My Tantrum Mommy

Sukma Maddi
Chapter #17

Kehilangan Pekerjaan

Lelah sendirian, namun percayalah, menikah dengan orang yang membiarkan diri sendirian jauh lebih lelah. Sendiri mengurus dan membiayai anak, sendirian menyokong tanggung jawab. Lelah sendirian sudah cukup lama dirasakan Maia.

Rani telah berpamitan. Siang ini Maia juga harus prepared, sudah diperbolehkan pulang.

Perasaan bahagia karena putranya telah sembuh seperti harus dirayakan. Namun, perasaan yang mengganjal saat ini hanya urusan pekerjaan, jadi ia memutuskan mengajukan cuti.

Usai anaknya tidur, Maia mengganti pakaian, memakai daster—pakaian kesukaan ibu-ibu—lalu menatap wajahnya di cermin.

Rambut kusut dan lingkar mata hitam, kurang mengurus diri hingga tampak menua dari usia sebenarnya. Maia menggeleng. Selanjutnya, cermin itu seolah menjadi musuhnya.

Maia mengambil kertas untuk menulis proposal ajuan cuti. Cuti kali ini meleset dari planning-nya. Seharusnya ia cuti ketika cukup uang, agar masa cutinya bisa membawa anak-anaknya liburan.

Ia juga hendak ke salon dan melakukan hal lain untuk memanjakan diri. Sayangnya, ia terdesak situasi dan harus mengambil cuti lebih cepat.

Ponselnya berdering. Maia segera meraih. Ternyata pesan dari Lusi yang menyuruhnya mengecek email.

Pikir Maia, mungkin tugas dari kantor. Kemarin tugas memang sangat menumpuk, belum terselesaikan sebelum ia meninggalkan kantor di jam istirahat siang, lalu Maia tak kembali lagi.

Maia membuka laptop lalu mengecek emailnya. Ia membaca pesan yang dikirim pihak perusahaan.

Setelah membaca keseluruhan teks, sejenak Maia termangu. Ia sekali lagi membaca teks itu untuk memastikan.

Itu bukanlah tugas yang harus ia kerjakan, melainkan pemberitahuan pemutusan hubungan kerja. Maia dipecat.

Dadanya berdebar hebat setelah membaca pesan itu.

“Apa lagi ini, Ya Tuhan…” Maia tersandar, serasa seluruh otot dan persendian tubuhnya melemah.

Kesulitan demi kesulitan seakan betah menyapanya.

Tak tahan menahan sedih kehilangan pekerjaan, Maia akhirnya menangis.

Ia tak dapat membayangkan kemelaratan tanpa pekerjaan—satu-satunya sumber pendapatan untuk melanjutkan hidup.

Dinda keluar dari kamar.

Ia menghampiri bundanya yang sedang kalut. Namun, sebelum mengutarakan kepentingannya, gadis kecil itu bingung mendapati ibunya menangis sedih.

“Kenapa Bunda menangis?” Ia lalu mengusap air mata Maia. “Jangan sedih, Bunda.”

Maia menatap putrinya. Bagaimana caranya ia menyokong kehidupan anak-anaknya jika tanpa penghasilan? Sandang, pangan, dan papan butuh uang.

Maia memeluk putrinya.

Ia butuh sesuatu untuk menguatkan, dan sesuatu itu adalah anak-anaknya.

Lihat selengkapnya