Maia menatap kaleng susu pemberian Wisnu. Jumlahnya cukup untuk menutupi kebutuhan susu bayinya hingga tiga bulan. Ia penuh syukur. Namun, di sisi lain, ada pedih menyusup ke relung hatinya. Ia mengingat ayah dari anaknya. Seharusnya kewajibannya yang membeli susu, tetapi justru orang lain yang menutupi.
Beribu kali ia ingin melupakan mantan suaminya, namun justru ia semakin tak sanggup. Ia bisa tanpa keberadaannya. Ia tak cinta, apalagi berharap secuil apa pun untuk dirinya dari mantan suaminya itu.
Yang ia harap, anak-anaknya suatu saat tetap mendapatkan figur ayahnya. Karena ia merasakan getirnya hidup tanpa sosok ayah.
Selain itu, mengapa tiap hari ia masih saja mengingat mantannya itu? Karena ada perasaan tidak adil dan disepelekan dengan tanggung jawab besar. Tiap hari Maia war dengan perasaan-perasaan itu.
"Mai, kenapa melamun?"
Tegur Nara sambil mengusap punggung tangan Maia. Hal itu membuyarkan lamunan Maia.
"Kamu pikirin apa, Mai?"
"Nggak. Aku mikir kamu hapus, gih, video yang kamu posting. Aku nggak mau nanti anak-anak aku lihat. Udah viral, loh."
"Maksud kamu video pelabrakan warga sama suami kamu sampai dinikahkan?"
Maia mengangguk.
"Nggak ah, biar saja. Biar mereka dihukum secara sosial."
"Video apa sih? Bisa aku lihat?" pinta Wisnu penasaran.
"Lagian nggak viral-viral amat, kok. Tuh, Wisnu aja belum lihat."
Nara memutar video dan memperlihatkannya pada Wisnu. Ia melihat semua adegan video dan menyimpulkan, sepakat bahwa videonya lebih baik dihapus.
"Benar, lebih baik videonya dihapus," ucap Wisnu.
"Bukannya karena video itu, lebih banyak yang belanja melalui link afiliasi kamu, Mai?"
"Benar sih, tapi nggak apa-apa, hapus saja. Putriku sudah mulai akses internet."
"Anak Maia tuh pintar. Kebayang, nggak, reaksinya lihat ayahnya diseret-seret?" bela Wisnu.
"Anak-anakku sudah lama sekali tidak bertemu ayah mereka. Kalau Dinda sampai lihat video itu, aku nggak siap dengan pertanyaan-pertanyaannya. Aku khawatir akan berpengaruh ke psikologisnya dan dampak berkelanjutan lain."
Telah paham, Nara mengangguk dan mengambil kembali ponselnya di atas meja, lalu menghapus video tersebut.
"Maaf ya, Mai. Aku nggak kepikiran sampai ke arah situ. Aku sudah hapus videonya."
Maia tersenyum menanggapi. Di antara yang rusak, hilang, yang pergi, dan rasa sakit, bukankah masih banyak hal yang perlu disyukuri?
Sahabat-sahabatnya yang datang dan tetap tinggal untuk menguatkan, sementara orang-orang yang dicintainya memilih pergi.
Kehidupan tidak pernah benar-benar membiarkannya kosong. Tuhan sering kali mengirimkan pengganti lewat cara yang tak terduga.