafin Bunda. Selamat beristirahat di surga…”

Ada air mata yang berusaha ia tahan. Maia harus tetap kuat demi putrinya.

Maia menatap Dinda lalu memberi isyarat dengan anggukan. Dinda paham.

Mereka bersamaan melepas balon.

Balon-balon itu terbang, terbawa angin, semakin lama semakin tinggi dan menjauh. Bersamaan dengan itu, seperti ada sesuatu yang selama ini melilit hati Maia ikut terangkat.

Maia tersenyum kecil, membayangkan Dante melihat dari kejauhan dan melambaikan tangan terakhir untuk ibu dan anak itu.

“Mari, Nak. Kita turun.”


Namun, langkah mereka terhenti.

Di depan sana berdiri Reva dan suaminya. Mereka juga membawa balon dan melihat apa yang dilakukan ibu-anak itu.

Reva menghampiri. Maia mematung.

Wajah seorang ibu yang baru kehilangan anaknya terlihat jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.

“Mai…”

Reva maju dan memeluk Maia.

Sesaat Maia diam, lalu membalas pelukan itu.

“Maafin aku, Rev,” lirih Maia.

Reva melepas pelukannya lalu menatap mata Maia.

“Nggak, Maia. Justru akulah yang harus minta maaf. Aku kasar sama kamu dan sempat menuduh kamu.”

“Tapi aku…”

“Mai, kalau bukan karena andil kamu, mungkin anak aku belum ketemu. Jadi, berhenti menyalahkan diri.”

Ibu mana yang tidak hancur kehilangan anak?

Jika seseorang kehilangan orang tua, ada sebutan yatim atau piatu. Tapi orang tua yang kehilangan anak tidak memiliki sebutan apa pun.

Mengapa?

Karena tidak ada kata yang cukup untuk menggambarkan penderitaan kehilangan seorang anak.

Begitu pula wanita di depan Maia.

Ia hanya sedang belajar tegar.

Namun, siapa yang benar-benar bisa memahami penderitaannya selain sesama wanita yang pernah memeluk anaknya dan takut kehilangan?

*

Begitu banyak kejadian yang terjadi dalam hidup Maia.

Namun, kisah Dante akan menjadi salah satu yang paling membekas.

Dante telah pergi selamanya, tetapi ia akan terus hidup di hati orang-orang yang mencintainya.

*

Lihat selengkapnya