Karena kehadiran Rani, akhirnya Dinda bisa berangkat sekolah dan Maia juga bisa bekerja hari ini, meski kemungkinan besar besok ia harus absen lagi.
Pagi-pagi, Rani sudah berada di rumah sakit.
Kondisi bayinya lebih baik dari kemarin. Ia tidak lagi muntah dan demamnya juga sudah reda. Namun, bayi itu masih menolak makan dan napasnya masih terdengar berat.
Maia membeli sarapan untuk Rani, kemudian mengantar Dinda ke sekolah. Ia pergi lebih cepat karena jarak rumah sakit ke sekolah Dinda lumayan jauh. Setelah itu, barulah Maia bersiap ke kantor. Ia numpang mandi dan berganti pakaian di rumah sakit.
“Siapa yang menjemput Dinda pulang sekolah nanti, Mbak?” tanya Rani.
“Bus sekolah menurunkan Dinda di depan apartemen, lalu Dinda ke sini naik ojek online.”
“Putri Mbak Maia sangat berani.”
“Bukan cuma berani, Dinda juga sangat cerdas. Nilai akademiknya nyaris sempurna dan itu sudah seperti obsesinya. Kadang aku kewalahan menghadapi frustrasinya kalau nilai yang didapat tidak sesuai ekspektasi.”
“Wah! Aku yakin suatu saat Mas Rama akan menyesal. Punya anak cerdas dan lucu, tapi disia-siakan.”
Maia memaksa tersenyum menanggapi ucapan Rani.
Benar.
Jika Rama masih punya perasaan, suatu hari ia akan menyesal.
---
Jam istirahat siang yang hanya satu jam berniat Maia manfaatkan untuk kembali ke rumah sakit menjenguk putranya. Satu jam cukup baginya. Setidaknya, dengan melihat langsung kondisi anaknya, hatinya bisa sedikit tenang.
Ia bekerja dengan tenang. Sesekali melirik ke arah kubikel Nara. Rekannya itu tidak masuk. Entah apa yang terjadi padanya. Maia juga belum sempat menanyakan keadaan Nara kepada rekan lain.
Akhirnya, jam istirahat tiba.
Maia meregangkan jari-jari yang letih karena ketikan yang seolah tak ada habisnya. Sejam lalu, ia sempat menelepon Rani menanyakan kondisi anaknya.
Kata Rani, bayinya lebih banyak tidur hingga ia bingung bagaimana cara memberinya makan.
Namun, Maia mencoba menenangkan.
Cairan infus akan mencegah dehidrasi, menyeimbangkan elektrolit, dan mengganti nutrisi yang hilang. Lagi pula, bayinya sedang sariawan, jadi wajar jika ia sulit makan dan mudah rewel.
Tinggal tiga puluh menit lagi sebelum jeda kerja selesai.
Maia yang merasa haus hendak mengambil air di dispenser.
“Oh ya, Lusi. Kenapa Nara tidak masuk?” tanya Maia pada Lusi yang baru saja mengisi tumbler.
“Aku nggak tahu.”
Tanpa menoleh ke arah Maia, Lusi pergi begitu saja.
Ada apa dengannya? Dulu, ia tidak sejutek itu.
Dulu hanya Nara yang menyebalkan setengah mati. Sekarang, justru Nara lebih bersahabat, sementara Lusi berubah dingin tanpa alasan yang Maia ketahui.
Maia kembali ke kubikel mengambil tas dan bersiap kembali ke rumah sakit.
Namun, sebelum melangkah, ponselnya bergetar.
Panggilan dari Rani. Kening Maia mengerut.
Di seberang sana terdengar suara panik Rani bercampur tangisan putranya.
Seketika, rasa cemas merambat memenuhi dada.