“Maafin gue ya, Mai. Selama ini gue udah jahat banget sama lo. Tingkah gue sudah pasti nyebelin banget.”
Maia hanya tersenyum menanggapi, meski hatinya membenarkan ucapan Nara.
Memang, kadang ucapan dan sindiran dulu kerap membuat Maia kesal. Kemarin entah mengapa Nara begitu ingin bertemu Maia.
“Gue benar-benar terhasut sama Lusi buat gangguin lo.”
“Lusi? Ada apa dengan Lusi?” Kening Maia mengerut mendengar sedikit fakta dari Nara.
Nara semakin duduk merapat ke Maia, seolah hal penting harus segera dibicarakan.
“Ada hal yang gue mau kasih tahu. Entah lo tahu apa nggak ya tentang si kunti betina itu.”
“Kunti betina, apa sih, Na?” Maia setengah terbahak mendengar julukan aneh yang ditujukan untuk seseorang dari Nara.
“Lo tahu nggak apa hubungan bapak dari anak lo dengan Lusi?”
Mendengar pertanyaan itu, tawa Maia seketika berhenti.
“Ada hubungan apa? Aku nggak tahu.” Maia menjadi lebih serius menanggapi.
“Saudara Lusi yang berselingkuh sama suami lo dan sampai tega tinggalin lo dan anak-anak lo.”
Maia membekap mulut, syok atas berita barusan. Tidak tahu harus berucap apa meski seolah ribuan pertanyaan tercipta.
“Lo nggak tahu kan, Mai, jika perselingkuhan mereka telah berlangsung lebih dari setahun.”
Maia menggeleng. Jika mereka mulai selingkuh lebih dari setahun lalu, tepat! Ayah dari anak-anaknya memang pergi ketika Maia mengandung Dylan.
“Apa Lusi tahu?” tanya Maia dengan suara serak, seperti suaranya tercekat di tenggorokan.
“Lusi tahu semuanya, tapi aku tahunya secara kebetulan. Aku lihat mereka cukup akrab. Mereka senang-senang.”
Maia meneteskan air mata. Betapa tega Lusi padanya. Tidakkah ia iba atas penderitaannya yang berjuang sendirian bagi anak-anaknya?
“Yang lebih bikin gue muak lagi, Lusi selalu saja menghasut orang-orang kantor buat benci sama lo. Tapi orang-orang kantor nggak begitu peduli karena mereka lihat lo tipe orang yang tenang, nggak banyak drama.”
Maia menarik napas panjang. Ia kembali mengingat ketika ia menahan malu hendak meminjam uang. Ia ingat perlakuan Lusi.
“Ia mendukung saudarinya mencuri suamiku, lalu bersifat begitu buruk padaku. Memang apa salahku padanya? Mengapa dia sampai sejahat itu?”
Kali ini napas Maia tersengal menahan emosi. Badannya bergetar.
“Mai, gue benar-benar mutusin gak mau lagi temenan sama dia, dan gue curiga dia andil dalam pemecatan lo.”
Perasaan Maia saat ini lebih dari amarah yang tidak ada arah untuk dia luapkan. Hatinya kian pedih.
“Mai, kalau kamu mau nyamperin suami kamu, aku bisa antar kamu ke tempat mereka tinggal.”
“Kamu tahu alamatnya?”
“Aku tahu. Aku pergoki mereka di sana. Lusi, suami kamu, dan perempuan itu. Aku paksa Lusi bicara semuanya, dan ternyata suami kamu dan perempuan itu hidup seatap tanpa pernikahan.”