Matanya merah karena amarah, marah yang tak mampu ia lampiaskan. Siapa pun yang melihat tahu bahwa ia tak terima atas perlakuan yang ia dapatkan.
Ia diseret oleh puluhan warga ke aula kompleks, dipaksa duduk di hadapan penghulu.
Rama tak kuasa melawan keinginan warga, begitupun wanita di sebelahnya. Ia terus menunduk menahan malu.
Maia membuka syal di lehernya dan melemparkannya ke hadapan Rama. Syal itu diraih seseorang, lalu dibentangkan ke kepala kedua mempelai.
Barulah Rama tahu keberadaan Maia.
Rama semakin naik pitam. Ia hendak beranjak, namun warga menahannya. Rama menatap tajam ke arah Maia. Kepalan tangannya makin kuat, wajahnya merah dipenuhi keringat.
Beberapa saat kemudian, setelah tekanan kuat dari warga, akhirnya Rama bersedia menikahi teman tinggalnya.
Suasana tenang saat Rama mengucap ikrar ijab kabul.
Di depan mata, Maia menyaksikan runtuhnya hubungan mereka, berakhirnya jalinan cinta kasih yang pernah ada.
Tanpa diminta, kenangan bersama Rama muncul ke permukaan di ingatan Maia. Meski tak lagi merindukan orangnya, tetapi kenangan, perasaan, dan versi dirinya yang ada di masa itu.
Ia tak mau lagi membendung air matanya. Istri mana yang tidak sakit hati melihat suaminya menikah di depan mata?
Nara mengusap bahu Maia, memberi dukungan. Begitu pula dengan ibu-ibu yang turut hadir di sana.
Maia menguatkan hati, lalu mengajak Nara untuk pulang. Maia masih menaruh harapan, ia bisa kehilangan suami, tapi semoga anak-anaknya tetap mendapatkan figur ayah. Semoga Rama kembali terbuka hatinya untuk anak-anaknya.
*
Telah dua pekan Maia dirumahkan, tak bekerja lagi pada perusahaan bukan berarti tak berdaya pada usaha lain.
Setelah pernah menarik komisi dari program afiliasi, Maia menjadi candu. Maia berusaha mengembangkan akun dengan kualitas video yang lebih baik serta jumlah postingan.
Waktu Maia yang lebih banyak berada di rumah membuat keadaan menjadi lebih tertata. Rumah rapi, bersih, dan wangi. Jadwal anak-anaknya, waktu makan, tidur, belajar, bahkan bermain, semua pada waktunya masing-masing.
Maia merasa ia memang lebih cocok berada di rumah. Maia, dia seorang ibu tipikal rajin.
Di hari hampir jelang sore itu, deringan maraton sudah terdengar dari tadi di ponselnya. Ia baru saja selesai membuat camilan untuk dinikmati sore-sore.
Notifikasi masuk adalah pesan bejibun yang diterima, serta notifikasi orang-orang yang belanja, checkout melalui link afiliasinya.
Maia terkejut. Mengapa tiba-tiba? Memang mulai pagi tadi ada beberapa pesan dukungan padanya. Maia bingung, tapi mengabaikan. Ia lebih sibuk edit video di laptopnya.
Dan sore ini, dengan banyaknya orang yang belanja, ia cukup senang. Artinya, ia akan segera menarik komisi lagi. Tapi pesan-pesan yang masuk itu berupa dukungan, menyuruhnya lebih sabar lagi, bahkan menanyakan kabar anak-anaknya.
Maia tidak sabar mencari tahu. Ya, tidak sulit menemukan penyebabnya. Nara si pelaku utama, ternyata membuat video saat penggerebekan mantan suaminya dan stitch akun Maia.
Videonya cukup menarik atensi masyarakat. Itulah sebabnya seramai itu dukungan untuknya dan plusnya banyak yang belanja melalui link-nya.
Maia entah senang atau malah kesal karena video itu.
*
Sementara di luar unit apartemennya, ada Nara dan Wisnu sedang adu pendapat. Mereka memang janjian hendak berkunjung ke apartemen Maia.