My Tantrum Mommy

Sukma Maddi
Chapter #15

Bayi Kecil dan Ibu yang Bertahan

Usai menebus obat, lagi-lagi Maia mendengus. Harga obat cukup menguras dompet, padahal ini masih pertengahan bulan.

Dari apotek dan membeli sarapan, Maia kembali ke ruangan anaknya. Di lorong rumah sakit, ia berpapasan dengan jenazah yang didorong perawat menuju mobil ambulans, diiringi seorang ibu yang menangis histeris. Kemungkinan besar itu adalah ibu dari anak yang telah pergi.

Tangisan itu terdengar begitu memilukan hingga seolah menularkan rasa sedih kepada siapa pun yang mendengarnya.

Maia berhenti sejenak. Matanya mengikuti jenazah itu dinaikkan ke mobil hingga akhirnya ambulans membawa tubuh kecil itu pergi.

“Sus, jenazah barusan kenapa?” tanya Maia kepada perawat yang melintas. Entah mengapa, perhatiannya tertuju penuh pada kejadian itu.

Perawat berhenti sebentar lalu menjawab, “Anak laki-laki, usianya kurang lebih dua tahun, Mbak. Dia mengalami pneumonia. Sayangnya, orang tuanya sangat terlambat membawanya ke rumah sakit, jadi penanganannya juga terlambat dan anak itu tidak mampu bertahan.”

“Begitu ya, Sus. Terima kasih infonya.”

Perasaan Maia mendadak tak karuan. Gelisah.

Ia mulai overthinking karena putranya juga menderita penyakit yang sama.

Maia meletakkan sarapan di atas nakas, lalu duduk di samping putranya sambil terus meyakinkan diri bahwa anaknya akan kembali sehat. Akan baik-baik saja. Bayinya kuat.

Ia berusaha mengusir rasa khawatir yang tumbuh setelah mendengar penuturan perawat tentang jenazah yang baru saja dipulangkan.

“Bunda, ayo kita makan,” ajak Dinda sambil membuka bungkusan sarapan yang dibeli Maia.

“Makan dulu saja, Nak. Bunda belum lapar.”

Seseorang yang pikirannya berkecamuk kadang kehilangan selera makan. Begitulah yang kini dirasakan Maia.

Bayinya sakit. Sekolah Dinda. Pekerjaan. Keuangan yang makin menipis, sementara gajian masih lama.

Selang beberapa saat kemudian, Dylan terbangun.

Namun, bayi itu terlihat semakin sulit menarik napas. Ia menangis lemah, tubuhnya masih dalam kondisi demam tinggi.

Maia panik lagi ketika Dylan tiba-tiba muntah lalu kejang.

Tangannya gemetar saat memencet tombol nurse call, berharap tim medis datang secepat mungkin.

Perawat tanggap dan segera datang.

Dua orang perawat tampak ikut tegang melihat Dylan kejang. Meski begitu, karena mereka tenaga profesional, keduanya tetap tenang. Salah satu perawat mengambil Dylan dari gendongan Maia lalu membaringkannya dengan posisi miring.

“Suster, tolong anak saya...” ucap Maia dengan suara tercekat saat melihat wajah putranya mulai pucat kebiruan.

“Ibu tenang, anak yang demam tinggi memang rawan mengalami kejang,” ucap suster berusaha menenangkan.

Satu perawat lagi keluar lalu kembali bersama dokter dan beberapa alat medis.

Maia sedikit mundur, memberi ruang agar tim medis leluasa bekerja.

Beberapa saat kemudian, bayinya pulih dari kejang. Maia mengusap dada.

Ia punya dua orang anak dan sudah biasa menghadapi anak yang kejang, tetapi kali ini berbeda.

Durasi kejang Dylan terasa lebih lama. Sebelumnya, ia juga muntah. Ditambah lagi, wajah bayinya sempat membiru.

Tangis Dylan akhirnya mereda ketika dokter menyuntikkan obat melalui cairan infus dan memasangkan ventilator sebagai alat bantu napas.

Usai tindakan dilakukan, perasaan Maia sedikit lega.

Lihat selengkapnya