Setelah ia datang ke sekolah Dinda untuk mendengar penjelasan guru tentang Dinda, anaknya itu ternyata juga merupakan kandidat untuk mengikuti lomba.
Anak itu memiliki kecerdasan di atas rata-rata, dan menurut penuturan guru, Dinda saat ini adalah aset sekolah. Itulah sebabnya Dinda diberi beasiswa sebagai apresiasi, sekaligus agar ibunya tidak kewalahan dengan biaya sekolah, karena pihak sekolah mengetahui bahwa ibu Dinda adalah orang tua tunggal yang menanggung seluruh kebutuhan keluarga seorang diri.
Jumlah beasiswa Dinda terbilang cukup besar, namun Maia berjanji uang itu akan ia pergunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan sekolah saja.
Kebutuhan sekolah Dinda sudah tertutupi, tetapi untuk kebutuhan sehari-hari, Maia masih terus memikirkan cara. Uang di dompetnya semakin menipis, sementara sisa gaji setengah bulan baru akan masuk di hari gajian.
*
Hari ini Maia datang ke kantor untuk mengambil barang-barangnya. Campur aduk perasaannya ketika mengemasi barang di kubikelnya. Bagaimana tidak, ia telah bekerja di perusahaan itu selama dua tahun.
Ia masih ingat betul rasa bahagianya saat lolos kualifikasi dan diterima bekerja. Namun kini, ia harus hengkang karena dinilai indisipliner.
Mungkinkah masih ada keajaiban? Apakah pemecatannya bisa ditangguhkan, atau kesalahannya masih bisa dimaafkan setelah ditelusuri, mengingat ini adalah kesalahan pertamanya?
Maia menatap ke arah kubikel Nara. Penghuninya sudah lama tak ia lihat. Kubikel yang letaknya tak jauh darinya itu kini hanya menyisakan kenangan.
Nara, si pengganggu yang dulu menyebalkan, akhirnya menjadi sahabat. Sayangnya, saat mereka mulai akrab, Maia justru harus berhenti bekerja di kantor ini.
Setelah barang-barangnya selesai dikemas, Maia menuju toilet. Di sana, ia bertemu Lusi—hanya mereka berdua.
Di dalam bilik toilet, Maia membuka dompetnya dan menghitung sisa uang yang ada. Ia menghela napas panjang.
Jelas, uang itu tidak akan cukup hingga akhir bulan. Sebenarnya, setelah melihat Lusi, Maia memikirkan sesuatu.
Akhirnya, dengan rasa canggung dan ragu, Maia menghampiri Lusi yang tengah sibuk merapikan riasan.
“Lusi,” panggil Maia.
Lusi menatapnya sekilas, lalu kembali sibuk memakai bedak.
“Lusi, bolehkah aku pinjam sedikit uang darimu?”
Fokus Lusi teralih ke Maia.
“Pinjami aku, hanya beberapa hari saja,” pinta Maia dengan suara terbata.
“Kamu terlalu percaya diri minta pinjaman, padahal kamu sudah tidak berpenghasilan sekarang.”
“Tolonglah, Lusi. Aku akan kembalikan secepatnya,” pinta Maia.
“Bagaimana mungkin aku meminjami uang pada orang yang baru saja dipecat?”
“Aku masih punya setengah bulan masa kerja. Bulan depan aku tetap menerima gaji, setelah itu akan langsung kukembalikan,” tatap Maia berusaha meyakinkan.
“Maaf, Mai, tapi aku juga sedang banyak kebutuhan,” jawab Lusi sambil mengemasi barangnya dan berbalik pergi.