“Ada apa, Wisnu?”
Maia meletakkan buah yang telah dipotong. Tidak ada candaan lagi dalam gestur Wisnu. Kemudian, Wisnu mengeluarkan amplop cokelat dari dalam sakunya dan menyodorkannya pada Maia.
Maia menerima, langsung membuka isi dan membaca isinya.
Ia membaca akta cerai. Air matanya jatuh. Pernikahannya telah sah berakhir. Wanita mana yang hatinya kuat jika istana yang dibangun bertahun-tahun harus runtuh dalam selembar kertas?
Maia menatap Wisnu, air mata masih tergenang. Tatapan itu seolah aduan tersirat perihal perasaannya saat ini.
Wisnu mendekat, mengusap pipi Maia, lalu perlahan membawa Maia dalam dekapannya.
Dekapan itu bentuk dukungan untuk Maia, menegaskan tanpa kata bahwa semua akan baik-baik saja.
Namun, di balik air mata, ada helaan napas yang panjang. Kali ini bukan napas keputusasaan, melainkan napas kelegaan.
Maia masih dalam dekapan Wisnu ketika Dinda berteriak memanggil Bunda. Gadis kecil itu berteriak mencarinya. Maia segera lepas dari pelukan Wisnu dan menghapus air matanya. Ia tidak ingin putrinya menyaksikan adegan itu dan akhirnya pikirannya akan penuh atas apa yang terjadi.
“Bunda, dari tadi handphone Bunda berdering terus.”
“Oh iya, Nak. HP Bunda memang di kamar. Terima kasih, ya.”
Nomor asing tertera pada layar ponselnya. Siapa gerangan?
Sebenarnya, Maia masih gugup ketika Dinda menghampiri. Wisnu juga salah tingkah. Tak banyak kata, Dinda mendatangi ibunya perihal HP, kemudian ia keluar. Mungkin gadis kecil itu terusik oleh deringan yang terus-menerus.
“Terima kasih, Wisnu.”
Wisnu mengangguk. Maia keluar, disusul Wisnu. Maia meletakkan buah, lalu ke balkon apartemennya untuk menjawab telepon.
10 menit lebih Maia nampak serius berbicara dengan seseorang via telepon itu. Nampak ia mengakhiri pembicaraan dengan senyum merekah di wajahnya.
Ia masuk. Rona gembira masih menghiasi wajahnya. Ia menghampiri Wisnu.
“Wisnu, aku baru saja dapat telepon dari orang di PH.”
“Production house, maksudmu.”
Maia mengangguk.