My Tantrum Mommy

Sukma Maddi
Chapter #23

Lunch

Siapa yang bisa tahu arah hidup ke depan seperti apa? Tidak ada yang bisa menebak situasi dan kondisinya akan bagaimana.

Namun, kita wajib menanamkan hal-hal baik, tuai karma baik di kemudian hari. Akan terasa sangat menyakitkan justru karena kita tahu, semesta sudah memberi kita kesempatan untuk memilih yang baik, namun kita mengabaikannya.

Wisnu menatap foto dalam layar ponselnya. Foto nampak buram karena tangkapan layar telah lebih dari 10 tahun lalu.

Foto itu adalah gambar dirinya dan Maia ketika mereka masih menjalin hubungan di lebih dari sepuluh tahun lalu.

Siapa yang menyangka, di hatinya masih ada penyesalan mendalam karena dirinya yang meninggalkan Maia, kemudian akhirnya Maia jatuh di tangan lelaki yang salah. Ia gagal melindungi Maia.

Hari ini akta cerai Maia keluar karena dia menjadi kuasa hukum Maia. Dia menjadi orang pertama yang memegang akta itu ketimbang Maia.

Perceraian yang diputuskan secara verstek, Rama tidak pernah hadir di persidangan dan Maia memenuhi semua bukti-bukti.

Maia telah resmi dengan status barunya. Wisnu menarik napas panjang. Di pikirannya, adakah kesempatan untuk dia kembali menjalin hubungan dengan Maia? Hubungan yang lebih dari sekadar teman. Meski ia percaya semua itu tidak mudah.

Ia pernah meninggalkan Maia. Jika ia meminta kembali hubungan itu, bisakah ia membuat Maia percaya lagi padanya? Belum lagi sisa-sisa trauma pada diri Maia karena kegagalan pernikahannya.



Di tempat berbeda, orang yang semalaman memenuhi pikiran Wisnu, bangun di awal pagi tanpa beban. Ia ibadah, berdoa, sampaikan rasa terima kasihnya pada Tuhan.

Ia bercengkerama dengan Tuhan, mengungkap isi hati, menerima takdir bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai amanah yang harus dituntaskan dengan ketulusan penuh. Keikhlasannya dalam merawat, mendidik, dan membesarkan kedua anaknya sendirian, kini mendapat hadiah manis.

Kehidupan yang dulunya penuh badai dan ketidakpastian, perlahan berubah menjadi ketenangan yang menyejukkan hati.

Karena ia percaya Allah punya miliaran pintu rezeki, miliaran kemudahan, miliaran jalan keluar. Kita hanya perlu untuk tidak putus asa pada rahmat-Nya.

Ia akan berusaha memenuhi kewajibannya sebagai hamba dengan sebaik-baiknya, penuh ikhlas. Dan percaya Allah akan memenuhi apa yang menjadi haknya. Setiap hal akan datang tepat pada waktunya.

Usai aktivitas pagi, di hari hampir siang, Maia lebih santai. Sebenarnya, dari semalam Maia hampir tidak sabar untuk menghubungi Wisnu dan Nara untuk mengabarkan perihal investasinya yang memberinya cuan fantastis.

Maia juga berniat mentraktir, mengajak makan sahabatnya. Setidaknya uangnya ada sekadar membalas sedikit kebaikan Wisnu dan Nara yang telah bersikap manis padanya.

Sambil senyum, Maia mengirim pesan pada Wisnu dan Nara. Bahwa ia baru saja ketiban rezeki dan berbagi bahagia.


Tawa Dinda dan Dylan terdengar ketika bermain. Maia juga tersenyum, sesekali menoleh melihat anaknya. Dinda menjalankan mobil-mobilan di depan adiknya, hal itulah yang membuat sang bayi kegirangan.

Tawa bayinya menjadi hiburan bagi Maia. Ibu dua anak itu sibuk di dapur. Ia memasak makanan banyak sekali. Ia menyeka peluh di dahinya. Ia lelah, tapi hatinya bahagia, hingga rasa lelah itu seolah tiada arti.

Lihat selengkapnya