“Apa Papa tidak rindu padaku seperti aku yang sangat merindukan Papa?”
Lelaki paruh baya itu masih terdiam.
“Apa Papa tidak rindu sama cucu Papa? Dinda, dia anak pintar. Dia juara di sekolah.”
Lelaki itu akhirnya mendongak. Ia menatap putrinya.
“Maafkan Papa, Mai. Tapi sekarang Papa sangat lelah. Tadi Papa sibuk di luar. Sekarang Papa mau istirahat. Kamu pulang saja, nanti Papa hubungi.”
Jauh dari harapan.
Hati Maia begitu teriris. Dicampakkan dan disepelekan. Dan sekarang ia tidak diinginkan. Apa lagi yang ia harapkan dari orang tua semata wayangnya?
“Papa, tolong aku sekali ini, Pa. Aku bercerai dengan tanggungan dua anak. Aku tidak tahu keberadaan ayah dari anakku. Dia melepas tanggung jawabnya. Sekarang aku juga dipecat dari pekerjaan.”
“Maia, kita bicarakan nanti. Sekarang kamu pulanglah,” jawab papanya datar, tanpa tanggapan berarti pada keluhan Maia.
“Tolong, Pa! Aku kesulitan. Mungkin sebentar lagi cucu Papa bakal kelaparan jika aku tidak segera dapat pekerjaan,” ucap Maia buru-buru saat melihat papanya hendak berbalik badan.
“Pa, sekali ini saja. Setelah itu aku janji aku nggak akan datang lagi. Aku nggak akan ganggu Papa dan keluarga baru Papa.”
Papanya menarik napas panjang. Maia tahu orang tua itu sangat jengah mendengar rentetan beban yang ia ungkapkan. Maia tahu itu, tetapi tetap bersikeras agar papanya punya sedikit empati padanya.
Akhirnya, papanya mengambil sejumlah uang dari tas yang tadi ia letakkan ketika rehat sepulang dari luar.
Uang itu disodorkan pada Maia.
Maia sendiri ragu menerima. Meski tidak ada yang menghitung jumlahnya, uang itu tampak tidak seberapa.
Setelah Maia mengambilnya, papanya pun berbalik dan melangkah pergi.
“Pa!”
Panggil Maia.
Namun, kali ini papanya seperti enggan lagi berurusan.
Sang putri merasa terusir dengan cara yang begitu sarkas.
Padahal, belum tuntas keinginannya pada sang papa. Masih ada yang ingin ia sampaikan.
Sejumlah uang itu bukanlah yang utama Maia inginkan dari papanya.
Maia butuh figurnya saat ini.
Namun, yang terjadi barusan menjadikan Maia seperti seorang pengemis.
Maia menghapus air mata. Menarik napas, mencoba tegar.
Ia berjanji ini tak akan terulang.
Maia teguh bahwa ia tak akan sengaja muncul di hadapan papanya. Ia tak akan lagi mencari atau menghubungi.
Bisa saja, kan, seseorang itu tidak memaafkan? Dan akan menuntut hingga akhirat.
Seperti Maia.
Karena hak sebagai anak perempuan yang tidak ia dapatkan, kebencian itu tidak padam, malah semakin membara.
Aku menyesal, Pa… Mengapa Papa membawaku ke dunia ini lalu memperlakukanku sangat buruk? Sungguh, aku tidak bisa memaafkanmu.
Dengan hati hancur, Maia melangkah pergi meninggalkan rumah itu.
Tak henti ia menarik napas panjang untuk mengurai sesak di dadanya.
---
Dalam perjalanan pulang, pikiran Maia teralihkan saat melintasi makam.