Tumben kedua anaknya pulas tertidur ketika ia baru sampai. Pantas saja Dinda tidak keluar kamar meski Reva berkunjung dan mereka sempat berbincang cukup lama.
Karena hari mulai menghampiri petang, Maia hendak membangunkan anak-anaknya. Ia tidak membiasakan anaknya tidur saat petang.
Dinda bangun dengan mudah setelah dipanggil sekali dan puncak kepalanya diusap pelan. Lalu, Maia beralih ke Dylan. Ia mendadak panik saat menyentuh tubuh putranya yang terasa panas.
“Bunda, tadi Adek muntah. Adek juga nggak mau minum susu,” info Dinda dengan wajah murung.
Alis Maia berkerut. Ia menggendong putranya. Dylan memang menjadi lebih rentan sakit. Bulan lalu sakit, sekarang sakit lagi.
Dylan harus makan lalu minum obat.
Maia berhasil membangunkannya, tetapi sejak membuka mata, Dylan menjadi gelisah. Bayi itu rewel, menangis, menolak susu dan makanan meski berada dalam gendongan Maia.
Lelah dan bahkan belum sempat mengganti baju, Maia bergumul menenangkan putranya. Dylan menangis keras. Maia bingung. Tidak biasanya putranya menangis sampai wajahnya memerah dan keringat mengucur dari dahinya.
Hingga malam hampir larut, Dinda masih menunggui ibunya yang terus berusaha menenangkan adiknya.
“Dinda tidur saja. Besok sekolah, kan? Nanti Dinda ngantuk di kelas kalau tidurnya larut malam,” ucap Maia.
Ia kasihan pada anak sulungnya itu. Seharian mengurus adiknya. Maia tahu putrinya sama sepertinya—lelah dan khawatir.
Dinda menurut. Ia masuk ke kamar.
Menghadapi putranya yang menangis hampir tanpa jeda, Maia akhirnya ikut menangis.
Ada yang salah dengan putranya.
Ada bagian yang sakit dan membuatnya tidak nyaman, tetapi Maia tidak tahu di bagian mana.
Waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Dylan masih menangis, meski suaranya tak sekeras tadi. Bayi itu sudah lemas tanpa makanan dan susu. Sekalipun berhasil masuk, tidak lama kemudian makanan itu akan dimuntahkan kembali.
Sang bayi mengalami kelaparan dan dehidrasi hingga tubuh kecilnya nyaris tak bertenaga.
Maia tidak tahan melihat putranya. Dadanya terasa sesak oleh rasa prihatin.
Ia membangunkan Dinda lalu bersiap dengan tergesa-gesa, memasukkan beberapa lembar pakaian ke dalam tas.
Maia membawa anak-anaknya ke rumah sakit di dini hari itu.
Ia mengendarai motor. Dinda duduk di belakang, menggigil kedinginan sambil memeluk ibunya. Sedangkan Dylan digendong menggunakan baby wrap.
---
Hati Maia teriris mendengar jeritan kesakitan putranya saat jarum menembus kulit menuju pembuluh darah.
Maia menarik napas panjang dengan perasaan masygul.
Andai bisa ditukar, ia rela dirinya yang sakit daripada anak-anaknya.
Bersyukur, setelah mendapat penanganan dari tim medis yang bergerak cepat, Dylan mulai tenang.
Bayi itu akhirnya bisa tidur.
Maia mengganti popok putranya dan mendapati ruam di dada serta lengannya. Napasnya juga naik turun seperti berat untuk ditarik.
“Ibu Dylan,” panggil suster.
Maia menoleh.
“Dokter memanggil Ibu ke ruangannya.”
“Baik, Sus."
“Mari, Bu. Ikut saya.”
Maia bergegas.
“Dinda, tolong jaga Adek. Bunda mau ketemu dokter.”
“Baik, Bunda.”