"Wisnu, kesepakatan telah tercapai dan kontraknya bernilai ratusan juta, belum lagi bonus performa jika memenuhi target tayang.
Maia menatap Wisnu. Ada hal yang sebenarnya ragu untuk ia ucapkan.
"Aku berpikir kamu harus mengambil bagian dari hasil kontrak kita hari ini."
Alis Wisnu terangkat. Ia menatap Maia.
"Maksud aku, sejumlah uang dari kontrak adaptasi film. Aku mau kamu ambil lima puluh persen, kita bagi."
Wisnu menggeleng cepat.
"Maia, dengar. Kalau kamu mau kasih aku bonus karena kerja keras kemarin, aku terima. Tapi lima puluh persen? Itu namanya merampok jerih payah kamu. Aku mau bonus makan malam saja, Mai."
"Aku utang budi sudah terlalu banyak sama kamu."
"Nggak ada utang di antara kita, Mai. Jangan merasa kayak gitu."
"Baiklah." Maia mengalah. Dalam hal ini, Maia tak mau bertentangan. Ia tahu watak Wisnu. Sekeras apa pun ia menyodorkan, Wisnu tidak akan menerimanya.
"Setelah ini kamu akan terus menulis, kan, Mai?"
Maia mengangguk.
"Kalau begitu, pakai uangnya untuk riset tulisan kamu selanjutnya."
"Riset tidak semahal itu, Wisnu."
Wisnu kehabisan kata. Ia agak khawatir jika Maia jadi tidak nyaman karena menolak sejumlah uang itu.
"Oh ya, Mai, boleh aku tanya."
"Boleh. Ada apa?"
Wisnu mencoba mencairkan suasana.
"Kalau kamu punya uang banyak, apa yang mau kamu wujudkan?"
Maia senyum sejenak. Ia nampak berpikir.
"Aku mau rumah yang dapurnya luas, mempunyai taman dan tanaman atau halaman luas, agar anak-anakku leluasa bermain. Aku mau rumah yang punya banyak bukaan jendela agar tidak pengap seperti di apartemenku."
Maia menyipitkan mata. Bagaimana jika pertanyaan sama, apa jawaban Wisnu? Ia tak tahan dengan rasa penasarannya.